Sense of Love

kjui

Sense of Love
Jongin/Naeun
plot©Shinstarkey | characters. they belong to god and themselves
Oneshot:4310 |Romance|PG|Indonesia

semua orang diam, bahkan hanya hilir angin yang terdengar. tak ada bisikan, tak ada semangat, tak ada ucapan. seakan semua sudah menutup pintu rapat-rapat

.

Shadow of  Heart
.

ucapan konyol yang selalu terdengar bahkan para gadis di ujung sana meneriakan sesuatu yang sunggug tidak penting.

“aku mencintaimu”

bullshit.
aku muak mendengar itu semua. muak melihat tingkah semua orang yang saling menatap, bercumbu, berpelukan.
semua itu omong kosong.
mereka hanya rasa nafsu ingin memiliki. nafsu dengan sesuatu yang indah yang menarik.
namun hati mereka beku bahkan mati.

aku menggerakan lenganku berusaha menahan beban tas yang aku taruh di bahuku. berusaha menjauh dari hal-hal aneh disana yang mungkin membuatku ingin berteriak semua yang ada di dunia ini adalah sebuah kebohongan. aku muak.

namaku naeun. umurku 20tahun.
aku? tidak percaya dengan adanya cinta.

Aku lahir dalam keluarga yang sangat berlimpah  namun sangat tidak harmonis. ayahku adalah seorang direktur perusahaan yang sangat bersar di negara ini. ia di puja orang-orang? tentu saja karena dia adalah orang yang sangat kaya tapi lihat saja jika ia jatuh. adakah yang mau meliriknya ?
ibuku. dulu ia seorang pelayan di salah satu cafe besar di kota ini. mungkin anggapan orang, dia adalah wanita beruntung yang dapat menikah dengan seorang pangeran kaya dengan harta berlimpah seakan sebuah derajat tidak penting lagi karena mereka saling mencintai. tidak kah orang orang tahu bahwa aku lahir bukan karena cinta? tapi aku lahir dari rasa egois dan nafsu belaka yang semua dapat di bayar dengan uang.
awalnya aku tidak menyadari itu semua karena ketika aku masih kecil orangtuaku bersikap seperti tidak ada sesuatu yang terjadi namun aku mengetahui itu semua ketika suara lemparan barang dan suara lantang ayahku menggema di seluruh ruangan di rumah mewah itu.
saat ayahku berkata
“AKU TIDAK PERNAH MENCINTAIMU BAHKAN  SETITIKPUN TIDAK ADA PERASAAN PADA MU. KAU HANYA SEBATAS WANITA MURAHAN KAN?”
itu kata ayahku pada ibuku yang sudah tersungkur sambil terisak.

adanya cinta itu bohong.

.

dan kemudian berlanjut saat aku masih menginjak bangku SMP saat aku mempunyai seorang teman. ia Bomi.
rasanya senang saat bersamanya dan kami tak jarang menghabiskan waktu bersama. aku menyayanginya sebagai teman baikku tapi saat aku tahu…

“naeun? lupakan saja dia. dia hanya gadis freak yang kesepian. alasan aku bersamanya? come on.. aku merasa sangt berkecukupan ketika bersamanya… apa yang bisa di ambil dari seorang naeun? hartanya….”

itu kata-kata bomi yang masih aku ingat sampai sekarang.
kata-kata menyakitkan yang hampir saja membunuhku. aku fikir dia adalah satu-satunya orang yang mengerti keadaanku melihat kondisi keluargaku yang tak berbentuk. namun aku salah…..

semenjak kejadian itu aku selalu menutup hatiku. aku tak percaya apa-apa di dunia ini..
dan aku akan menjalankan hidupku sendiri, mungkin itu lebih baik…

aku berjalan menelusuri jalanan gelap untuk sampai menuju apartement ku di ujung sana. apartement yang aku sewa dengan usaha sendiri. sejak lulus SMA aku memutuskan untuk pergidari rumah dan hidup sendiri aku benci dengan semua sandiwara yang selalu di tunjukan ayah dan ibuku, dan seperti yang aku duga sebelumnya mereka tak lama berpisah. sandiwara itu berakhir.

.

aku menekan tombol kunci dan membuka knop pintu apartement-ku. aku menoleh pada apartement sebelah yang sepertinya ada penghuni baru disana. terjadi kebisingan yang membuat aku sedikit terganggu. suara musik dan tawa mereka.
apa ada pesta minum disana? manusia-manusia yang hanya menghamburkan uang.
aku menghela nafasku dan masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan lagi suara suara mengganggu di apartement sebelah.

.

normal pov

gadis itu mempererat genggaman pada jaket coklat miliknya. angin yang berhembus membuat pori-porinya terasa membeku. angin musim gugur.
naeun mepercepat langkahnya saat melihat jam tangan yang menunjukan bahwa kelas pertama kuliahnya segera akan di mulai rasa panik itu membuat ia terus mempercepat langkah kakinya sampai keseimabngannya hilang karena sesuatu yang membuatnya tersandung.
‘brak’
“asshhhhh” rintih naeun saat mendapati dirinya sudah tersungkur sempurna pada lapisan aspal hitam tepat di depan gerbang kampus miliknya.

dengan cepat sebuah tagangan meraih sikunya dan membantunya untuk berdiri.
“maaf maaf aku tidak sengaja  menginjaknya” suara laki-laki itu membuat naeun tersentak dan menoleh cepat pada seseorang yang memegangi lengannya dan menatapdengan khawatir. dengan cepat naeun menepis tangan laki-laki itu dari lengannya.
“aku tidak apa-apa” jawab naeun dengan nada yang sinis. rupanya tali sepatu miliknya yang lepas terinjak oleh laki-laki yang terdiam dengan wajah khawatir itu.
naeun tak menoleh sedikitpun pada laki-laki itu bahkan ia segera berjalan lurus tanpa memperdulikan goresan goresan merah pada lututnya. sedangkan laki-laki tinggi itu hanya bisa memandang rambut panjang terurai yang perlahan menghilang dari hadapannya.

naeun hanya menundukan kepalanya saat berjalan di kampusnya sambil merasakan kakinya bergerak lebih cepat walau lutut nya terasa perih. dan kemudian terlambat, kelas itu sudah tertutup rapat menandakan dosen yang tak ramah telah hadir dan semua tahu akan hal itu, tak ada lagi toleransi akan kehadiran mahasiswanya.
naeun mengembuskan nafas, kecewa. ia memaki kesialan yang ada pada dirinya mulai dari ia membuka mata dan mengetahui dirinya terlambat kemudian insiden yang membuat goresan goresan perih yang menyerang lututnya. sial.

naeun duduk pada bangku yang berada di sisi bangunan kampus. mungkin ia akan menghabiskan waktunya disini menunggu kelas mata kuliah setelahnya.
ia melihat goresan luka yang menyelimuti kulit putihnya perih namun ia tak memabawa apapun untuk mengobati itu. ia hanya bisa menggerutu dan menyalahkan dirinya. tidak. yang bersalah bukan dirinya namun laki-laki itu.

dan kemudian sepasang sepatu berwarna biru tua berada tepat pada pandangan naeun. gadis itu menangkat wajahnya dan menemukan wajah seseorang yang sukses membuat kesialan dalam dirinya pagi ini.

“maaf aku tidakbermaksud membuatmu terluka” ucap laki laki itu denan nada bersalah namun naeun tak mengubrisnya.
naeun tak ingin menatap wajah laki-laki yang kini sudah duduk di samping dengan pandangan lekat kearahnya. apa mau laki-laki ini? pikir naeun dalam hati.
“kau telat ya? maaf ini karena aku”  laki-laki itu mulai bersuara lagi membuat naeun jengkel dengan laki-laki yang sepertinya banyak berbicara itu.
“aku juga telat. aku tadi melihatmu di depan kelasku dan sepertinya aku berada di kelas yang sama denganmu”
naeun mengerutkan keningnya namun tak sedikitpun menoleh kearah laki-laki itu.
“aku jongin. namamu siapa?” sahut laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya kearah naeun. dan lagi-lagi gadis itu tak memperdulikannya.

“hey kau tak menanggapiku ya? kau pasti sangat marah” tanya laki-laki itu yang mengerakan tubuh ya agar bisa menatap wajah naeun. naeun hanya menghela nafasnya dalam kebisuan. dan setedik kemudian laki-laki itu berada tepat di hadapan naeun, erlutut di hadapan naeun membuat gadis itu tersentak dan menatap laki-laki heran.
“mau apa kau?!” sahut naeun dengan suara lantang, merasa terganggu denan sikap laki-laki itu.
laki-laki itu menatap lutut naeun yang memerah. ia merogoh kantung jaketnya dengan ekspresi aneh yang membuat naeun bingung. ekspresi mencari sesuatu yang sulit di temukan di dalam sana dan tanpa meminta izin sekali pun setelah mengeluarkan secarik plester, dengan hati hati ia menempelkannya pada luka-luka yang ada di lutut naeun.
naeun menatap laki-laki itu dengan kedua matanya yang membesar. dadanya serasa tercekat menerima perlakuan seperti itu. apa maksud laki-laki itu? fikirnya. mereka tak saling kenal bahkan naeun sudah menunjukan bahwa ia tak menyukai dirinya diganggu tapi apa yang laki-laki itu lakukan membuat naeun menegang dan tak bergerak.
“selesai” ucap laki-laki itu dengan tulus kemudian menatap barundengan senyum lembutnya. sungguh naeun tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.
naeun segera mengalihkan pandangannya kearah lain.
“aku sudah bilang aku tidak apa-apa” mada sinis itu kembali keluar dati bibir kecil milik gadis itu.
tanpa fikir panjang naeun segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan laki-laki itu karena ia merasakan perasaan yang aneh pada dirinya. ia tak mengerti dan tak ingin terjebak dalam perasaan itu.

Jongin menggerutu pelan dan mengutuk dirinya sendiri saat menyadari kesalahan pada dirinya hari ini. telat masuk kelas pertamanya di kampus itu karena semalaman merayakan pesta kecil di apartement nya yang baru bahkan sampai saat ini apartement itu masih di penuhi sisa-sisa pesta yang belum sempat ia bersihkan sendiri. jongin membuka pintu apartement nya dengan malas dan memandang setumpukan sampah yang menggunung di ruang tamunya. “ah sial bagaimana aku membersihkan ini semua? bahkan aku belum membali peralatan bersih bersih untuk apartement ini” gerutunya sambil melempar tas nya kearah sofa putih pada ruangan itu.
jongin menghela nafasnya dan sedikit mengeluh dengan keadaan apartementnya sendiri. seulas ide yang muncul dalam otaknya membuatnya bangkit dan berjalan kearah pintu apartement nya. ia keluar dan menoleh kearah lorong kosong disana kemudian menoleh kearah pintu apartement di sebelahnya. “semoga saja penghuni apartement sebelah bisa meminjamkanku alat untuk bersih bersih” gumamnya pelan dan berjalan kearah pintu apartement di sebelah miliknya.
jongin tanpa ragu menekan tombol bell apartement itu dan menunggu sampai pemiliknya membukakan pintu.
semenit
dua menit
tak ada respon apapun dan ketika ia menekan sekali lagi pintu itu terbuka dan memperlihatkan wajah seseorang yang mungkin tak asing baginya.
“kau!!” gadis berambut panjang itu menatapnya dengan alis berkerut.
“ah!! kau gadis yang di kampus itu bukan? aku tak menyangka akan bertemu denganmu.” sahut jontin dengan riang dan tak percaya. ia melihat gadis yang memiliki wajah datar serta sinis itu kini mendesis pelan namun ia takperduli.
“bagaimana keadaan kakimu?” tanya jongin dengan tatapan lekat. gadis itu mendesis pelan dan memandang jongin dengan ujung matanya. “mau apa kau kesini? apa kau penguntit? kau mengikutiku?apa yang kau mau dariku!” sahut gadis itu dengan nada yang tidak bisa di bilang ramah.
“pergi kau! jangan mengikutiku”

jongin yang kaget melihat respon gadis itu serta tuduhan-tuduhan terhadapnya kini menatap gadis itu dengan wajah yang tak percaya.
“ya!! enak saja kau menuduhku. aku tinggal di apartement sebelahmu dan aku datang kesini tidak untuk tujuan itu” sahut jongin sambil menahan pintu apartement itu dengan kakinya sebelum gadis sinis itu menutupnya. Gadis itu mengerutkan keningnya dan menatapo Jongin dengan wajahnya yang merasa terganggu.

“apa tujuanmu?” Tanya gadis itu singkat .
Ada sedikit perasaan malu untuk mengatakannya, karena sesungguhnya tidak logis bukan? kalau berkunjung hanya ingin meminjam alat bersih-bersih.
“katakan sebelum aku menutrup pintu ini dan menjepit kakimu” sahut gadis itu lagi dengan nada sinis. Jongin memijat keningnya dan sedikit tersenyum malu.
“hmm.. aku ingin meminjam alat bersih-bersih milikmu. Boleh kan?”
.

Jongin memasuki rumahnya sambil membawa barang-barang yang ia butuhkan. Ternyata gadis itu tak terlalu jahat. Pikirnya.

Sejak melihat gadis itu saat di kampus tadi pagi, Jongin menemukan sesuatu yang berbeda pada gadis itu. Tertutup, misterius dan tersembunyi. Bahkan ketika di kampus tanpa disadari Jongin mengamati gadis itu tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan. Gadis yang menyendiri dan mungkin sibuk dengan pikirannya sendiri. Bukan, tapi gadis yang tak ingin menyatu dengan orang-orang di sekitarnya. Itu menurut pandangan Jongin ketika bertemu gadis itu.

Jongin mengeluarkan seulas senyumnya ketika mengingat bagaimana wajah sinis itu menatapnya. Ia tak tahu mengapa ia semankin penasaran dengan gadis yang terlihat sinis dan tak senang jika di ajak bicara oleh orang-orang. Entah mengapa jongin merasakan tatapan menyakitkan dari kedua mata gadis itu yang membuatnya ingin mengenal gadis itu lebih jauh.

.

hal biasa ketika naeun menemukan laki-laki itu di depan apartementnya ketika ia baru saja ingin berangkat ke kampus. Laki-laki tinggi dengan senyum yang membuat gadis itu sedikit merasa tegang. Dan ia takut… ia takut merasakan hal yang seharusnya ia rasakan. Ia takut merasakan sesuatu yang membuat dirinya hanyut kedalam keadaan itu. Ia tak ingin merasakannya sungguh.

Naeun menghela nafasnya lagi. Sudah sebulan laki-laki itu terus berada di hadapannya. Menyapanya terlebih dahulu, menghampirinya mengajaknya bicara. Naeun selalu berusaha melarikan diri dari laki-laki itu. Namun entah mengapa sesuatu mengganjal dalam dirinya sendiri.

“selamat pagi” sapa Jongin dengan senyum yang mengembang pada bibirnya. Naeun menoleh kearah lain agar ia tak melihat senyuman itu. Pergilah aku mohon pergi! Pinta naeun dalam hatinya namun kenyataannya memang laki-laki itu tak bisa mendengar isi hatinya.

Neun berjalan dengan langkah cepat untuk keluar dari bangunan yang tak begitu besar itu walau ia tahu laki-laki di belakangnya mengikuti langkahnya dan berusaha untuk berjalan sejajar dengan dirinya. Ini yang terjadi setiap hari membuat naeun berfikir bagaimana caranya untuk menjauh dari laki-laki itu.

“naeun tunggu. Sudah sebulan kita berkenalan kau masih tak mau menyapaku bahkan menatapku saja tidak” gerutu laki-laki dengan nada yang memelas namun naeun tak mau memperdulikannya karena semakin ia perduli ia semakin tak bisa lepas dari laki-laki itu. Ia akan mengutuk dirinya kalau saja ia hanyut kedalam perasaannya sendiri. Bodoh. Itu fikirnya.

“sudah aku bialng aku tidak mau mengenalmu. Jauhi aku!” sahut naeun dengan sinis namun hatinya sungguh bergetar. Ia tak mau mencintai siapa-siapa, ia tak mau merasakan apa yang ibunya rasakan, ia tak mu merasakan apa yang di alaminya waktu ia kecil ia tak mau semua itu terjadi lagi, maka ia selalu membiarkan dirinya sendiri.

.

Jongin hanya menghela nafasnya membiarkan gadis itu jalan menjauhi dirinya. Sampai sekarangpun ia belum bisa membuatr gadis itu menoleh padanya walau hanya sekali saja. Gadis yang sangat tertutup. Walau setiap hari Jongin selalu berusaha mendekati gadis itu tetapi gadis itu selalu menutup pintu hatinya. Tidak hanya padanya namun pada semua orang yang berusaha mendekat kepadanya.

Jongin sudah mendengar berbagai cerita mengenai gadis itu. Gadis yang tidak mempunyai teman maupun sekedar lawan bicara. Bahkan orang-orang pun menatap nya dengan enggan dan menganggap gadis itu adalah gadis aneh namun entah mengapa Jongin tak memperdulikan hal itu karena ia sudah menyadari bahwa ia menyayangi gadis itu walau naeun menunjukan bahwa dirinya tak ingin siapapun masuk kedalam kehidupannya.

Jongin menempatkan dirinya tepat di sebelah bangku naeun. kelas pagi yang sama membuat ia bisa sekedar mencuri pandang pada gadis tertutp itu. bisakah gadis itu sekali saja menoleh kearahnya? fikir jongin.

.

Kelas ramai itu kini berubah hampa. hanya kursi-kursi yang berjejer tidak beraturan dan lembaran kertas dimana-mana serta kedua orang yang masih tetap dalam posisinya.
naeun tetap tak bergeming dari tempat duduknya bermaksud membiarkan laki-laki itu pergi duluan meninggalkannya. namun laki-laki yang sedang menatapnya dengan bingung itu juga tetap saja pada posisinya.
naeun menghembuskan nafasnya dengan kesal berfikir untuk apa laki-laki ini terus mengikutinya? apa tujuan laki-laki itu terhadapnya? untuk apa? ia ingin sendiri. ia tak ingin ada seseorang di sampingnya.

“kau sedang menunggu apa?” suara laki-laki itu menggema di seluruh ruangan.
naeun menghela nafasnya, memasukan buku-buku besar itu dalam tas genggamnya.
“menunggumu untuk keluar” jawab naeun singkat dan dengan nada yang datar.
Jongin mengembakan senyum nya dan bangkit dari tempat duduknya dan menatap naeun. “baguslah kalau begitu kita keluar bersamaan saja. aku juga sedang menunggumu untuk keluar”
naeun tak bergeming namun di balik rambut panjangnya ia mendesis pelan. “tinggalkan aku” sahutnya.
Jongin menatapnya lekat dengan raut wajah yang sudah berubah menjadi serius.
“Tidak”

“mengapa? Aku ingin pulang bersama teman sekaligus tetanggaku” jawab Jongin dengan nada yang tidak mau kalah. Jongin menatap Naeun dengan mata yang terbuka lebar.

Naeun menggumam pelan dan tiba-tiba bangkit dari duduknya meraih tas tangannya hendak melangkah untuk menjauhi jongin. Jongin yang menangkap gerak gerik naeun segera mencegah kaki itu untuk melangkah dengan memegangi lengan naeun dengan lembut namun dapat membuat naeun menghentikan langkahnya.

“cukup nona Son Naeun. Apa yang selama ini ada dalam pikiranmu, uh? Begitu bencinya kau terhadap lingkunganmu? Apa kau tidak bisa menerima kehadarian orang-orang di sekitar mu? Apa kau tidak bisa menerimu untuk menemani mu? Banyak yang ingin berteman denganmu!! Kenapa kau selalu menutup diri!!” suara lantang dari Jongin yang belum pernah naeun dengar itu sungguh menggema. Tak hanya di ruangan itu namun di hatinya.

Geratan itu sungguh membuat hati naeun sakit. Sungguh! Apa yang di katakana laki-laki itu bohong! Tidak ada yang perduli dengannya bahkan ia lahir tanpa harapan. Hati naeun sakit menerima kenyataan yang selama ini ia alami dan mungkin sekarang omong kosong dari laki-laki di hadapannya itu membuat ia semakin benci akan duania luar. Semua bohong!

Naeun melepas genggaman tangan itu dengan paksa. Menyibak rambutnya dan menatap Jongin dengan mata yang membendung semua perasaan bencinya. Pada semua. Pada dirinya. Dan pada lakilaki di hadapannya .

Jongin mematung menatap Naeun seakan ia bisa merasakan seluruh emosi yang meluap dari di gadis itu. Ia melihat kepedihan yang ada di dalam gadis itu. Apa ia salah mengucapkan semua itu? Apa kalimat itu sungguh menyakitkan bagi naeun?

Naeun menatap Jongin dengan lekat sambil menghapus tumpahan dari tangisan di pipinya. “semua yang kau ucapkan itu bohong! Aku tahu semua orang membenciku!! Tidak ada yang menganggapku. Dan aku muak! Aku tak percaya adanya kesetiaan dalam hidup ini. Aku tak percaya adanya cinta. Aku tak mau merasakan itu semua dari orang-orang munafik di dunia ini. Biarkan aku sendiri. Kau mengerti?!”

Naeun menghapus tangisnya dan melangkah pergi meninggalkan Jongin yang kini hanya bisa berdiri mematung merasakan kesedihan yang ada di dalam diri gadis yang barus saja menitihkan airmata kepedihan di hadapannya.

Ia mengerti….

Ia paham…

Ada kesakitan dalam hidup gadis itu…

.

.
aku bertemu bomi pagi ini saat sedang berada toko buku. aku merasa sakit yang membekas. bahkan sekarang ia tak menatapku sama sekali. benar bukan? dulu waktu kami berteman ia hanya memanfaatkan hartaku? aku semakin tak ingin berteman dengan siapa-siapa di dunia ini.
– son naeun-
hari ini aku di kabarkan oleh ibu tentang ayah yang tiba-tiba jatuh sakit saat di kantor. apa yang ibu lakukan? ibu masih saja mengurusi ayah yang tidak pernah mencintainya sama sekali?
-son naeun-
aku benci dengan semua orang . aku tak percaya semua orang. tapi apa yang aku rasakan sekarang? aku tak bisa menahan semua itu bahkan saat laki-laki itu hadir tanpa sengaja dalam hidupku.
– son naeun-
aku tak mengerti. perasaan apa yang muncul saat aku menatapnya. bahkan mendengar namanya saja aku merasa jantungku berdegup. Tuhan aku mohon aku tak ingin merasakan itu. aku tak mau merasakan cinta. aku tak mau merasakan apa yang ibuku rasakan. aku tak mau merasakan sakit.
-selasa. son naeun-

apa aku menyukai Jongin?

.

.

.
Jongin terdiam sesaat memandangi setiap guratan yang terpampang jelas pada setiap lembaran pada buku kecil yang ia genggam. buku catatan milik gadis itu yang tak sengaja ia temukan di kelas dimana saksi bisu kejadian yang membuatnya mengerti dengan keadaan gadis itu.

Jongin tersenyum. Gadis lucu. Entah mengapa itu yang ada di dalam benaknya. Sungguh ini semua membuatnya ingin selalu menjaga gadis itu. Ia tulus menyayangi naeun bahkan sebelum ia mengetahui semua sakit yang dialami gadis yang mungkin kini menarih benci pada dirinya akibat kejadian tadi siang saat di Kampus. Jongin menyesali mengapa kata-kata yang ternyata membaut Gadis itu sakit keluar begitu saja dari bibirnya.

“astaga apa yang aku lakukan!” ucap Jongin sambil memijat pelan keningnya dan kemudian memasukan buku catatan milik Son Naeun itu ke dalam saku jaketnya. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Bahkan mungkin kini ia yakin Gadis itu tidak ingin ia ganggu sama sekali. Jongin menghela nafasnya ringan dan kemudian memejamkan matanya untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk membuat Gadis itu tak merasakan Kesedihannya lagi.

.

Naeun menatap lirih  menatap kearah langit-langit apartementnya. Fikiran itu kini tak lagi bisa ia hindari sudah semunggu setelah kejadian itu berlangsung, dan sudah seminggu pula laki-laki itu tak lagi berdiri di depan apartementnya, duduk bersebelahan dengannya atau sekedar mengetuk pintu apartementnya untuk mengajak minum kopi bersama. Bukankah ini yang naeun inginkan? Bukankah ini yang ia inginkan yaitu sendiri tanpa ada orang yang meperdulikannya? Tapi apa yang ia rasakan sekarang? Mengapa hatinya selalu merasa aneh ketika mengehatui laki-laki itu menjauh. Sungguh ia tak pernah merasakan ini sebelumanya dalam hidupnya dan ini adalah yang pertama bagi diri naeun  untuk memikirkan orang lain selain dirinya sendiri.

Naeun mengusap wajahnya dan kemudian bangun dari duduknya. Naeun mengambil mantel yang tergantung di balik pintu kamarnya dan memutuskan untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang ada di otaknya. Jongin Jongin dan Jongin.. apa hanya itu yang ia pikirkan saat ini? Mengapa hatinya tak tenang.. mengapa ia.. merindukan laki-laki itu?

Naeun menatap Pintu apartement yang berhadapan dengan pintu apartement miliknya. Lampunya padam menandakan bahwa sang pemilik tidak berada di kediamannya. Naeun menghela nafasnya dan menundukan kepala. Bahkan saat ini naeun sedang mengira-ngira dimana laki-laki itu berada.. bahkan naeun sangat ingin tahu tantang keadaan laki-laki itu.

.

Kopi hangat yang ia sesap itu menghangatkan tubuhnya di tengah dinginnya malam menjelang musim gugur yang di penuhi oleh angin. Naeun tak bisa menahan dirinya untuk tidak memikirkan laki-laki itu.

“naeun! Terkutuk kau karena memikirkan laki-laki yang bahkan tak menemuimu lagi” gerutu naeun pada dirinya sendiri. Ia tahu dan ia menyadari rasa itu sudah menjalan dalam tubuhnya, dalam dirinya, dalam hatinya. Ia tahu dan ia tidak bisa menutupinya lagi.

Apa ia harus berbicara dengan kai tentang perasaannya dan apa yang ia alami? Tidakkah ini begitu aneh? Naeun yang terakhir kali menangis, emosi di hadapan laki-laki itu dan sekarang menyatakan kalau ia menyukai bahkan mencintai laki-laki itu.

Naeun menghela nafasnya kemudian meneguk kopi hangat itu lagi. Hatinya tak berhenti bertanya apa yang harus ia lakukan saat ini. Bahkan kecemasan tiba-tiba hadir ketika pikirannya melaju pada hal menyakitkan yang dahulu. Oh tidak! Ini yang membuatnya ak ingin berhadapan dengan siapa-siapa, tak ingin mencintai siapa-siapa. Naeun menarik nafasnya dan kemudian menghilangkan pikiran negative itu. Naeun bangkit dari duduknya berniat untuk menuggu Jongin di depan apartement nya, meminta maaf atas kata-kata yang terlontar akibat emosi pada kejadian kemarin. Ya… ia akan meminta maaf dan akan membuka dirinya untuk laki-laki itu.

.

Suara gemerisik dari tangga kecil apartementnya membuat naeun menoleh sekilas kearah sana. Naeun yang hendak menunggu kai untuk meminta maaf itu menatap kaget kearah laki-laki yang baru saja menaiki tangga terakhir dengan gadis berambut merah di sampingnya. Jongin yang menatap naeun dengan senyum itu kini segera menghampiri gadis yang diam mematung dengan fikirannya sendiri sambil menatap Jongin dan gadis berambut Merah itu dengan tatapan penuh.

Reaksi Naeun yang Jongin tak habis fikir. Gadis itu tentu berdiri di depan apartement miliknya untuk menemui dirinya bukan? Namun wajah Naeun yang kini menatap Jongin dengan mata yang berkaca-kaca dan tubuh yang gemetar. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Fikir Joingin tanpa menyadari ada kejanggalan di antara mereka.

“Naeun? Kau menungguku?” Tanya Jongin dengan hati-hati pada Naeun. Naeun sedikit tersentak dan melangkah mundur untuk menjaga jarak dengan laki-laki itu. Pada akhirnya ia melakukan hal itu lagi dengan hati yang bergetar karena kecewa dan sakit. Naeun tak bisa berfikir panjang saat ini karena ia bergitu kaget dengan apa yang ia lihat saat ini. Dan hatinya juga selalu bertanya siapakah gadis itu? Apa naeun sudah terjebak dalam permainan Jongin ?

“A-aku.. Tidak!!! Aku tak menunggu kau” elak Naeun dengan segera dan ia segera menundukan kepalanya. Naeun berjalan dengan langkah cepat melewati Jongin dan Gadis berambut merah yang juga menatapnya dengan kebingungan setelah mengucapkan kata-kata perpisahan pada Jongin.

Jongin menatap sosok Naeun yang perlahan hilang dari pandangannya dan kemudian ia menatap Krystal, gadis berambut merah yang berada tepat di belakang dirinya. Jongin menghela nafas sambil memutar bola matanya. Ia memijat kepalanya dan menatap krystal.

“bodoh! Apa yang kau tunggu lagi? Kejar sebelum ia semakin membenci kau dan orang-orang di sekitarnya” titah Krystal sambil memasang wajah yang di buat marah dan meletakan kedua tangannya di pinggang.

Jongin yang menatap Krystal dengan senyum tanpa berkata apa-apa ia segera berlari mengejar gadis berambut hitam panjang yang ia yakin sudah menangis karena kejadian ini.

.

Naeun tak mengerti kemana kedua kakinya itu melangkah. Ia tidak mengerti tujuan apa yang harus ia capai saat ini, ia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan dengan tangis ini. Yang ia fikirkan hanyalah menjauh darin laki-laki itu.

Aku membencimu Jongin! Aku tahu dari awal aku sudah salah menilaimu. Aku tahu dari awal memang seharusnya aku buang perasaan ini jauh jauh. Aku tahu seharusnya aku tak pernah berfikir untuk menerima siapapun dalam hidupku…

Naeun mengusap ujung matanya untuk mencegah butiran-butiran air itu jatuh begitu saja. Bahkan seharunya ia tak perlu menangis, bahklan seharusnya ia tak perlu measa sedih, tapi sungguh ini tak bisa ia cegah lagi. Laki-laki itu sempat merubah pemikirannya tentang cinta, tentang perasaan dan tentang pemikiran yang selalu ia terapkan dalam hidupnya. Namun sekarang apa yang perlu di pertimbangkan lagi? Bahkan kenyataan itu lebih terasa pahit.

Naeun menghentikan langkahnya dan kini mengatur nafas dan tangisnya pada kawasan yang tidak begitu ramai. Ia sama sekali tidak perduli ia berada dimana, yang ia butuhkan adalah ketenangan.

Sebuah tangan meraih pergelangan Naeun membuat Naeun tersentak tanpa bisa berbuat apa-apa dan beberapa detik kemudian ia hanya merasakan sesuatu kehangatan. Kehangatan yang sesungguhnya ia butuhkan dan euntah mengapa kini tangisnya tak bisa terbendung lagi.

Kai mendekap naeun dalam pelukannya, mengusap setiap helai rambut panjang yang terurai dan membiarkan gadis itu menangis dan mengeluarkan seluruh beban yang mungkin tak pernah ia keluarkan sama sekali.

“Aku benci padamu” ucapan diiringin dengan isak tangis itu membuat Jongin tersenyum dan mempererat pelukannya.

“Aku tahu sakit yang kau alami, aku tahu ketakutan yang kau alami.. tapi biarkan aku menjadi obat bagi hatimu yang sakit, bairkan aku menjadi  seseorang yang membuatmu nyaman sehingga ketakutanmu hilang begitu saja”

Naeun hanya terdiam tanpa menghentikan tangisnya. Naeun ingin beban yang mengganjal itu benar-benar keluar dan entah keajaiban apa yang terjadi sehingga dirinya merasa nyaman berada di sisi laki-laki itu.

“Apa kau mempermainkanku?”

“kau mendesis kecil dan kini di tatapnya wajah naeun yang memerah lalu di usapnya butiran airmata yang jatuh bebas di kedua pipinya.

“tidak dan tidak akan pernah. Aku menyayangimu son naeun.. aku mencintaimu” Jongin menatap kedua mata naeun lekat. Dan naeun merasakan ketulusan dari mata itu, membuatnya yakin laki-laki itu bukan seperti orang-orang yang selama ini selalu menyakitinya.

Jongin mendekap naeun lagi di dalam pelukannya. “dengarkan aku”

“kalau kau tidak percaya dengan orang-orang  maka percayalah aku adalah satu-satu nya orang dimuka bumi ini yang mencintaimu setulus hati”

“jika kau tidak pecaya dengan cinta.. percayalah hanya aku yang mencintaimu”

“aku ada disini untukmu”

Naeun memejamkan matanya, merasa dirinya jauh lebih tenang dan bahagia. Bahkan ia tak pernah merasakan kebahagiaan ini sebelumnya. Dan ia selalu berharap ia tak akan kehilangan kebahagiaan ini selamanya. Ia berharap semuanya akan berjalan lebih baik dengan Jongin yang berada di sisinya.

“Jangan tinggalkan aku…” ucapan kecil itu kembali membuat Jongin tersenyum dan mencium kening gadis yang sangat ia sayangi.

“tidak akan pernah”

The End

“jadi… siapa wanita yang bersama mu tadi?”

“kau cemburu?”

“aku.. tidak tau..”

“kalau aku bilang dia adalah pacarku yang pertama dan kau menjadi yang kedua?”

“YA!!! JONGIN!!”

“hahahah dasar wanita pemarah.. dia adalah sepupuku.. dan hanya kau yang akan menjadi milikku”

asadd

 

TYPO PASTI DIMANA MANA KAN? HUAHAHAHHAHA 😀 OKEE SHINSTARKEY SI RATU TYPO KEMBALI MEMBUAT SEBUAH FF YANG SEBENERNYA CERITANYA UDAH PASARAN BANGET TAPI ENTAH KENAPA PENGEN AJA GUE NULIS BEGINIAN.. HAHAH DAN BERHUBUNG GUE SUKA KAIEUN JADI…. OKELAH GUE TULIS HAHAHAHAHA OKE SEMOGA ADA YANG SUKA ^^

Iklan

3 pemikiran pada “Sense of Love

  1. aciat ciaat temsek sama cansek /ini apaah????/
    charanya kebalik ya eon wkwkwk biasa kan temsek yg jual mahal si yeoshin yg baik dan tabah hati/? tp ini inovasi baru berarti (y)

    aku suka 😀
    DAEBAK!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s