Rain

rain

Rain
Suho/Chorong
plot©Shinstarkey | characters. they belong to god and themselves
drabble |Romance|PG|Indonesia

tetesan embun pagi yang dingin. gadis yang memiliki rambut berwarna coklat yang memandangi hamparan danau luas di luar sana hanya menghela nafas, udara dingin itu masuk kedalam tenggorokannya namun bukan perasaan lega melainkan sesak yang ia rasakan. awan tebal itu membuatnya terhanyut dalam ketakutan. ia benci hujan ia sangat benci hal itu. saat hujan ia tak bisa melakukan apa-apa semua terjadi begitu menyakitkan.
kaki itu melemas dan tak bisa lagi menahan beban tubuhnya. dengan tangisan itu ia hanya bisa mengubur dirinya pada pelukan erat pada lututnya dan hanya bisa menerima bayangan itu memghantui fikirannya.


apa yang paling kau takuti?

hujan………..

“SELAMAT TAHUN BARU”

semua bersorak sorai menyambut datangnya tahun yang menandakan akan ada banyak hal baru yang harus di jalankan pada tahun baru ini.

Melihat yang lain bergembira, bahkan itu yang hanya di lakukan seorang Chorong. Gadis dengan latar belakang sederhana, tidak terlihat mencolok di bandingkan dengan teman sebaya nya yang berada di acara penyambutan tahun baru dimana ia berada.

Satu tahun yang lalu…. Dan semuanya masih teringat jelas diingatannya. Mengapa ia selalu terpaku pada ingatan itu? Bahkan dirinya sendiri tak bisa menemukan jawaban atas semua yang ia fikirkan.

Saat hujan. Semua membentangkan payung beraneka ragam. Kegembiraan  tahun baru sirna dalam hitungan detik.

“Jangan mencoba hubungi-ku lagi” ucap suara berat dari balik payung hitamnya, membuat chorong menatap nanar kearah rahang tagas yang di miliki laki-laki itu.

woohyun tak meneruskan kata-katanya lagi, Bahkan laki-laki itu tidak menatap gadis yang terpaku dengan payung merah yang sudah terlepas dari genggaman.

Sebuah rasa sakit itu menusuk. Paru-paru yang serasa tak manpu lagi bekerja normal membuat dadanya sesak. apa yang baru saja di dengar chorong?

“M-maksudmu?”

“Aku akan pindah ke Amerika dan akan menjalankan hidup baru dengan wanita lain disana” ucapan itu terdengar sangat ringan diucapkan laki-laki yang tiga tahun terakhir ini menjalani hari-hari denan chorong. Namun kata-kata itu merupakan beban terberat yang harus di cerna oleh otak chorong.

“Maaf. Selama ini aku tidak serius denganmu”

Sakit

Ribuan bahkan jutaan butiran air itu serasa seperti jarum yang menusuk kulitnya. Chorong tak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya yang melemas dan airmata yang sudah bercampur dengan tetesan hujan.

Dengan teganya laki-laki itu hanya memandangi dirinya tanpa mengatakan apapun, tanpa sentuhan kecil, tanpa rasa kasihan, tanpa simpati. Tanpa berkata apa-apa Woohyun hanya pergi meninggalkan Chorong bersama butiran hujan yang sukses membuat dirinya tak bisa merasakan arti dari perasaannya sendiri.

~

Suara geledek itu kembali membuat bulukuduknya menegang. Fikirannya sudah tak karuan. Ketika ia harus kembali merasakan kesakitan itu setiap kali hujan datang.

Chorong berlari kearah bilik kecil dan berusaha menenangkan dirinya. Pesta kebun yang di adakan saat malam tahun baru itu memang sirna dengan keadaan langit yang tak mendukung.

Matanya terpejam sambil bersender pada dinding bilik. Tubuhnya semakin lemas ketika rintikan hujan yang cukup deras mulai bertaburan dari langit.

“Takut dengan hujan?” Suara itu membuat chorong sedikit tersentak. Suara laki-laki yang tepat berada di balik tubuhnya.

chorong hanya menoleh kecil pada laki-laki yang tak disangka berasa di bilik yang sama dengan dirinya.

Laki-laki yang kini menghampiri chorong hanya tersenyum tipis dan menyenderkan punggungnya pada dinding yang sama.

“Kenangan buruk?”

Chorong masih terdiam dan tak mau berbicara. Tubuhnya yang masih lemas menahan perasaan aneh itu tak bergerak sama sekali.

Suho. Teman satu kampusnya yang juga hadir dalam acara penyambutan tahun. Laki-laki yang tidak bergitu dikenalnya karena tak banyak berbicara itu kini malah mengajaknya berbicara di tengah-tengah keadaan yang paling tak ia senangi.

“Memang apa salah hujan? Bahkan aku sangat menyukainya” suara itu lagi dan chorong hanya meringis kecil. Setidaknya laki-laki itu tak mengerti apa yang dirasakan dirinya.

“Kau hanya tak mau membuka hatimu untuk sekitar dan masih memikirkan pedih yang muncul akibat rasa sakit itu. Ini semua karena Woohyun bukan?”

Nama itu membuat chorong menoleh dengan sempurna kearah suho. Laki-laki itu hanya menatap rintikan hujan di luar sana sambil tersenyum tipis. Bagaiman Suho tahu apa yang terjadi dengan dirinya dan woohyun?

Suho beranjak dari tempatnya lagi, menghampiri pembatas bilik yang membuatnya bisa merasakan hawa hujan, percikan air yang dingin. Jemarinya dengan sengaja di bermain besama butiran-butiran air yang dengan leluasa melewati sela-sela jemarinya.

“B-bagaimana kau tahu?”

Suho menoleh sedikit  kearah chorong dan kembali dengan senyum tipisnya. “Itu bukan hal yang tersembunyi lagi, kau dan Woohyun tercatat sebagai pasangan paling sempurna di kampus bukan? Dan sekarang nyatanya kalian tak bersama lagi dan lebih parahnya semua orang tahu tentang kejadian pencampakan seorang gadis di tengah hujan”

Kalimat-kalimat yang di tuturkan dengan jelas oleh suho itu membuat chorong meringis kecil, seakan semua kejadian yang sakit itu kembali berputar dengan sempurna di otaknya.

“Cukup!” Ucap chorong sambil memejamkan matanya. “Aku memang benci terhadap hujan”

“Banyak hal yang harus kau fikirkan dibandingkan memikirkan masalalu” ucap suho seraya tak memperdulikan tentang ringisan miris chorong yang bersandar lemah pada dinding bilik.

“Hujan tak seburuk yang kau kira, bahkan hujan bisa menghapus airmatamu tanpa orang tahu” Suho memandang chorong lekat. Tatapan itu sungguh membuat chorong terpaku. Hatinya bertanya-tanya tentang dua perasaan yang berbeda. Rasa takut itu masih ada namun rasa tertegun dengan apa yang di katakan oleh laki-laki di hadapannya juga membuat chorong berfikir lebih jernih untuk sekali lagi.

Suho tersenyum sesaat kearah chorong dan beberapa detik kemudian ia membiarkan dirinya berada dibawah jutaan butiran air yang membasahi dirinya. Suho masih menatap chorong dengan senyum nya.

“Bahkan hujan tak akan menyakitimu…”

“Dan kau bisa mencoba dirimu untuk berdiri dan melupakan sakit itu”

Tangan laki-laki itu mengarah kearah chorong, seraya mengajak chorong untuk melangkah menatap masadepannya. Chorong hanya terpaku dan tak begerak, ia takut.. Ia sungguh takut dengan semua yang ia rasakan. Tapi sampai kapan ia akan merasakan ini? Sampai kapan ia akan takut terhadap hujan?

Laki-laki itu masih memancarkan simpul manis di bibirnya, merasakan hujan tanpa beban, merasakan jutaan air yang mengguyur tubuhnya dengan wajah tenang. Chorong menatap suho dengan ragu-ragu. Bisakah ia melewati semua ini? Kejadian itu terus berputar namun tekad untuk merubah semuanya telah hadir untuk menguatkan dirinya.

Chorong memejamkan matanya, menahan semua perasaan takut yang di alami dirinya sendiri. Airmata itu mulai berjatuhan dan sesak mulai ia rasakan. Oh Tuhan bangai mana ia bisa melewatkan semua ini?

Masih dengan memejamkan matanya, Sebuah tangan meraih pergelangan tangan gadis itu. Tangan yang dingin dan basah yang membawanya merasakan jutaan kilau air yang turun dari langit. Chorong menangis lebih kencang. Ia benci hujan! Beberapa kali ia katakana itu di dalam hatinya.

“Menangislah, karena hujan akan menutupi tangismu itu, dan hujanlah yang akan menghanyutkan semua rasa sakit yang ada di pikiranmu. Keluarkanlah” Suara itu berdengung di telinga chorong , suara seseorang yang kini berada di hadapan chorong, berada di bawah rintikan hujan bersamanya.

Chorong memuka matanya di antara isak tangis yang menghantuinya. Ia tak mengerti keajaiban apa yang membuatnya merasa lebih lega, merasa lebih nyaman, merasa lebih tenang dengan hujan yang mengguyur tubuhnya dan merasa lebih nyaman berada di sisi laki-laki itu.

Suho tersenyum menatap chorong dengan sekujur  tubuh yang  tak luput dari air yang membasahi. “maukah kau berjanji padaku untuk menatap masadepan mu lebih kuat mulai dari sekarang?” ucapan laki-laki itu membuat chorong tersenyum. Entah sejak kapan laki-laki itu berada di dekatnya, namun chorong merasakan hal yang lain dari laki-laki itu.

“terimakasih, Suho” ucap Chorong sambil menganggukan kepalanya dengan sangat yakinnya. Untuk pertamakalinya ia merekahkan senyuman di tengah-tengah hujan. Untuk pertamakalinya ia merasakan kebahagiaan di tengah-tengah hujan.

Suho mengulurkan tangannya, mengganggam tangan chorong dengan erat. Entah apa yang terjadi, tangan itu terasa hangat, membuat gadis itu merasa lebih nyaman berada disana, dan Chorong mulai merasakan kehidupannya lagi, dan ia harap bersama laki-laki di hadapannya yang membuat dirinya merasa lahir kembali kedunia dan melupakan masalalu yang menghantuinya selama ini.

END

fbd

Iklan

3 pemikiran pada “Rain

  1. Kenapa gak ff ini yg kamu ikutin kompetisi yg eonn tawarin kemarin… kenapaaaa nadddd???

    Ini sedih lho ya soalnya ttg putus cinta bergalau ria huahahaha

    Untung ada abang suho #terharu #ilapingus wkwk
    Ditunggu ff surong yg lainnya ya nad

    EXOPINK JJANG!!!

  2. Kyaaa~~ harus teriak berapa kali lagi tiap baca ff nya author duh~~
    Feelnya selalu dapet waah~~
    Tapi satu lagi, masih ada typo.
    Tapi overall keren deh!!! Semangat!!! ❤️❤️❤️

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s