Dad’s Hopes

Dad's Hope
Luna Park Sunyoung | Leeteuk Park Joongsoo
plot©Shinstarkey | characters. they belong to god and themselves
Oneshot|Family|G|Indonesia

(Support Song ‘Sorry(Dear daddy)  – f(x))

.

.

“Luna… Mau sampai kapan kau main terus? Sekarang waktumu belajar!!” Sahut seorang laki-laki dengan wajah lelahnya ke arah seorang gadis yang masih sibuk dengan kegiatannya sendiri.

Luna melirik sinis pada sang Ayah, Leeteuk. Ia mengendus layaknya seorang naga yang sedang beremosi tinggi.
“Luna sudah belajar, Ayah.. ” Jawab luna asal sambil meneruskan kegiatannya memainkan ponsel di tangannya.

Leeteuk menggelengkan kepalanya pelan dan menghampiri putrinya. Ia mengambil ponsel di tangan putrinya. Membuat Luna semakin kesal dengan sang ayah.

“Mengapa ayah mengambil ponsel Luna? Kembalikan!!” Pinta luna namun dengan suara yang meninggi. Sang ayah hanya diam sambil memasukan ponsel luna ke dalam kantongnya.

“AYAH!! KEMBALIKAN PONSEL LUNA!!!” Teriak luna kearah ayahnya. Leeteuk menatap putrinya tajam walau sesungguhnya ia tak ingin melakukan ini, ini demi masa depan putrinya.

“Belajar atau tidur?! Tidak ada ponsel kalau kau memang tidak mau belajar.. Mengerti? Ayah akan berikan ponsel ini besok pagi” sahut Leeteuk dingin kearah Luna, lalu ia melangkah meninggalkan kamar Luna.

Luna yang sangat emosi kini melempar barang-barangnya kearah pintu kamarnya dimana ayahnya baru saja keluar dari kamarnya itu.

“Shit!! Ayah menyebalkan!!! Ayah jahat!!!” Teriak luna emosi.

‘Damn! Kau tahu krystal! Ayahku sangatlah menyebalkan!! Aku baru saja pulang sekolah dan ia sudah menyuruh-nyuruhku’

‘Maaf baru membalas sms-mu krystal.. Ck shit!! Aku harus mengurusi ayahku yang tua itu. Aku selalu saja disuruh belajar..belajar…belajar… Apa dia tidak memberikanku waktu untuk bermain sebentar saja. Sial!!!’

‘F*ck! Ulangan matematikaku dapat nilai 0.. Jangan sampai Ayahku melihatnya.. Yang ada ia akan berceramah sepanjang hari.shit’

Leeteuk menarik nafas dalam saat membaca semua pesan singkat Luna pada salah satu sahabatnya, Krystal di ponsel milik putrinya itu. Luna memang selalu bercerita tentang harinya pada krystal melalui ponselnya.

Leeteuk memang tahu bahwa putri satu-satunya itu membenci dirinya. Terlihat dari bagaimana anak itu tidak pernah sopan dengan ayahnya, tidak pernah patuh. Namun Leeteuk sebagai ayahnya akan selalu mengarahkan luna kepada hal yang baik walau sang anak membencinya.

“Ini ponselmu Luna…”

Luna menatap sang ayah yang kini meletakan ponsel di meja makan dengan tatapan sinis namun sang ayah masih tetap tersenyum.

Luna meraih ponselnya singkat dan segera pergi meninggalkan ayahnya dan makanan yang sudah di siapkan oleh ayahnya. Luna memang tak pernah mau memakan sarapan yang di buat ayahnya Sejak sang ibu meninggalkan mereka secara tiba-tiba tanpa sebab apapun yang luna ketahui. Dan Luna selalu saja menganggap menghilangnya sang ibu di karenakan ayahnya.

“Pagi leeteuk…” Sapa salah satu teman leeteuk seprofesinya. Leeteuk membalasnya dengan anggukan serta senyuman.

“Kita haru bekerja ekstra hari ini… Banyak surat yang harus dii antarkan..” Sahut Sungmin, teman leeteuk.

“Ah, benarkah? Semoga saja kalau seperti ini bos akan menambahkan gaji kita..aku akan membelikan luna sepatu yang baru.. Aku lihat sepatunya sudah rusak” Leeteuk mengambil bertumpuk-tumpuk ikatan surat dan di taruh di motornya.

Inilah pekerjaan leeteuk sehari-hari. Menjadi pengantar surat untuk memenuhi kehidupan dirinya dan putrinya, Luna. Leeteuk sudah sangat bersyukur walau dengan pekerjaan yang tidak terlalu tinggi ini kehidupannya masih berjalan dengan indah.

“Ya!!! Kau itu serius sekolah atau tidak??! Mengapa ulanganmu selalu saja ‘nol’!! Kau itu pernah belajar tidak di rumah?!” Gertak seorang guru muda yang kini duduk di kursinya. Bu Yoona, selaku walikelas Luna.

Luna tidak menghiraukan gurunya sama sekali. Dengan asik ia mengunyah permen karetnya dan mengalihkan pandangannya dari sosok yang di anggapnya sampah itu.

“Ya!! Luna!! Kau mendengar apa yang ibu bilang? Kalau terus-terusan seperti ini kau tidak akan naik kelas!! Kau akan selalu ketinggalan…” Ucap bu Yoona lagi dengan tegas.

Luna kini menatap gurunya dengan tatapan bosan. “Terserah apa kata ibu” sahut Luna dengan lantang. Yoona menarik nafasnya menahan emosinya untuk menghadapi anak didiknya itu.

“Besok, ayahmu harus datang ke sekolah… Kau sampaikan ini padanya..sudah sana kau kembali ke kelas” Sahut Yoona dan kini mengalihkan pandangannya pada muridnya yang sudah membuat tekanan darahnya naik. Luna dengan santainya segera meninggalakan ruang guru tersebut.

“Luna harus diberi penanganan lebih, pak. Ia tak mungkin terus menerus seperti ini. Ia akan tertinggal kelas…”

Leeteuk menatap kertas-kertas hasil ulangan Luna sambil mendengarkan walikelas putrinya itu berbicara.

“Saya tahu, luna tidak suka mencontek… Ia tidak pernah mendapat nilai bagus karena hasil mencontek.. Tai karena ia tidak pernah belajar.. Ia selalu saja mendapatkan nilai terkecil..” Jelas bu Yoona panjang lebar.

“Baiklah, nanti saya akan menasihatinya…” Ucap leeteuk singkat. Karena hatinya kini penuh kekecewaan.

‘Brak!’

Leeteuk membanting kertas-kertas yang ia genggam ke meja belajar Luna. Kertas semua hasil ulangan Luna.

“Ada apa?” Tanya luna santai sambil melepas earphone yang ia kenakan tadi.

“Lihat semua nilai-nilai mu!!!” Bentak leeteuk dengan emosi. Ia tidak pernah mau anaknya menjadi seperti ini. Anaknya menjadi anak yang rusak dan tidak berpendidikan.

“Aku sudah melihatnya..” Jawab luna acuh.

“KAU!!! MAU JADI APA KAU NANTI??!!! GELANDANGAN??? ORANG MINTA-MINTA??” Amarah leeteuk sudah mulai meningkat, tidak habis fikir dengan kelakuan anaknya yang seperti itu.

“Sudah ayah bilang luna!! Kau harus belajar!!! Ayah tahu kau cerdas… Ayah tau kau mampu… ”

Luna memutar bola matanya dan kini menatap sang ayah tajam.”Ayah puas terus memarahiku?? Ayah puas terus saja menyuruh-nyuruhku… Menyuruhku menghabiskan kegiatanku dengan kegiatan tak berguana itu??!”

‘Plak’

Tampa sadar leeteuk menampar putrinya. Luna memang sudah sangat keterlaluan.
Luna menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya, gejolak amarah semakin menguasainya. ia rasa ia sudah cukup lelah menghadapi sang ayah yang terus menerus menuntut dirinya.

“CUKUP!! Luna sudah muak dengan ayah… Ayah selalu saja menuntut luna… Menyuruh luna menjadi anak yang pintar.. Lantas kalau luna memang tidak pintar di sekolah apa yang harus luna lakukan?? Ayah tidak mengerti kehidupan Luna!!! Luna sudah besar! Mengapa ayah masih terus mengganggu kehidupan Luna!!! Luna tak butuh Ayah!! Ayah kan yang sudah membuat ibu pergi!! Ayah yang sudah jahat pada ibu!! Dan ayah ingin melakukan hal yang sama pada luna? Ya kan?!!”

“LUNA!!!” Bentak leeteuk penuh amarah.

“APA?? AYAH INGIN MENAMPAR LUNA LAGI???!!! Ayo tampar Luna sampai ayah puas!!!” Luna tak mau kelah dengan bentakan dari sang ayah.

Leeteuk meredam amarahnya mencoba tenang walau emosi semakin melonjak pada dirinya. “BAIKLAH!! Ayah tidak akan menganggumu lagi kalau kau buktikan pada ayah kau mampu mendapat nilai bagus di sekolah… Setelah itu ayah janji tidak akan mengganggumu lagi seumur hidup ayah..” Ucap Leeteuk dan kini pergi meninggalakan kamar Luna.

“Baiklah.. Akan Luna buktikan!” Jawab Luna walau ayahnya sudah semakin menjauh.

Semakin hari putrinya semakin menjauhi Leeteuk. Perlahan tidak ada komunikasi lagi antaran mereka. Leeteuk mengerti Luna memang sedang marah padanya. Dan Leeteuk yakin Luna tidak serius dengan perkataannya untuk menjauh darinya.

Leeteuk mulai melihat perubahan pada Luna. Dimana ketika malah ia selalu membuka bukunya terlebih dahulu. Mengerjakan pr atau sekedar membacanya saja. Itu cukup membuat leeteuk bangga dengan putrinya.

Luna P.O.V

Entah apa yang membuat diriku berubah. Yang tadinya seorang anak yang malas kini berubah menjadi anak yang rajin.

Awalnya ini karena niatku karena tawaran ayah agar ia tidak menggangguku lagi, tapi sekarang bukan karena hal itu lagi yang membuatku tergerak untuk belajar. ayah memang benar. Menjadi anak yang rajin bukan hal yang buruk,bahkan aku lebih memiliki banyak teman di bandingkan dulu.

Aku sadar aku memang salah telah membentak ayah seperti itu. Ayah maaf kan Luna….
Luna akan buktikan pada ayah bahwa Luna bisa menjadi anak yang dapat membanggakan Ayah..

Luna akan membuktikan kalau Luna bisa pada ulangan Luna besok… Luna janji tidak akan dapat nilai jelek lagi.

“Selamat Luna.. Nilai ulangan matematikamu 95 .. Ibu lihat kau banyak perubahan… Kau semakin rajin.. Tingkatkan prestasimu ya..” Kata bu seohyun, guru matematika-ku sambil memberikan hasil ulangan milikku.

Aku menganggukan kepalaku dan tersenyum. “Ini semua karena ayahku bu..” sahutku dan kemudiam kembali ke tempat dudukku di kelas.

Ah, aku tidak sabar memberitahu ayah tentang nilaiku ini. Dan aku kan minta maaf pada ayah soal kejadian waktu itu yang membuatku dan ayah tidak ada komunikasi sama sekali.

Luna P.O.V end.

“Ini gajimu, lengkap dengan bonus karena kau sangat rajin bekerja…” Kata bos Leeteuk yang bertubuh besar itu. Dengan ceria Leeteuk menerima amplop yang di beri bos nya.

“Terimakasih pak Shindong” ucapnya sambil membungkukan badannya 90 derajat.

“Baiklah… Kau boleh pulang sekarang…”

Leeteuk memasuki toko perhiasan dengan yakinnya sambil membawa amplop gaji yang ia genggam sendari tadi.

Leeteuk berencana untuk memberika Luna sebuah kalung sebagai tanda bahwa ia menyayangi Luna, bahwa ia bangga dengan perubahan Luna saat ini.

‘LUNA’
Sebuah ukiran nama yang terdapat di liontin kalung yang leeteuk genggam. Leeteuk mengembangkan senyumnya. Tidak sabar menunggu ketika Luna melihat apa yang ia beri pada putrinya itu. “Luna pasti menyukai ini..” Gumam leeteuk dan ia segera meletakan kalung itu di sakunya dan menuju untuk pulang.

Luna melangkahkan kakinya di trotoar untuk menuju ke rumahnya. Wajahnya terlihat gembira. Ia telah memperoleh hasil yang mungkin dapat membanggakan ayahnya itu. Hasil ulangan yang Luna peroleh sendiri dengan belajar rajin setiap hari.

Tiba-tiba Luna menghentikan langkahnya ketika di lihatnya sosok yang tidak asing baginya. Dengan baju mewah dan riasan wajah indah membawa kesan berbeda pada orang yang Luna kenal itu, walau seperti itu Luna tetap yakin dengan orang itu

“ibu” gumam Luna dan segera berlari menghampiri sosok yang ia rindukan selama ini. Yang meninggalkan dirinya tanpa sebab.

Luna memeluk taeyeon, sang ibu tiba-tiba, membuat taeyeon tersentak kaget melihat Luna yang ada di hadapannya sekarang.

“Luna?” Ucap taeyeon pelan dengan wajah kagetnya. Namun luna masih bisa mendengar suara sang ibu yang mengenali dirinya.

“Ibu kemana saja? Luna merindukan ibu… Mengapa ibu tidak pernah pulang… Mengapa ibu meninggalkan Luna tanpa sebab??” Kata Luna panjang lebar. Taeyeon sedikit menitihkan airmatanya namun tidak menjawab apa-apa.

“Mama itu siapa?” Suara itu merusak suasana mengharukan antara Luna dan ibu nya membuat Luna menoleh ke arah seorang anak laki-laki berumur 10 tahun yang sedang di gandeng oleh taeyeon, ibu Luna.

“Mama?” Ucap luna pelan sambil menatap anak itu dan kemudian menatap sang ibu dengan wajah bertanya.

Taeyeon mengalihakan pandangannya dari Luna. Dan menjauhkan diri dari Luna. “Mama tidak mengenal orang ini… Mungkin ia hanya seseorang peminta-minta..” Ucap taeyeon pada anak yang ia gandeng sambil memberikan selembar uang pada luna dan berjalan pergi.

‘Deg’

Peminta-minta? Luna tidak menyangka dengan apa yang di katakan ibunya itu. Luna yakin sang ibu mengenalinya tapi mengapa ia menganggapnya peminta-minta?Dan anak yang di gandeng oleh ibunya itu?. Itu benar-benar anak ibunya? Sang ibu meninggalkan Luna dan ayahnya demi menikah dengan orang lain dan memiliki anak lain.

Miris. Luna telah salah mengartikan selama ini. Ia telah menganggap bahwa sang ayahlah yang membuat ibunya pergi namun ia baru tahu bahwa kini sang ibu yang berkhianat pada dirinya dan ayahnya. Kini bertapa luna membenci ibunya yang identitasnya kini sudah terbongkar.

Luna mengerang kesal, ia mengingat bagaimana ia membentak ayahnya menyalahkan ayahnya karena hilangnya sang ibu yang ternyata mengkhianatinya.
Luna berlari kencang ke arah rumahnya berharap ia segera bertemu ayahnya dan meminta maaf atas semua kesalahannya itu.

‘Diirrrt…drrrttt’

Ponsel Luna serasa bergetar di saku rok nya itu, membuat Luna berhenti berlari dan merogoh ponsel di sakunya. Ia segera mengangkat ponselnya itu.

“Luna… Ayahmu..kecelakaan…”

‘Deg’

Luna tak berhenti menangis saat berlalri menelusuri lorong rumah sakit itu. Mengapa semua kejadian pahit harus ia rasakan pada saat yang bersamaan. Baru saja Luna di kejutkan dengan sang ibu dan sekarang Luna sudah mendapati kabar ayahnya yang mengalami kecelakaan.

Luna berhenti melangkah ketika ia melihat Jonghyun, tetangganya yang berdiri tepat di depan pintu diamana ayahnya di rawat.

“Jong.. Ayahku bagaimana?” Tanya luna dengan suara bergetar akibat tangis yang hebat.

Jonghyun hanya diam tidak mengatakan apa-apa.
Luna melangkah mendekati pintu kamar yang ia rasa tempat dimana ayahnya terbaring disana. Luna mulai membuka pintunya perlahan.

Tangis..

Benar-benar tangis yang terdengar…
Luna serasa tidak kuat lagi untuk melangkah.

“Bohong!! Ayahku tidak boleh mati!!!” Ucap Luna histeris. Semua orang yang ada di dalam sana, tetangga, kerabat baik ayahnya, teman kerja ayahnya kini mendekat kearah Luna. Mengusap kepala gadis itu walau mereka juga merasa terpukul tentang ini.

“Ayahmu tertabrak mobil yang sedang melaju kencang ketika ia pulang dari tempat kerjanya… ” Suara Jonghyun terdengar parau. Sambil mendekap Luna erat. Mereka memang sudah mengenal baik seperti saudara.

“Tidak mungkin!!! Itu bukan ayahku.. Ayahku belum meninggal… ” Ritih Luna sambil mendekat pada sosok laki-laki yang mempunyai senyum yang manis itu.

Leeteuk.. Terbaring tanpa nyawa disana. Dengan luka cukup parah di sekujur tubuhnya.

“Ayaaah..mengapa ayah Meninggalkan Luna? Luna sudah berubah ayah… Luna sudah berubah menjadi anak yang rajin seperti yang ayah bilang…”

Luna dengan tergesah-gesah mengeluarkan selembar kertas yang ada di tasnya.
“Lihat.. Luna dapat nilai bagus! Luna tidak dapat nilai jelek lagi ayah… Ayah pasti bangga pada Luna kan?.. Ayah jawab!!!” Luna menghentak-hentakan tubuh ayahnya namun tetap saja, mustahil.

“Ayah.. Maafkan Luna.. Luna sayang ayah… Luna tidak bermaksud untuk membenci ayah.. Luna tidak ingin ayah menjauh dari Luna… Ayah Luna mohon….”

“Ayah.. Luna tidak punya keluarga selain ayah… Luna sudah tahu kejahatan ibu.. Ibu pergi bukan karena ayah… Maafkan Luna sudah menuduh ayah…”
Ucap Luna tiada henti. Luna masih belum bisa percaya keadaan ini.

“Luna.. Sudah.. Relakan ayahmu…” Sungmin, sahabat ayahnya mengusap lembut bahu Luna.

“Ini semua salah Luna… Ini semua karena Luna..” Tangis luna semakin menjadi-jadi ketika di peluknya tubuh kaku yang terbaring di depannya.

Luna P.O.V

Shock.

Itu masih aku rasakan. Belum bisa aku menerima semua ini. Kepergian ayah sunggung membuat hidupku tidak ada artinya sama sekali.

Tak terasa upacara kematian ayah sudah berjalan. Tidak ada sosok ayah di dekatku, tidak ada sosok yang selalu menasihatiku, tidak ada sosok yang selelu memperhatikanku.

Aku genggam kalung yang berukiran namaku yang di temukan di kantong baju ayah. Kalung yang ayah belikan untukku sebelum ia meninggal.

Airmata masih saja berlinang…

Ayah… Semoga senyum-mu masih terus mengembang disana…

Aku tahu.. Kau sangat menyayangiku…
Terimakasih ayah…
END

___

MAAF BANYAK TYPO…

tapi.. kalo udah baca wajib komen yah ^^ thanks

Iklan

14 pemikiran pada “Dad’s Hopes

  1. sebenernya udah ngerasa jalan ceritanya begini. tapi…. tapi…. tetep aja bikin nangis. huwaaa… T.T
    sukaa…… sukaa……. kekeke

  2. min.. air mata ku udah diujung tanduk!!! , gila makasih bgt atas ceritanya , aku jd lebih sayang sama ayahku… Gamsahamnida.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s