Physics Tutor

Physics Tutor
Baekhyun/YOU
plot©Shinstarkey | characters. they belong to god and themselves
Oneshot|Romance|PG|Indonesia

 

“cerita ini memang mungkin sudah menjadi cerita percintaan biasa.. namun alasan saya membuat FF ini karena ff ini terinspirasi dari guru di tempat bimbel wakakak anak terpinter dari sekolah terpinter pula. kalau begitu yang mau baca-baca aja.. tapi janji respon yah, kasih Comment ^^ “

NOT FOR SILENT READER

Tak….tak….tak…tak…..

Aku menghentakkan bolpointku terus menerus karena rasa bosan mulai menghantui. Akibat lelah di sekolah dan harus bimbingan belajar lagi itu membuat mood ku hilang. Dan….. Apa ini? Fisika? Uh, aku lelah untuk berfikir lagi. Sudah seharian aku menjalankan ulangan-ulangan di sekolah. Rasanya aku ingin menghentikan semua ini.“Ya! Kau! Yang di belakang!!” Suaran yang terdengar menggelegar karena ruangan sempit ini begitu hening membuat suara itu seperti suara ghoib yang entah datang dari mana. Namun aku tahu, itu…… Si tutor fisika menyebalkan yang kini menatapku tajam dari arah depan, Begitu juga orang-orang di tempat bimbingan belajarku yang duduk di jejeran depan.

“Hentikan kegiatanmu menghentak-hentakan alat tulismu itu…. Kau membuat yang lain tidak konsentrasi…” Sahut laki-laki yang sebenarnya tidak terlalu tinggi namun akibat tubuhnya yang kurus ia terlihat lebih tinggi dari aslinya.

Ah ya bisa aku jelaskan, dia….. Baekhyun, tutor fisika di tempat bimbimngan belajarku. Umurnya masih terlalu muda untuk menjadi tutor di tempat ini. Kenapa? Karena ia hanya 2 tahun di atasku, ia baru saja lulus SMA dan…… Sudah mengajar, Di bandingkan dengan tutor yang lain yang sudah menjalankan kuliah beberapa tahun baru bisa mengajar di bimbingan belajar ini. Ya…ya pasti ada alasannya mengapa ia bisa mengajar di umurnya yang masih muda itu. Ia adalah murid terpandai se-angkatan di sekolahnya yang nyatanya adalah sekolah anak-anak terpandai di seoul. Bayangkan saja dia rangking 1 dari sekian banyak anak genius di sekolah itu.

Dari awal bertemu aku sudah merasa bahwa aku tidak menyukainya. Dia terlalu menyombongkan diri dengan apa yang ia punya, setiap mengajar ia selalu bercerita tentang kemampuannya itu. BASI. Aku yakin semua orang di sini juga sudah tahu akan semua kemampuannya itu. Tapi aku heran dengan orang-orang disini. Mengapa semuanya sangat mengagumi kak baekhyun itu? Huh? Menurutku ia tak se perfect itu.

Aku memutar bola mataku. Berhenti melakukan kegiatanku yang di anggap mengganggu konsentrasi dari beberapa anak genius di depanku itu, termasuk tutor pamer yang menatapku tajam.

“Lebih baik aku keluar saja…..” Sahutku yang kini berdiri dari kursi belajar itu dan keluar dari kelas sempit itu.

“Silahkan…” Sahut ‘kak’ baekhyun sinis. Sesungguhnya aku tak rela memanggilnya dengan sebutan kak.

50
Ayahku menatap pada sebuah kertas yang ia genggam, kertas ulanganku dengan tulisan ’50’ berwarna merah yang cukup besar. Ulangan fisikakuu huft.

“Mengapa kau bisa mendapat nilai seperti ini?” Ayahku mulai angkat bicara. Aku menggelengkan kepala, sebenarnya tidak terlalu perduli.

“Kau tidak pernah belajar?” Tanya ayaku lagi dan menatapku bingung.

“Aku tidak pernah mengerti fisika yang di ajarkan guruku disekolah…” Jawabku.

“Bukankah kau bisa bertanya pada guru bimbingan belajarmu?”
Ah ya aku lupa akan sesuatu, aku ini mengikuti bimbingan belajar. Tapi aku tidak menganggap itu. Aku tidak pernah mengikuti apa-apa di bimbingan belajarku(hanya pelajaran fisika).

“Aku selalu keluar pada pelajaran fisika… Karena aku tidak suka gurunya” sahutku terus terang pada ayah. Ayahku bukanlah tipe ayah yang pemarah ia selalu menerima apa yang aku katakan dan ia yang selalu mencari solusi untukku.

“Biar ayah bicarakan pada pihak bimbingan belajarmu… Kau mau guru itu di ganti?” Tanya ayahku tegas.

Dengan yakinnya aku menganggukan kepalaku dan tersenyum pada ayah.

Laki-laki di depanku itu menghela nafas berkali-kali. Suasana diam masih hadir di sekitar kami. “Jadi….. Apa? Jangan terlalu lama berbicara kak baekhyun…” Sahutku datar pada laki-laki di depanku.

“Aku hanya ingin mengatakan maaf. Entah apa yang telah aku lakukan padamu sampai-sampai aku mendapat teguran dari pihak bimbel ini karena ayahmu bilang kau tidak suka caraku mengajar…” Ekspresi dari kak baekhyun juga terlihat datar seperti biasanya tidak ada wajah menyesal atau apapun yang sesuai dengan kata-kata maaf nya itu.

“Tapi. Tetap saja aku akan tetap mengajar disini… Terserah kau saja kalau kau tidak mau aku mengajarmu kau bisa cari kelas dan hari lain.. Permisi…”
Kak baekhyun berjalan meninggalkanku dengan seenaknya menerobos bahuku.
Aisssh!! Dia membuat bahuku sakit. Dia itu laki-laki tentu tenaganya sangat kuat. Mengapa ia dengan sengaja menyenggol bahu perempuan tanpa rasa bersalah apapun? Dasar aneh!!!

“Kau dan kak baekhyun sedang apa tadi? Jangan bilang kau mempunyai hubungan yang spesial dengannya? Aiissh bikin iri!!!” Sulli yang duduknya tepat bersebelahan denganku ini kini bertanya panjang lebar padaku. Dia temanku di bimbel ini.

“Ch.. Menjijikan… Melihat wajah baekhyun aja aku ingin muntah…. Sudah tak usah di bahas… Tadi hanya masalah baekhyun dengan ayahku….” Jawabku acuh sambil fokus menatap tutor matematika yang telah bersemangat mengajar di depan.

“Kau itu gadis yang sangat aneh tahu! Hanya kau yang tidak menyukai kak baekhyun disini…” Ucap sulli sambil memandangku dengan tatapan aneh.

“Bukankah hak setiap orang untuk menyukai atau tidak menyukai.. Bila aku. tidak suka itu hak ku…” Aku mulai fokus lagi pada kegiatanku mencatat semua pekerjaan matematika yang di tulis tutor matematika. ” Sudah tak usah bahas baekhyun menjijikan itu…. Lagian apa bagusnya dia? Selalu di banggakan semua perempuan…. Berlebihan”

Sulli akhirnya tidak mengeluarkan suaranya lagi namun aku dapat mendengar semua gumaman darinya. Baiklah dia pasti kesal akan kata-kataku tentang baekhyun itu.

Langit-langit kini sudah menunjukan. Sisi gelapnya pada jam 3 sore seperti ini, langit sudah memberi pertanda akan hadirnya jutaan air dari lagit yang akan membasahi kota.
Huft… Kalau begini aku harus segera pulang. Aku baru saja selesai dari kegiatan bimbingan belajarku itu, dan kini bergegas menuju rumah, berusaha menghindari hujan yang kapan saja bisa muncul.

Aku mempercepat langkahku menyusuri jalan kecil menuju ke jalan utama dimana halte bus berada. Aku memang sudah terbiasa untuk memakai transportasi umum di banding menggunakan mobil atau motor pribadi yang tentu lebih banyak memakan biaya.

Byuuuuurrrr

Kini tanpa aba-aba apapun hujan turun dengan derasnya, lebih deras dari yangku kira sebelum nya. Aissh! Tubuhku habis terguyur oleh air-air langit itu. Seragamku, rambutku sudah basah. Degan sigap aku berlari ke arah pohon besar yang sekiranya bisa menjadi tempatku berteduh.
Halte bus yang menjadi tujuanku masih jauh dan mau tidak mau aku harus menunggu di bawah pohon ini dengan baju yang basah dan hawa dingin yang menusuk kulitku.

Apa aku harus meminta ayah untuk menjemputku? Fikirku sejenak sambil menatap hujan yang tidak mungkin akan berhenti saat ini juga.
Ah, tidak! Ayah sedang sibuk bekerja…
Biar aku menunggu disini.

Tinn tinn…

Mobil sedan berwarna silver kini terparkir tepat di depanku dengan kelakson yang terus berbunyi.
Aku tidak tahu mobil siapa itu, yang jelas itu bukan mobila ayahku. Karena tidak tahu apa-apa aku mengacuhkan mobil silver itu dan kembali fokus pada keadaan sekitar.

Pintu mobil itu tiba-tiba terbuka dan payung berwarna putih mengembang di depannya di susul seorang laki-laki yang keluar dari pintu itu.

“baekhyun?!” Gumamku heran sambil menatap laki-laki yang kini berlari membawa payungnya kearahku..
“Kau.. Tidak mengerti maksud baik orang ya? Kau malah mengacuhkan.” Ucap baekhyun itu kearahku.
Ck. Apa maksud orang ini?
“Hah? Maksudmu apa?” Tanyaku lantang.
Baekhyun memutar bolamatanya dan menoleh pada mobil sedannya. “Masuklah kedalam mobil, akanku antar pulang… Hujannya sangat deras..” Katanya pelan sambil menatapku dengan wajahnya yang selalu saja datar.
Aku terheran-heran mendengar kata-katanya itu. Yang benar saja? Ia mengajaku untuk pulang bersamanya, uh? Tidak masuk di akal. Setauku dia adalah tutor yang tidak peka sama sekali.
“Tidak… Aku akan menunggu sampai hujan reda dan habis itu aku mulai berjalan lagi menuju halte bus…” Aku membuang tatapanku dari baekhyun dan menerawang hujan yang sepertinya sulit untuk berhenti.

“Baiklah.. Aku hanya menawarkanmu.. Kalau tidak mau juga tidak ada masalah bagiku.. Aku hanya kasihan melihat gadis yang berdiri di pinggir jalan menunggu hujan reda sedangkan teman-teman satu tempat bimbel nya sudah kembali ke rumah dengan mobil pribadi mereka masing-masing.” Ucap laki-laki di hadapanku itu sambil mengangkat bahunya dan kemudian mulai melangkah meninggalkanku.

Uh? Tinggal aku yang belum pulang? Ah benar! Tempat bimbelku itu di penuhi oleh anak-anak elit yang nyatanya mereka mempunyai mobil pribadi dan supir masing-masing. Bisa di bilang hanya aku yang menggunakan transportasi umum.

Hujan masih dengan senang hati mengguyur bumi, jika aku menunggu entah sampai kapan aku bisa pulang. Dan bajuku yang basah ini? Aku bisa sakit hanya karena ini. Pada akhirnya aku menghilangkan semua rasa gengsi atau maluku terhadap baekhyun yang langkahnya belum jauh dari depanku.. Biarkan saja aku menumpang pada laki-laki menyebalkan itu, mungkin otaknya lagi error sehingga mau menawarkan kebaikan padaku.

“Ya!!! Kak baekhyun!! Aku ikut denganmu!!!” Ucapku dengan nada yang sedikit tinggi untuk mengalahkan suara hujan yang deras. Baekhyun membalikan tubuhnya kearahku, berjalan mendekatiku menggerakkan payungnya agar berada tepat di atas kepalaku juga. Dan kemudian dia membawaku masuk ke mobilnya.

Alunan lagu music classic mengalun lembut mengalahkan suara hujan di luar sana. Aku hanya diam terpaku di mobil itu sambil sesekali memandang jalanan yang basah karena hujan. Memang terasa sangat canggung disini, berbeda ketika saat di ruangan bimbel itu, aku dan kak baekhyun selalu saja bertengkar. Entah kenapa aku sedang tidak ingin mengeluarkan kebencianku pada laki-laki yang sedang menyetir di sebelahku ini. Mungkin karena saat ini ia telah baik padaku.
Aku tidak berbicara apapun dengannya selain menunjukan dimana rumahku berada. Ia juga tak berbicara apa-apa selain menanyakan itu. Memang kami tidak ada kecocokan. Tidak ada topik pembicaraan, uh.

“Sudah sampai… Kau bisa memakai payungku untuk turun..” Ucap baekhyun sambil meraih payung yang ada di kursi belakang.
“Tidak usah… Aku bisa menggunakan jaketku… Hanya tinggal lari sedikit menuju rumah…” Aku mengibaskan tanganku menolak payung darinya. Ia hanya diam dan mengangguk.
“Baiklah… Terimakasih… ” Aku menundukan kepalaku dan tersenyum. Untuk pertama kalinya aku tersenyum pada baekhyun.
Aku segera keluar dari mobilnya dan berlari menuju pager rumahku sebelum hujan tambah membuat tubuhku menggigil kedinginan.

“Ayah….. Khusus pelajaran fisika aku ingin guru tambahan saja….. guru di tempatku bimbingan belajar tetap saja seperti itu… Kalau terus saja seperti ini nilai fisika ku tetap saja jelek!” Rengekku pada Ayah.

Ayahku menghela nafasnya dengan kesan wibawa nya. “Baiklah… Tapi setelah ayah panggilkan guru tambahan untuk private di rumah, jangan mengeluh lagi, oke?”

Aku menganggukan kepalaku pada ayah dan memeluknya. Ini semua karena baekhyun! Aku jadi harus merengek lagi pada ayah.


“Baiklah buka modul fisika kalian… Di sekolah sudah sampai mana?”
Suara itu terdengar, serentak anak-anak sebayaku yang juga masih mengenakan seragam membuka modul fisikanya. Kecuali.. Aku.
Aku menyunggingkan senyum licikku setelah baru saja mendapat kabar dari ayah kalau malam ini guru private fisikaku akan datang. Tentu…… Aku tidak perlu mengikuti pelajaran fisika disini….. Dengan baekhyun.

Aku bangkit dari tempat dudukku, meraih tasku sehingga membuat orang-orang di ruangan itu menatapku bingung.
“Aku mau pulang duluan… ” Ucapku, berhubung fisika hari ini adalah pelajaran terakhir di bimbelku.
Baekhyun mengangkat alisnya dan tangan kirinya mengarah pada pintu ruangan itu. “silahkan pulang duluan… Daripada kau mengganggu yang lain..”

Ck apa-apaan dia? Bicaranya itu sungguh membuatku muak. Dengan segera aku keluar dari ruangan itu dan segera pulang.

“Ayah…. Jadi dari mana ayah mendapatkan guru les private untukku?” Tanyaku segera sambil membawakan tas kerja ayah dan melangkah masuk ke dalam rumah.

“Dari teman ayah…. Anaknya sudah sering mengajar fisika untuk tingkatanmu….” Jawab ayah dengan suara lembutnya.

Aku hanya menganggukan kepalaku dan membentuk mulutku dengan huruf ‘o’.

“Habis mengajar di tempat lain, ia akan kesini….” Lanjut ayahku.

Baiklah aku akan mempersiapkan diri untuk fokus belajar fisika dengan guru private ku itu, karena aku sudah jauuuh ketinggalan di sekolah maupun tempat bimbelku.

“Sayang…. Gurumu sudah datang….” Teriak ayah dari bawah membuatku bangkit dari meja belajarku, meraih semua buku fisikaku dan segera turun ke bawah.

Terdengar suara ayah yang tengah berbincang-bincang dengan seseorang. Sepertinya seorang laki-laki….

Tunggu….

Suara itu….

Seperti suara baekhyun…

Aku segera mengintip di balik pintu ruang tamu rumahku, dimana ayah dengan seseorang yang suaranya mirip sekali dengan baekhyun itu berbicara disana.

Ya tuhan! Apa aku tidak salah lihat?
Yang sedang berbicara dengan ayah adalah…… Baekhyun. Ini sungguh tidak masuk akal.

Seketika tubuhku lemas, tidak tahu apa yang harus aku lakukan sehabis ini. Untuk apa aku meminta guru tambahan kalau…. Yang mengajar juga si laki-laki pamer itu? Uh…

“Sayang…. Lekaslah kemari… Kasian kalau gurumu ini pulang terlalu larut..” Suara ayah terdengar menggelegar, aku yang kini lemas tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti panggilan ayah.

Aku melangkah memasuki ruang tamu. Great! Seperti dugaanku. Baekhyun melihatku sambil tersenyum menahan tawanya. Ya.. Ya… Aku tahu ia pasti senang melihatku seperti ini.

“Kenalkan… Dia baekhyun… Anak dari teman ayah di kantor… Dia adalah murid lulusan SMA terbaik di seoul….” Ucap ayah membangga-banggakan baekhyun yang sepertinya hanya tersenyum menundukan wajahnya. Huhh asal ayah tahu… Semua tentang dia… Aku sudah tahu! Tidak usah di bangga-banggakan lagi.

Aku tersenyum paksa pada baekhyun agar ayah tidak nampak curiga atas kebencianku pada baehyun itu. Huhh.. Ini adalah permintaan terakhirku pada ayah yang nyatanya sia-sia…

akhirnya ayah meninggalkan aku dan baekhyun di ruangtamu. Aku masih belum berbicara apa-apa padanya.

“Baiklah… Mau mulai dari mana? Ayahmu bilang kalu selalu tertinggal materi di sekolah… ” Tanya baekhyun sambil sedikit terkekeh. Ah sial… Aku benci di tertawakan seperti ini. Dasar menyebalkan.

“Aku belum paham dari bab vektor.” Jawabku ketus sambil membuka buku catatanku yang masih kosong (aku tidak perbah mencatat di sekolah).

“Yang benar saja?? Kau sudah terlewat jauh!!” Wajah baekhyun terlihat kaget mendengar ucapanku.

“Iya. Kau puas?”

“Tidak… Hanya tidak menyangka ada anak semalas dirimu… sudah di sekolah ketinggalan.. Di tempat bimbel tidak mau mengikuti… ”

“Sudah! Tidak usah di bahas!! Ajari aku saja! Cepat!”

Semakin hari bisa di bilang hubunganku dengan baekhyun semakin membaik, dalam arti aku mulai banyak komunikasi dengannya. Walau awalnya aku agak tidak rela di ajar olehnya tapi lama-kelamaan aku bisa mengakui bahwa ia memang tutor yang baik. Uh.

Sedikit demi sedikit pula aku mulai memahami pelajaran fisika ini. Walau proses ‘menaikan’ nilai ulangan fisika ku itu cukup susah. Well… It’s a prosses…

Ada hal yang dulu memang tidak pernah aku ketahui. Baekhyun adalah seseorang yang cukup ramah dan tidak membosankan. Aku fikir isi otaknya hanya ada rumus fisika namun ia bisa juga di ajak bercanda.

“Jadi….. Bagaimana ulanganmu?” Tanya baekhyun sambil membuka buku fisikaku.

aku memutar bolamataku tanda bahwa aku malas membahas ini namun aku mengeluarkan sebuah kertas dari map dimana aku manaruh semua hasil ulanganku.

“Aku sudah mendapat nilai bagus… Thanks .”

80

Aku menyerahkan kertas itu pada baekhyun. Ia seperti meneliti hasil ulanganku dari awal hingga akhir. Ia begitu serus sampai-sampai mengerutkan keningnya seperti berfikir keras.

Dan… Plak

Baekhyun menjitak kepalaku pelan namun tetap saja terasa sakit. Aissh apa yang dia lakukan? Mengapa dia menjitakku!! Aku memegang kepalaku yang sedikit merasakan sakit ini.

“Ya!!! Mengapa kau menjitakku!!! Aku sudah mendapat nilai bagus bukan?!” Matahku pada baekhyun.

“Hey!! Seharusnya kau bisa dapat nilai lebih bagus!! Hanya kau kurang teliti. Lihat!! Ada hitungan 6 x 9 kau menjawab 49.. Bodoh.. Jadi hasil akhirnya pasti salah… ” omel baekhyun panjang lebar.

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal ini, baru menydari kesalahanku yang sangat tidak masuk akal. Hanya hitingan seperti itu? Uh…

“Kalau ulangan harus di priksa lagi…” Ucap baekhyun lagi dan menyerahkan kertas ulanganku.

Aku hanya mengangguk padanya.

Tiba-tiba ia tersenyum padaku. Uh… Mengapa terlihat sangat manis.

“Tapi nilaimu sudah bagus. Tingkatkan lagi ya” ia mengacak-acak rambutku sambil tetap tersenyum.

Dag dig dug dag dug

Uh ada apa denganku? Aku merasakan sesuatu yang aneh. Mengapa jantungku berdegup kencang.
sshhhh…. Apa…. Aku menyukai baekhyun?
Tidaaaaak!!!

10.20 PM

Aku terus menerus menguap walau baekhyun masih berceloteh tentang rumus-rumus yang sudah di luar kepalanya itu. Ini sudah malam tapi ia belum juga mengakhiri pelajarannya ini.

“Kak… Aku sudah ngantuk… Lanjutkan saja besok ya….” Sahutku mengucak mata yang sudah tidak bisa kompromi lagi.

Ia menoleh kearahku dan menatap jam dinding yang tergantung tepat di sebelahnya.

“Ah baiklah… Ini juga sudah malam…. Kalau gitu aku akan pulang.”

Aku menganggukan kepalaku dan membereskan semua buka yang ada di meja ruangtamu.

“Ayahmu belum pulang?”

“Belum… Mungkin ia lembur atau ada sesuatu yang penting di kantornya”

“Sampe selarut ini? ” Wajah baekhyun terlihat bingung.

“Ya… Ini hal yang biasa…”

“Kau sendiri di rumah? Tidak takut?”

“Tidak juga, semua lampu di rumah ini di nyalakan… Aku hanya takut pada gelap…”.

Baekhyun menganggukan kepalanya dan menyelempangkan tasnya. “Baiklah… Aku akan pulang….”

Aku mengantar baekhyun sampai depan rumah dan bertapa kagetnya aku ketika melihat keadaan di luar. Badai!!! Angin berhenbus kencang dan hujan juga mengguyur lebat.
Baekhyun juga terlihat kaget dengan keadaan ini.

Clek

Tiba-tiba saja lampu rumahku mendadak mati. Membuatku menjerit tak karuan dan segera memeluk apa saja yang ada di dekatku.

” Hey! Lepaskan!!!” Suara baekhyun terdengar. Aiissh! Yang ku peluk adalah baekhyun. Baekhyun menggerakkan tubuhnya agar aku melepaskan pelukanku ini. Aku melepasnya walau aku masih takut. Aku takut gelap.

“Sshhh… Ini pasti karena badai …” Gumam baekhyun pelan.

“Aku takut… “. Aku merintih layaknya seorang anak kecil.

Tiba-tiba suara ponselku berbunyi dan dengan segera aku mngangkatnya.

“Halo ayah?”

“Apa?? Ayah terjebak badai?? Ayah tak bisa pulang??”
Aku tersontak kaget ketika mendengar kabar dari ayah. Ayah tidak bisa pulang karena badai. Bagaimana ini? Aku akan sendiri di rumah?

“Lalu aku bagaimana? Di rumah sendirian? Ayah!!! Lampu rumah mati karena badai… Bagaimana ini?” Tanyaku lagi dengan panik.
Tapi…

Tut….tut…tut…..

Telephone dari ayah terputus akibat signal yang menghilang karena cuaca seburuk ini. Aku mengendus pasrah. Badai… Gelap… Aku benci semua itu.

“Sssh…. Kau tahu gadis kecil… Ayahku baru saja mengirim pesan kalu… Aku harus menemanimu di rumah. Uh… Ini pasti karena permintaan ayahmu yang takbisa pulang kerumah itu kan?” Suara baekhyun terdengar kesal.

Aku meliriknya walau dalam keadaan gelap tanpa lampu. “Manaku tahu!! aku juga tidak mengharapkanmu ada disini untuk menemaniku..” Ucapku ketus sambil mengalihkan pandanganku darimya. Sejujurnya aku sedikit berbohong. Aku butuh orang untuk menemaniku di rumah yang gelap ini kalu tidak aku bisa mati ketakutan di tengah badai seperti ini.

Baekhyun menghela nafasnya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Aku yang tidak mau di tinggal dalam keadaan gelap ini hanya mengikutinya saja.

“Kau punya lilin?”

Cuss

Lilin yang di nyalakan oleh Baekhyun kini menyala walau hanya menerangi sedikit ruangan ini, setidaknya kami bisa saling melihat wajah masing-masing agar ketika berbicara tidak seperti seseorang yang sedang berbicara sendiri yang tidak melihat seorangpun di depannya.

Benar-benar hening. Baekhyun yang duduk di hadapanku hanya diam sambil terpaku menatap lilin yang bersinar, sedangkan aku? Diam dalam ketakutan sambil melirik kearah kanan dan kiriku. Beginilah ketika aku takut gelap. Aku takut ada sesuatu di ruangan yang tidak dapat aku lihat jelas tanpa cahaya.

“kau kenapa? Seperti orang yang sedang terkena phobia?” tanya baekhyun dengan wajah meremehkanku.

“sudahku bilang aku takut gelap.. aku takut sekitarku.. aku takut ada sesuatu…” jawabku menundukan kepalaku.

“ch.. dasar seperti bocah.. bagaimana bisa kau takut di rumahmu sendiri… walaupun gelap rumahmu tidak akan berubah seperti rumah hantu seperti pikiranmu..”

“ta-tapi tetap saja…”

“sini.. kau duduk di sebelahku saja.. mungkin bisa meringankan beban pikiranmu… dengan seperti itu kau tidak akan berfikir aneh-aneh karena di sebelahmu itu aku, orang sungguhan bukan makhluk khayalanmu…”

Ucapan baekhyun itu membuatku menoleh kearahnya dan menatapnya bingung. Apa yang dia katakan itu? Mengapa ia begitu baik?

“apa? Mengapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu? Aku hanya membantu mu untuk tidak merasa tertekan.. kalau kau tidak amu juga tidak apa-apa..” sahutnya dan kemudian memutar bola matanya.

Tanpa basa basi aku segera bangkit dan mengambil tempat tepat di sebelahnya. Mungkin apa katanya itu benar. Aku bisa sedikit tenang.

Tapi….

Dag dig dug dag dig dug

Ada apa ini? Aku kembali merasa kalau jantungku berdegup lebih cepat lagi. Magapa aku selalu merasakan ini kalau berada di dekat baekhyun. Apa aku mulai menyukainya? Ini mustahil… aku kan benci padanya tapi.. ah mengapa rasa benci itu hilang? Aku malah merasa.. nyaman.

“bukankah tadi kau sudah mengantuk?” suara baekhyun itu memecahkan lamunanku.

“sudah tidak.. mungkin karena shock karena badai ini.. uh..” jawabku sambil memper-erat memeluk kedua lututku.

“kalau kau mengantuk tidur saja.. “

Aku menganggukan kepalaku namun hanya terdiam.

“bersandar juga tidak apa-apa….” katanya lagi sambil menarik kepalaku untuk bersandar di pundaknya. Huh.. apa ini? Mengapa ia jadi… baik seperti ini? Membuatku semakin berdebar.

Aku masih terdiam dan mulai memejamkan mataku untuk mencoba tidur.

__

Hey.. bocah… aku menyukaimu.. kau tidak sadar itu?

Apa kau mau jadi pacarku?

Cup.

__

Aku membuka mataku perlahan. Sinar matahari sudah dapat aku rasakan menyilaukan. Aku membangkitkan tubuhku. Memandang ke sekeliling. Aku berada di kamarku sendiri. Bukankah semalam aku… tidur di ruang tamu, di sebelah baekhyun?

Huh, ngomong-ngomong soal baekhyun. Mimpiku…. aku bermimpi seseorang yang aku yakini itu baekhyun menciumku dan ia menyatakan cintanya padaku. Aku menyentuh bibirku sendiri. Ini terasa seperti sungguhan tapi Uh mimpi bodoh.. bagaimana aku bisa mimpi seperti itu. Mungkin karena kemarena aku berdebar karenanya..

Aku bangkit dari temoat tidurku menoleh pada jam kecil di meja samping tempat tidurku. Hari Sabtu Jam 09.00.

__

“eh gadis kecil ayah sudah bangun…” suara ayah terdengar ketika aku baru saja menutup pintu kamarku untuk keluar.

“ketika ayah sampai rumah tadi pagi, ayah lihat kau tidur sangat pulas.. makanya ayah pindahkan kau ke kamar..” ucap ayah sambil menatuh dua potong roti panggang di piring.

Aku menghampiri ayah dan segera menyantap roti yang sudah di sediakan ayah itu.

“ayah, diaman kaka baekhyun?” tanyaku dengan mulut yang penuh dengan roti.

Ayah tersenyum dan duduk di sebelahku, mengambil secangkir kopi yang ia buat sendiri. “Baekhyun sudah pulang kasihan ia menjagamu semalaman.. ayah rasa ia tidak tidur..”

Uh? Benarkah ia menjagaku? Aku  raa itu hanya akting di depan ayahku saja. Baekhyun kan menyebalkan.

__

Aku rasa kini aku sudah bisa menerima bahwa aku ini memang sudah mulai menyukai baekhyun. Aku merasakan perubahan pada diriku sendiri ketika aku bertemu dengannya.

Ini memang karma. Aku yang tadinya membencinya kini malah benar-benar menyukainya bahkan aku terus memikirkannya semenjak kejadian malam itu. Ia bersikap begitu baik padaku.

__

To: Baekhyun

Kak!!! Nanti kau datang ke rumah kan? Aku ingin menunjukan nilai fisika ku… kau pasti takjub.

Send.

Aku menaruh ponselku di kantong rok. Ah, semakin hari aku semakin dekat dengan baekhyun. Ini benar-benar membuatku senang. Kami sering mengobrol lewat telephone, mengirim sms. Mungkin ini seperti hubungan adik kakak, tapi mungkin aku sedikit berharap lebih. Semakin kesini aku semakin ingin bersama kak baekhyun.

Tak lama ponselku bergetar. Ah ini pasti balasan dari Baekhyun.

From: Baekhyun

Maafkan aku, Bocah.. aku tidak bisa kerumahmu hari ini.. ada urusan penting J.. memang bagaimana nilaimu? Kau dapat 100?

Uh? Ia tak bisa datang? Tumben sekali.. biasanya ia selalu mempunyai waktu luang, karena yangku tahu ia sedang libur Semester berbulan-bulan.

To: Baekhyun

Uh? Tidak seru!! L

Send.

Dengan seketika aku merasa moodku turun dengan drastis, benar-benar drastis.

__

Apa-apaan ini? Ia sudah tak pernah mengajarku lagi sekarang!! Banar-benar tidak pernah datang lagi. Ada apa dengannya? Dia susah sekali di hubungi. Dia tak ada kabar sama sekali. Aku tanya pada ayah, ayah tidak menjawabnya. Ia juga tidak pernah lagi mengajar di tempat bimbingan belajar.

Apa yang terjadi pada baekhyun?

Drrttt drrrttt

From : Baekhyun

Bocah.. entah mangapa aku merasa rindu padamu.. J berat mengatakan ini.. tapi aku tidak bisa mengajarmu lagi. Walau begitu kau harus tetap rajin belajar fisika ya..

Aku mengerutkan keningku, heran. Tiba-tiba saja baekhyun mengirim pesan padaku.. ia bilang ia rindu padaku tapi mengapa ia tidak bisa mengajarku lagi?

To : Baekhyun

Kak? Mengapa kau tidak bisa mengajarku lagi? Kita bertemu saja bagaimana? Aku juga rindu 😛

Send.

New Message

From: Baekhyun

Aku akan pergi.. Jaga dirimu baik-baik bocah..

Uhm.. ada yang aku ingin katakan juga.. hanya saja tertunda.

Aku Menyukaimu.. mungkin sudah berjalan menjadi Mencintaimu…

Aku tersenyum senang membaca pesan darinya tapi… apa yang ia bicarakan? Ia akan pergi? Pergi kemana? Ia sungguh membuatku sungguh penasaran. Ada apa dengannya sekarang? Selama ini tidak ada kabar dan sekarang bilang kalau ia akan pergi.

To: Baekhyun

Jadi kau menembakku? Hahahah aku juga mempunyai perasaan yang sama denganmu…

Tapi.. kau akan pergi kemana? Kau akan meninggalkanku? Uh.. apa-apaan ini? Kau baru saja menembakku dan sekarang sudah mau meninggalkanku.. ini tidak lucu.

Send

Aku sudah cukup menunggu lama namun belum ada balasan dari baekhyun. Ia seperti mempermainkanku! Apa jangan-jangan yang dia katakan itu hanya bahan bercandaan? Huh! Dia sungguh menyebalkan!!

Setelah berjam-jam ponselku kembali bergetar. aku dengan semangat membuka pesan yang masuk itu namun itu bukan dari baekhyun, tapi dari ayah.

From: Ayah

Sayang.. nanti akan ayah jemput seusai sekolah..

Uh? Ayah akan menjemputku? Apa pekerjaan ayah tidak terganggu hanya untuk menjemputku? Tidak biasanya ayah mau menjemputku. Fikirku terus menerus.

__

Ayah menjemputku di depan sekolah dengan mobilnya, namun mobilnya kini bukan berjalan menuju rumah kami. Melainkan berjalan ke sebuah rumah megah yang yang terdapat di sebuah komplek yang aku tidak tahu itu dimana.

Rumah itu ramai dengan orang-orang yang keluar masuk dengan pakaian hitam-hitam dan beberapa rangkaian bunga terpajang di depan rumah itu. Apakah teman ayah ada yang meninggal?

Aku dan ayah segera turun dari mobil dan segera berjalan memasuki halaman rumah itu. Dan apa yang aku temukan? Mobil yang terparkir di halaman rumah itu adalah mobil milik Baekhyun. Aku hafal plat mobilnya. Kalau begitu ini rumah Baekhyun? Oh!! Apa Ayah Baekhyun yang meninggal? Mengapa baekhyun tidak memberitahuku?

“ayah? Apa teman Ayah, ayahnya Baekhyun yang meninggal? Ayah pasti sangat sedih…” ucapku pelan pada ayah. Ayah hanya terdiam dan menatapku dengan tatapannya yang sedu. Ayah belum sempat menjawab pertanyaanku kemudian seseorang menghampiri kami. Ayah baekhyun, yang aku kira seseorang yang meninggal kini menghampiri kami. Bukan ayah baekhyun, jadi siapa yang meninggal?

“Maafkan Baekhyun karena sering membuatmu jengkel.. baekhyun sering bercerita banyak tentangmu..” ucap ayah baekhyun sambil memegang pundakku. Oh god! Apa ini? Jangan bilang kalau?

“Baekhyun sudah tidak ada.. relakan ia pergi… baekhyun sangat menyayangimu, sayang..” ucapan ayah itu kini seakan menyayat dadaku. Membuatku tidak bisa bernafas.

“tidak mungkin baekhyun kan ayah yang meninggal? Ini bohong!! Tadi pagi ia baru saja megirim pesan padaku!!!” sahutku yang kini sudah berderai airmata.

Ayah dan ayah baekhyun menuntuku untuk masuk ke dalam rumah itu. Menemukan sebuah peti kayu yang di sampingnya sudah di hiasi bunga-bunga.

Seorang yang kini memenuhi pikiranku terbaring disana dengan wajahnya yang pucat. Sudah lama aku tidak melihat wajah itu. Wajah seseorang yang selalu membuatku jengkel, seseorang yang kini sukses mencuri pikiranku, mencuri hariku.

NORMAL P.O.V

“ya!! Kak baekhyun!! Mengapa kau benar-benar meninggalkanku? Kau tadi baru saja menyatakan cintamu padaku!! Apa kau mempermainkanku?”

Sahut gadis yang kini terduduk di depan jasad yang sudah tidak akan pernah bangun lagi itu. Ia menangis terus menerus tanpa henti. Hatinya terasa tercabik-cabik. Ia sungguh sulit menerima ini semua.

__

Bocah…

Sudah lama aku tidak melihat wajah ceriamu itu… membuatku sangat merindukanmu.

Sulit sekali berterus terang padamu ketika berhadapan denganmu.. kau tahu, aku merasa berdebar ketika melihatmu. Sejak awal aku memang sudah menyukaimu.. walau aku tahu bahwa aku membenciku. Aku senang sekarang hubungan kita sudah semakin dekat kau sudah tidak membenciku lagi kan?

Maaf… tapi sekarang aku harus benar-benar meninggalkanmu.. sungguh sebenarnya kau tidak mau. Tapi semua ini bukan aku yang mengatur.. karena penyakit ini aku sudah tidak bisa mengajarmu lagi, karena penyakit ini aku sudah tidak bisa melihat senyum ceriamu lagi, karena penyakit ini aku tidak bisa melihat wajah merengutmu yang terlihat sangat lucu.

Terima kasih sudah tidak membeciku lagi….

Ingat jangan malas belajar Fisika…

Aku mencintaimu.. bocah J

 

Gadis itu melipat sebuah kertas di tangannya dengan tangis yang masih membanjiri wajah yang sudh memerah itu.

Thanks for everything, Baekhyun.

END

__

MAAF KALO BANYAK TYPO..

KUMAT MALES PRIKSA KARENA SAKING PANJANGNYA FF NYA -_-

YOOK yang BACA KOMEN LANGSUNG!! ^^

Iklan

26 pemikiran pada “Physics Tutor

  1. Thor bagus ff Nya .. Tp aku agak gk suka sm ff Nya gara2 end nya sad … Suka kasian sm cast nya sampe kyk gitu … Lain kali bikin yg romance Tp Jgn sad romance ya…..

  2. annyeong^^ aku reader baru. aku juga pernah nemu ff author di blog2 lain yg pernah author sebut.
    emang pada dasarnya aku lg nyari ff member exo dan nemu WP ini, ya aku baca.
    aku suka cara penulisannya, enak dibaca sama ceritanya emang asyik buat diikutin. gak nyangka kalau baekhyun bakalan meninggal? tapi sebenernya penyakit baekhyun itu apa, sih?
    but overall, i like this fanfic 🙂

  3. Annyeong 😀 … Wah.. >.< Akhirnya ada juga ff yg main cast-nya Baekhyun~
    Ceritanya keren~… tapi alurnya dikit kecepatan kyknya #PLAK

    Oh iya… numpang promosi, klo pnya ff exo bs di publish di exofanfiction.wordpress.com 🙂
    Lagi nyari author+admin nih, biar rame… hehehe

  4. Awal nya baca sambil senyum2, eh ending nya bener shock banget nget nget!!!
    Kirain Baek ngilang karna sibuk sama kuliah nya, ato lanjutin study ke luar negri.. Eh ternyata malah lebih bikin shock!!! nyesek thor, suer!!! T^T

  5. Lagi nyari ff yg castny baekki,,ehh ketemu ini ff^^~ kebetulan sambil dengerin impossibleny shontelle jadi terharu sampe mewek ini akuny author hihi 😀 good job buat authorny..walaupun pnjang dan sad ending tp ff.a keren kok :’) d tunggu ff baekki slnjutny

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s