“Tuesday”

 

surong

Tuesday
Chorong(A-pink) / Haeyoon (Fictional)
plot©Shinstarkey | Chorong and other character belong to god and themselves - Haeyoon Character it's my own 
Oneshot|Romance, sad|PG|Indonesia

Dan kemudian tawa itu lepas landas di udara. Bukan tawa menyenangkan, tapi tawa yang di iringi tangis yang membanjiri seluruh permukaan dari wajah gadis yang kini menggenggam erat jaket yang ia kenakan, seakan jaket itu adlah sebuah sasaran empuk untuknya melepaskan emosi.

Chorong menggulung lengan bajunya agar warna warni krim lengket tersebut tidak mengenai kemeja kesayangan yang di berikan ibunya. “Chorong, tolong ambilkan butiran coklat disana!” pinta salah satu chef yang kini menjadi senior nya di bidang memasak. Chorong memang belum menjadi chef seperti yang ia inginkan namun ia akan berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk menjadi chef terkenal seperti seniornya sekarang, chef. songqian chef yang berasal dari china namun kini menitih karir menjadi chef di Korea yang kini merupakan senior, guru dan bahkan menjadi sahabat dari gadis di sebelahnya itu.

Dengan sigap Chorong memberikan mangukuk besar yang berisikan ribuan bola-bola kecil berwarna coklat kepada Songqian. “terimakasih” jawab Songqian, wanita berparas cantik yang sibuk memberikan ratusan cupcake di depan nya hiasan.

Chorong melanjutkan kegiatannya memberikan warna cantik pada setiap cupcake yang mulai memancarkan aroma sedap ketika masih hangat-hangatnya sampai Songqian menoleh kearahnya.

 “apa sesudah ini kau ada acara Chorong-ah? Aku ingin mengajakmu makan malam bersama beberapa chef yang lain, aku tidak mau kau mati kelaparan di rumah karena aku belum membeli bahan makanan di rumah” Chorong tersenyum cerah melihat peratian dari orang yang sudah ia anggap kakaknya sendiri itu.

“ya! Jiejie (panggilan kakak perempuan dalam bahasa mandarin)  kau selalu menganggapku seperti anak berumur sepuluh tahun yang tidak bisa mencari makanan sendiri, eh ? “

“tidak baik selalu makan-makanan yang tidak sehat di luar sana, tenang saja kali ini chef. Tiffany sendiri yang memasaknya tentu saja itu sangat lezat dan sehat. Kau tahu sendiri dia selalu menjaga penampilannya yang berpengaruh juga pada makanan yang ia makan”

“iya jiejie-ku yang cantik. Aku akan memberitahu Haeyoon dulu. Tapi jika haeyoon mengajakku makan hari ini aku tidak bisa ikut denganmu hehehe” jawab Chorong sambil menunjukan sederet gigi putihnya.

“baiklah baiklah, aku kan hanya menawarkanmu saja “

Chorong tersenyum tipis dan berfikir sedikit. Bukan kah hari ini adalah hari selasa? Hari yang biasanya digunakannya dan Haeyoon untuk makan bersama dan saling berbagi cerita yang mereka punya. Haeyoon, kekasih Chorong yang sudah menghabiskan waktu dua tahun hingga sekarang untuk menemani gadis ambisius itu.

Sesudah menyelesaikan semua Tugasnya, Chorong mengambil beberapa helai tissue di sampingnya dan mengelap tangan nya yang sedikit di lumuri krim manis itu dan kemudian merogoh kantung bajunya dimana ia meletakan ponsel. Dengan cepat ia mebuka ponselnya dan melihat berbagai nontification yang muncul di layar smartphone nya tersebut. Tubuh nya sedikit lemas dan mungkin kini tidak bersemangat  melakukan apa-apa.

Haeyoon belum sama sekali menghubunginya hari ini. Apa laki-laki itu sangat sibuk? Sibuk dengan skripsi yang harus di selesaikan beberapa bulan lagi? Haeyoon adalah mahasiswa fakultas teknik mesin di korea yang kini menempati tingkat akhir pembelajarannya. Chorong dan haeyoon sudah saling mengerti dengan keadaan mereka masing-masing. Dimana Chorong akan di sibukan untuk berbagai kegiatannya di perguruan memasak sedangkan Haeyoon akan sibuk dalam skripsi nya agar ia bisa lulus dengan baik. Tapi mungkin keadaan itu sedikit menyiksa Chorong. Saat seharusnya mereka bisa bertemu setiap harinya, bercerita, mengeluarkan semua perasaan mereka, menumpahkan semua rasa sayang rasa cinta yang mereka punya, kini mereka hanya bisa melakukan itu beberapa hari dalam seminggu, bahkan mungkin haeyoon hanya mempunya waktu satu atau dua jam dalam seminggu untuk keluar dari pikirannya dalam membuat Skripsi. Chorong mengerti bertapa sibuknya laki-laki itu.

Chorong menggerakan garinya di layar sentuh ponselnya mencoba mengirim pesan untuk kekasihnya yang sibuk itu.

To: Haeyoon

Hey? Kau hari ini sangat sibuk ya? Sampai sampai kau tidak sempat menghubungi sama sekali, bahkan membalas pesanku tadi pagi saja tidak.

Bagaimana skripsimu?

From: Haeyoon

Ah! Aku sampai lupa memberitahu-mu. Hari ini aku sibuk berkonsultasi dengan dosen pembimbingku. Maafkan aku ya? Aku sampai tidak sempat mengabarkanmu.

Skripsku? Sedikit berjalan lancar :^)

Chorong menghela nafasnya sedikit. Hmm Haeyoon memang sangat sangat sibuk, dan ia mungkin harus lebih bersabar untuk laki-laki itu.

To : Haeyoon

Sudahlah tidak apa-apa. Sayang, kau ingat ini hari apa? Bukankan ini waktu kita untuk bertemu? Aku rindu 🙂

From: Haeyoon

Astaga! Aku sampai Lupa. Maaf sayang hari ini aku akan menyelesaikan beberapa Revisi yang salah dan aku rasa aku tidak bisa bertemu denganmu malam ini. Kau tidak apa-apa kan? 😦

Sungguh kini rasa sedih dan kelam menyelimuti hati Chorong. namun apa daya? Ia memang harus menerima semua ini.

To: Haeyoon

Sudahlah aku tau kau sangat sibuk. Semangat dengan skripsi mu ya? ‘-‘)9 lagipula Songqian jiejie mengajakku makan di rumah temannya sesame chef aku akan ikut dengannya.

From: Haeyoon

Baguslah. Maafkan aku Chorong. Love you

Chorong  tersenyum miris sambil mengetik pesan terakhirnya untuk haeyoon dan kemudian memasukan lagi ponselnya ke dalam kantung bajunya. Beberapa kali menarik nafas kini sedikit membuat perasaannya lebih tenang dari sebelumnya. Perasaan sedih yang menyelimutinya karena hal itu. Ketika merasa dirinya kuat dan ceria kembali Chorong segera memberitahu jiejienya tentang kesediaannya hadir menemani jiejie nya itu.

Bahkan untuk meluangkan beberapa jam untuk makan bersama saja ia tidak bisa. Tuhan, kuatkan hatiku untuk selalu bertahan dengannya…

Chorong tersenyum ramah kepada gadis sebaya dirinya yang kedua bahu gadis itu di tenggam oleh chef. Tiffany, teman songqian jiejie selaku kakak dari gadis dengan wajah runcing berparas cantik di hadapan Chorong.

“ini adikku. Ara kenalkan ini teman-teman eonni  di perguruan memasak “ ucap chef.Tiffany yang memperkenalkan adiknya kepada semua tamu yang datang ke Rumah mewah milik nya dan Ara.

Chorong pun megulurkan tangannya kearah gadis itu dan mereka tersenyum akrab. Setelah banyak bercerita dengan Ara dikarenakan kesamaan umur mereka akhirnya Chorong menemukan beberapa hal yang membuatnya teringan kepada Haeyoon. Ara adalah mahasiswi di universitas yang sama dengan Haeyoon, bahkan mereka menempati jurusan yang sama namun Chorong tahu Ara tidak berada pada tingkat yang sama dengan Haeyoon. Sedikit terpikir oleh Chorong untuk menanyakan apakah gadis cantik itu mengenal kekasihnya? Namun apa gunanya ia menanyakan itu? Itu sangat tidak berpengaruh dengan gadis itu.

“kau mempuanyai masalah dengan Haeyoon?” suara parau dari Songqian membuat Chorong sedikit tersentak ketika ia mulai memejamkan matanya karena lelah.

“tidak, mengapa jie?” Tanya Chorong  bingung.

“hmm, aku jarang melihat haeyoon datang kerumah sekarang dan jarang sekali kau pergi bersamanya beberapa waktu terakhir ini”

Chorong membalikan tubuhnya, menghadap Songqian dengan wajah yang murung. Ia menatap songqian dengan mata berkaca kaca yang sungguh tidak bisa ia tahan lagi ketika airmata itu mengalir bebas ke pipi nya.

“hey giant baby, jangan menangis. Kau ceritakan saja semuanya padaku. Apa yang sebenernya terjadi denganmu dan Haeyoon?” Songqian mengarahkan pelukan hangatnya pada Chorong membiarkan gadis muda itu menangis sampai hatinya kini terasa lebih tenang dan siap untuk menceritakan semua yang ia alami.

Waktu terus berlalu bahkan sudah beberapa minggu ini Chorong belum bisa melepas kerinduan nya pada laki-laki yang sangat ia sayangi itu. haeyoon selalu mempunyai alasannya sendiri untuk tidak bisa bertemu dengannya dan itu selalu Chorong terima dengan hati yang kuat. Walau sakit ia akan selalu tetap tersenyum untuk orang-orang disekitarnya.

Haeyoon. Entah apa yang selalu Chorong rasakan akhir akhir ini. Laki-laki itu berubah, laki-laki itu kini bukan seperti haeyoon yang selalu ia kenal bahkan laki laki itu seperti orang asing yang belum pernah bertemu dengan nya. haeyoon sudah jarang sekali menghubungi Chorong bahkan jika Chorong tidak mengabarinya terlebih dahulu mungkin selama ini tidak ada komunikasi yang mereka lakukan.

To: Haeyoon

Sayang, bisa kah kita makan malam hari ini? Aku harap kau ingat in hari apa heheheh

From : Haeyoon

Hmm? Hari ini? Ah iya aku ingat hari ini hari apa. Baiklah aku akan usahakan nanti malam kita makan di tempat biasa ya?

Chorong tersenyum. Hatinya sedikit tenang dan berbunga-bunga. Syukurlah haeyoon tidak lupa dengan hari ini, pikirnya. Hari ini bukan hanya Hari selasa yang menjadi hari special mereka, namun hari ini adalah Anniversary mereka. Kebahagiaan Chorong mungkin bisa dibilang berlipat ganda hari ini. Setelah mendapat izin dari Songqian untuk membuat cake dengan bahan-bahan yang tersedia di dapur kampus, Chorong segera membuat sesuatu yang mungkin membuat haeyoon dan dirinya senang.

Chorong dengan hati-hati membawa kotak kue berukuran sedang menuju ke tempat dimana mereka bertemu. Suatu Restoran di daerah perbukitan yang tidak jauh dari pusat kota. Dimana tempat itu mempunya arti sendiri bagi hidup Chorong bagi perasaan Chorong, bagi hati Chorong. tempat itu mungkin menjadi tempat paling berharga dimana ia selalu mendapat kebahagiaan dua tahun berakhir ini disana.

Chorong menempati tempat duduk yang selalu mereka tempati berdua, dimana disana terpasang pemandangan kota dari atas bukit, menampilkan lampu lampu yang terlihat indah dan juga darisana bisa melihat kilauan bintang yang terbentang di indahnya malam.

Chorong menaruh kuenya di atas meja dan kemudian melihat langit yang mendung sehingga bintang-bintang itu tak terlihat sama sekali. Sambil melirik sekali ke arah jam tanganya Chorong menghembuskan nafasnya panjang. Ini sudah pukul Sembilan malam dan ia belum menemukan tanda tanda dari haeyoon yang sudah siap menampakan sosoknya di hadapan Chorong. ia rindu sekali dengan laki-laki itu.

Menunggu…

Menunggu…

Dan menunggu…

Hingga kini hujan yang tidak di harapkan datang sudah mengguyur seluruh tempat dimana Chorong berada. Chorong menghembuskan nafasnya kesal sambil membawa kotak kuenya untuk berteduh pada tempat yang bisa melindunginya dari guyuran hujan.

Belum ada kabar darinya….

Chorong merapatkan mantelnya untuk melindungi diri dari dinginnya angin malam dan hawa hujan yang menusuk pori-pori kulitnya. Tak lama ponselnya bergetar terus menerus menandakan ada seseorang yang menghubunginya, dengan sigap ia meraih ponselnya di tas dan melihat siapa nama yang muncul pada layarnya. Chorong menghela nafasnya. Itu bukan Haeyoon.

Dengan cepat Chorong mengarahkan posnelnya ke telinganya dan menyambut suara jiejie kesayangannya itu.

“Chorong, aku sudah di depan restoran dimana kau berada. Cepat ke mobilku sekarang. Percuma kau menunggu disana. “ suara Songqian yang mengalahkan suara hujan itu terdengar seperti suara orang yang sedang emosi.

“jie, tapi.. aku kan sedang menunggu haeyoon. Kami berjanji disini.” Jawab Chorong dengan nada melemas

“cepat!”

Chorong kaget dengan apa yang ia dengar. Jiejie nya itu tidak akan emosi seperti itu jika tidak ada sesatu yang sedang membuatnya jengkel. Apa Chorong membuat kesalahan sehingga songqian marah padanya ?

Dengan sigap Chorong menerpa hujan menuju mobil yang sudah ia hafal model dan platnya, mobil Songqian. Chorong masuk  ke mobil itu dengan tergesah-gesah dan menemuka wajah Songqian yang sudah memerah padam. Chorong terdiam dan menatap jiejienya dengan takut.

“jie? Ada ap-……”

Tiab-tiba saja ponsel Chorong bergetar dan kemudian wajah gadis itu terlihat gembira mengetahui bahwa kekasihnya yang ia tunggu yang menelepon nya sekarang.

“sebentar jie”

Dan segera Chorong mengangkat telepon dari haeyoon itu.

“haeyoon.. kau sekarang dimana? Apa sudah sampai?” sahut Chorong antusias namun seseorang di sebrang sana berbanding terbalik dengannya.

“Chorong, maaf aku tidak bisa datang. Aku harus mengambil tugasku di rumah dosen. Ah ya? Hmm kita bisa jalan pada selasa minggu depan kan? Masih banyak hari selasa dan hari lain dimana kita bisa bertemu..”

Tubuh Chorong terasa panas, lemas dan nafasnya tercekat. Chorong tak percaya apa yang ia dengar barusan. Apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus meraung-raung menangis kepada haeyoon bahwa ia lelah dengan semua ini?

“haeyoon… tapi hari selasa ini kan hari….”

Belum sempat Chorong melanjutkan kata-katanya, haeyoon di sebrang sana sudah mengucapkan kata perpisahan diikuti olah terputusnya hubungan telepon itu.

“ini hari anniversary kita yang ke dua tahun…” lanjut Chorong dengan tatapan kosong kearah hujan. Tangannya kaku sampai jemarinya tak kuasa menahan beban ponsel yang sekarang sudah terjatuh di sisinya.

Chorong terdiam. Sungguh tak bisa berkata apa-apa lagi. Tetesan airmata itus dah membanjiri seluruh permukaan pipinya. Songqian yang sesungguhnya sudah mengerti apa yang terjadi tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengulurkan tangannya untuk mendekap seseorang yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

“aku tahu Chorong, maka dari itu aku kesini. Aku bersamamu “ ucap seorang kakak yang kini mendekap adiknya yang terisak di iringi suara hujan deras di luar sana.

Mata yang sembab, pipi yang basah dan tatapan yang kosong. Chorong kini hanya berdiam diri di kamarnya. Hatinya sakit. Hatinya kini seperti pecah berkeping keping.  Hati itu bahkan membuatnya lelah, lelah untuk memikirkan apapun di dunia ini yang membuatnya lebih tenang  karena sungguh itu tak beguna lagi.

Saat pulang songqian menunjukan sesuatu yang menambah hatinya hancur. Sebuah foto dimana terpampang sosok seseorang yang Chorong tunggu. haeyoon dan juga seorang wanita tinggi, berambut lurus yang terlihat mengaitkan lengannya pada lengan lelaki itu.

Apa yang kau lakukan haeyoon?

Apa kau tidak memikirkanku sama sekali?

Apa kau melupakanku?

Bahkan kau saja tidak ingat dengan hari anniversary kita?

Apa yang kau lakukan bersama orang lain selama ini?

Apa kau tidak mencintaiku lagi?

Tangis tak bisa berhenti begitu saja…. Bahkan air mata it uterus menerus mengalir layaknya sebuah keran yang di nyalakan terus menerus.

Telapak tangannya panas, matanya tebuka lebar menatap laki-laki yang kini memegangi pipinya yang memerah karena tamparan mendarat dengan mulus di permukaannya.

Dengan nafas yang tak beraturan Chorong menatap haeyoon dengan lekat, emnampakan semua kesakitan yang telah ia rasakan. Semua sudah jelas. haeyoon menghianatinya, haeyoon menduakannya. Tak ada kata-kata yang keluar darisana namun semua tatapan Chorong seperti pisau yang mencabik cabik seseorang yang kini berhadapan dengannya.

Chorong menoleh kearah gadis yang terdiam kaget melihat kejadian yang sedang terjadi. Gadis yang belum lama ini menjadi akrab dengan Chorong. Ara hanya bisa  terdiam menunduk dari wajahnya terpancar wajah bersalah namun Chorong tahu bahwa gadis itu sungguh tak tau apa-apa tentang semua ini. Tentang haeyoon, tentang apa yang terjadi di antara Chorong dan haeyoon.

Chorong menghela nafsnya, menarik nafasnya dalam mencoba menangkan dirinya agar tidak terbawa oleh emosi yang bergemuruh di hatinya.

“it’s over”

Sahutnya pelan dan kemudan waktu seakan mempercepat langkah Chorong untuk meninggalkan kehidupan menyedihkannya bersama seseorang yang membuatnya tersakiti karena cinta.

End

Dan ketika rasa itu sudah mulai mendalam.. dan rasa itu sudah mulai menjalar menusuk tubuh menjalar kehatimu. Jangan biarkan kau hanyut kedalamnya walau rasa itu terus menusukmu jika semuanya bukanlah hal yang tepat maka kau harus menyadari bahwa melepas akan lebih baik untuk dirimu.

-Nadia Novita Andrilla (Shinstarkey)-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s