When I Meet You

taekwoon

When I Meet You
Leo / Woohee
plot©Shinstarkey | characters. they belong to god and themselves
drabble |Romance|PG|Indonesia

lala

Bibir itu tersimpul manis. Bae Woohee, gadis yang mempunyai senyum manis itu sungguh merasa sangat gembira saat di berikesempatan untuk bertemu dengan teman-teman semasa SMA-nya. Woohee yang kini meneruskan perusahaan keluaranya setelah menyeselsaikan kuliah di luar negri cukup bahagia berada di acara tersebut. Reuni beberapa angkatan yang di selenggarakan besar-besaran.

“Woohee-ya. Kau sungguh terlihat semakin cantik” ucapan itu tak hentinya di keluarkan setiap orang tang bertemu deban woohee di acara tersebut.

Woohee mengalihkan pandangannya. Seketika jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Woohee tertegun memandang seseorang dengan wajah yang dingin yang membuat jas hitam rapih milik laki-laki itu sangat sempurna di kenakan olehnya. Mata tajam itu menatap woohee lekat serasa tatapan itu menusuknya. Seketika itu juga jantung gadis itu semakin berdebar.
Jung Taekwoon. Nama laki-laki itu memang selalu terngiang di otak woohee, bahkan sejak beberapa tahun yang lalu.

Laki-laki itu mengalihkan pandangannya kearah pintu keluar dan tak lama mata Woohee mengikuti gerak laki-laki itu yang ternyata tengah berjalan ke arah luar.

“Woohee-ya!! Ayo berfoto bersama kami” suara dari salah satu teman woohee itu cukup menghentikan dirinya dari lamunan  yang tanpa sadar sedang memperhatikan laki-laki dingin itu.
Woohee memancarkan senyum manisnya lagi. “Kalian saja dulu, aku fikir aku sudah sedikit mabuk. Aku akan keluar untuk mencari udara segar dulu” setelah memberikan gelas berkaki tinggi kepada temannya, woohee kembali memusatkan dirinya ke arah pintu keluar gedung itu dan mulai melangkahkan kakinya.

Angin musim gugur memang cukup membuat sekujur tubuhnya menggigil namun Taekwoon hanya memandang  kosong kearah hamparan rumput luas yang terlihat gelap tanpa lampu taman yang meneranginya.
Seulas senyum kecil mungkin nampak pada bibir tipisnya setelah mendengar hentakan suara high heels dari arah belakang namun senyum itu tertutup oleh dirinya yang mempunyai sifat dingin.
Helaan nafas kecil terdengar dan entah mengapa Taekwoon merasakan kehangatan saat ini. Kehangatan saat bersamanya.

Hening, bahkan suara angin yang berembus itu terdengar riuh di kuping keduanya. Saat mereka sama sama menyembunyikan degup jantung yang memacu dalam diri mereka. Sungguh ini seperti hal nya anak remaja yang sedang dilanda kasmaran, padahal mereka tak lagi berada dimasa-masa itu.
“Bagaimana kabarmu?” Laki-laki dengan Wajah yang dingin itu akhirnya mulai berkata kata. Woohee  tersenyum kecil. “Aku baik, bagaimana denganmu?”
Taekwoon menundukan kepalanya. “Biasa saja” Jawabnya singkat. Woohee bahkan sepertinya sangat paham dengan sifat laki-laki itu. Di balik kesan ‘es’ yang di cerminkannya, Taekwoon yang berada satu tingkat di atas woohee semasa SMA mempunyai kesan baik terhadap woohee yang termasuk dalam kelopok kurang beruntung dalam masalah pelajaran.
“Kau tidak berubah Taekwoon-sii” ucap woohee dengan formal. Taekwoon sedikit mendecak dan memandang woohee dengan wajah yang datar. “Sejak kapan kau berbicara padaku dengan formal seperti itu woohee?”
Woohee tersenyum kecil “sejak kita tak pernah bertemu. Aku fikir kau lupa terhadapku Jung Taekwoon-ssi”
Taekwoon tersenyum kecil dan mengela nafasnya. Terlihat asap asap dingin berhembus dari mulutnya di malam musim gugur ini.
“Aku kira kau melupakanku sejak kau lulus” lanjut woohee lagi, menambahkan.
Taekwoon menatap woohee masih dengan wajah datar.
“Aku langsung berkuliah sambil bekerja”
“Bakerja?”
“Ya, bekerja. Untuk kita.”
Woohee mengerutkan dahinya dan menatap Taekwoon dengan wajah yang bingung.
“Maksudmu apa? Aku tak mengerti”
“Hah dasar kau masih saja terlalu lambat menanggapi sesuatu seperti dulu” Taekwoon menghela nafasnya dan mangulurkan tangannya untuk menggapai puncak kepala woohee. Gerakan halus saat mengusap-usap kepala woohee, membuat woohee kini terdiam tak bisa berkata apa apa. Sungguh ia yakin rasa itu masih ada sampai saat ini.
Woohee dan Taekwoon. Bukan hal yang asing lagi bahkan dulu ketika taekwoon menjadi kakak kelasnya. Dengan lantang woohee meminta laki-laki dingin itu untuk mengajarinya berbagai macam pelajaran. Walau semua orang menakuti Taekwoon karena kesannya yang dingin dan pendiam namun Woohee tetap bersih keras untuk meminta laki-laki itu mengajari dirinya.
Woohee memang bukan anak pintar disekolahnya, bahkan nilai bercorak merahpun sering kali ia dapati, berbeda sekali dengan Taekwoon yang menjadi juara umum Angkatannya. Woohee sama sekali tidak takut terhadap seniornya yang Dingin,  menakutkan dan tidak banyak bicara itu. Walau sudah mendapatkan beberapa kali penolakan untuk di ajarkan oleh seorang Jung Taekwoon, Woohee tak gentar untuk menghampiri laki-laki itu. Dengan berawalan rasa iba, pada akhirnya Taekwoon mau menuruti permintaan woohee.
Namun bahkan mereka tak tahu perasaan apa yang mereka rasakan setelah itu. Dan memutuskan untuk menguburnya dalam dalam.

“Kau memutuskan kontak denganku setelah kau lulus. Jahat sekali” Woohee memukul lengan Taekwoon pelan untuk menimbulkan ekspresi kesal yang ia buat. Sungguh ia menrindukan laki-laki itu.
“Maaf. Lantas kau berkuliah ke luar negri saat aku mencarimu” timpal Taekwoon dengan nada kesal.
“Ya! Jelas-jelas kau yang jahat terhadapku. Kau tak menghubungiku sama sekali. Memangnya aku tahu keadaanmu? Dasar menyebalkan” Balas woohee dengan lantang. Taekwoon yang jarang sekali Tersenyum kini malah merekahkan bibirnya. Wajah yang sangat gembira itu sungguh membuat woohee bingung.  Dalam hitungan detik woohee menemukan dirinya berada di dekapan laki-laki itu. Jantung yang tadinya berdetak sesuai irama, kini kembali berdetak lebih cepat seperti sebelumnya.
“Aku rasa aku akan putus asa jika ternyata kau tidak datang ke acara reuni ini. Lantas aku harus mencarimu kemana?”
Suara yang sesungguhmya bervolume kecil itu entah mengapa terdengar begitu mendebarkan bagi Woohee. Woohee membelalakan matanya tanpa bisa menggerakan tubuhnya sedikitpun.
“Aku merindukanmu Bae Woohee” suara itu kembali terdengar. Ucapan sangat sederhana yang di lantunkannya namun cukup membuat mata woohee memanas dan merasa air matanya benar-benar ingin tumpah.
“Dasar idiot! Dimana otak sempurna-mu Jung Taekwoon? Kau bisa mencariku setelah aku kembali ke Korea. Kau tahu bukan bahwa aku meneruskan perusahaan milik keluargaku disini” bahkan Seorang Bae Woohee kini meluapkan semua amarahnya yang tertahankan setelah bertahun-tahun ia tak bertemu dengan laki-laki yang mendekapnya itu.
suara helaan nafas Taekwoon terdengar pasrah namun tangan nya masih menggapai wanita bertubuh mungil di depannya. Wajah dingin itu kini pudar terganti dengan wajah manis seorang anak kecil yang tak ingin kehilangan mainan kesayangannya. Itulah Taekwoon.
“Aku memang pengecut. Kau sediri tahu ” ucap laki-laki bersuara halus itu.

Woohee menarik nafasnya dan berusaha mengatur emosinya. Entah rasanya ia sangat marah dengan Taekwoon, namun rasa rindunya mengalahkan segalanya.
“Dasar pengecut!” Ejek woohee sambil menatap Taekwoon dengan senyuman kecil. Tawkwoon mengalihkan wajahnya menahan senyum manis yang sungkan untuk ia tunjukan.
“Dasae Jung Taekwoon sumbae. Kau tak pernah berubah!” Celetuk woohee lagi seraya bergurau dengan meremehkan Taekwoon sambil memukul bahu tegap milik laki-laki itu.
“Dasar Bae woohee. Kau masih bertingkah seperti anak-anak” ucap Taekwoon tak mau kalah.
Entah bagaimana semuanya menjai sunyi. Ada apa ini? Bahkan gurauan tadi berakhir dengan hati berdebar ketika mereka saling menatap wajah satu sama lain.

Taekwoon mulai berdeham kecil, matanya mungkin tak sanggup melihat wanita yang berdiri kaku di hadapannya itu. Apa yang terjadi di antara mereka sesungguhnya? Bahkan Woohee kehabisan kata-kata untuk mengakhiri suasana tegang di antara mereka.

“nnggg..  Bae Woohee” suara taekwoon yang bervolume kecil  itu adalah sebuah permulaan untuk memecahkan keheningan di antara mereka. Woohee mendongakan kepalanya menatap Taekwoon dengan sedikit keraguan.

“hm?”

Laki-laki itu terlihat sedikit tegang sambil mengatur nafas agar detak jantungnya kembali berdenyut dengan normal. “Woohee, Aku ini memang pengecut. Bahkan sampai saat ini aku belum pernah mengucapkan apa yang seharusnya aku ucapkan sejak dulu”

Woohee mengerutkan keningnya, menatap Taekwoon dengan bingung namun masih menunggu laki-laki itu untuk meneruskan kata-katanya.

“Aku memang bukan terlahir dari kelurga Berada sepertimu dan sejak dulu bersekolah saja hanya mengandalkan otakku untuk mendapat beasiswa dan….”

Belum sempat Taekwoon melanjutkan kalimatnya, Tanpa disangka tangan Woohee terulur menyambut pipi laki-laki itu, membuat Taekwoon menghentikan kata-katanya.
“Ya! Siapa yang menyuruhmu berpidato seperti itu?” Sahut woohee sambil mencubit pelan pipi Taekwoon.
Taekwoon menatap Woohee dengan wajah datar sambil mengatup bibirnya rapat-rapat.

“Kau membuatku berdebar saja. Kalau kau hanya ingin membicarakan ini, aku sudah tahu semua tentangmu. Dan sudahlah aku tidak suka membahas tentang kekayaan. Aku dan kau sama saja.” Ucap Woohee lagi panjang lebar sambil mengerucutkan bibirnya. Tangannya yang tadi pencubit pipi Taekwoon itu di silangkannya di depan dada.
Taekwoon memutar bola matanya dan menatap woohee dengan lekat.
“Tapi kau tak tahu perasaanku, Bae Woohee”
Seketika suara itu membuat nafas Woohee tercekat dan pandangan matanya tak berani untuk mentap langsung laki-laki di depannya.
Taekwoon mengulurkan tangannya dan menggapai tangan woohee, Di genggamnya lembut tangan itu.
“Bae Woohee, maaf karena sejak dulu aku terlalu pengecut untuk mengatakan hal itu. Tapi saat ini boleh kah aku meminta mu sesuatu?”
Woohee hanya terdiam, bahkan ia tak tahu bagaimana cara berkata-kata.
“Aku ingin kau yang menjadi pendamping hidupku”
Sungguh yang berada di hadapan Woohee adalah seorang Jung Taekwoon si manusia dingin itu? Namun tangan besar itu terasa hangat di tengah-tengah malam yang dingin ini.
Woohee masih menahan nafas layaknya oksigen di sekitar mereka berkurang dengan drastis. Tatapan mata Taekwoon tetap seperti biasanya, tegas dan serius, menandakan bahwa yang ia ucapkan bukan hanya gurauan semata.
“Bodoh!” Celetuk Woohee saat ia mulai bisa mengendalikan dirinya sendiri dan mengendalikan suasana di antara mereka berdua.
“Kau pengecut! Dasar Jung Taekwoon !” Ucap gadis itu dengan seenaknya. Taekwoon hanya terdiam dan terlihat wajah yang sedikit muram namun masih menunjukan kesan datar yang dingin.
“Laki-laki macam apa kau? Pengecut!”

Taekwoon menghembuskan nafas panjangnya. Aura dingin dalam diri Taekwoon seakan membuat sekitarnya menjadi beku. Ia mengerti apa jawaban dari perkataan Woohee tersebut.
Tanpa menoleh kearah Woohee, Taekwoon membalikan badannya. Bahkan tanpa berkata apa-apapun ia rasa itu lebih baik untuk dirinya untuk menjauh.

Taekwoon dalam diam mengendus nafas amarah sampai langkah kedua kakinya berhenti mendengan seruan dari arah belakangnya.

“Jung Taekwoon sunbae!”

“Sebelum kau pergi aku ingin mengatakan sesuatu padamu!!”

Taekwoon masih terdiam tanpa membalikan tubuhnya untuk menatap gadis yang berseru di antara angin yang berembus.

“Aku bersedia menjadi pendamping hidupmu, sunbae yang sangat pengecut!!” Suara Woohee yang Terdengar lantang itu sungguh melegakan. Senyum itu mwrekah sempurna di bibirnya.

Dengan jarak beberapa meter, Taekwoon membalikan tubuhnya dan menatap Woohee yang terengah engah sambil merekahkan senyumnya pada Taekwoon. Taekwoon menatap Woohee tanpa bisa menahan senyum manis yang jarang ia tunjukan.

“Ya! Pangeran es! Aku mencintaimu”
Ucap Woohee lagi sambil terkekeh menatap Taekwoon.

“Aku juga”
Bibir tipis itu akhirnya terbuka dan tersenyum bahagia.

.

End

wpid-PicsArt_1390964046013.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s