Mr.Bean

Untitled-1 copy

Mr.Bean
Hongbin/Mina
plot©Shinstarkey | characters. they belong to god and themselves
Oneshot |Romance|PG|Indonesia


 

Matahari terik, dan kemudan sinarnya mulai menusuk poripori kulit. Mina tersenyum sambil memejamkan matanya seraya menghindari pancaran Raja siang. Musim panas dan waktunya untuk menikmati keringat serta dahaga yang hadir ketika musim seperti ini.
“ya! Mina! Bereskan kamar nomor 403!” Suara yang sedikit bergema itu membuat Mina menoleh kearah wanita berumur 40 tahun yang berdiri di ambang
pintu belakang sebuah penginapan kecil di tepi pantai selatan. Kyungri, wanita yang sudah menginjak usia 40 tahun namun masih terlihat cantik dengan tatanan rambut, pakaian dan perawatan kulit.
Mina tersentak kaget dan menganggukan kepalanya. Pekerjaan Part Time yang biasa ia lakukan ketika Libur musim panas. Kyungri, wanita yang sudah Mina anggap seperti keluarganya sendirilah yang menginzinkan Mina bekerja di
penginapan miliknya saat musim panas
berlangsung, dimana banyak pengunjung
yang dengan cuma-cuma menyewa kamar demi menikmati suasana pantai selatan.
“Baiklah Bibi. “ Mina mengangguk dengan pasti sambil meraih seprei putih yang masih menggantung pada seuntas tali di puncak bangunan penginapan .
“kau sudah makan? Jangan terlalu lelah bekerja. Cuaca
sangat panas jangan sampai kau dehidrasi” Mina tersenyum mendengar perhatian dari pemilik penginapan dimana ia bekerja itu.
“tentu saja. Bibi tidak usah khawatir dengan keadaanku, bahkan Bibi sudah tahu sendiri bahwa dari dulu aku kuat dalam menjalankan berbagai aktifitas”
“Mungkin besok kau bisa sedikit mendapatkan waktu istirahatmu seharian, Aku baru saja
mempekerjakan dua anak laki-laki se-usiamu mungkin itu akan meringankan beban kerjamu,eh?”
Mina tersenyum lagi sambil menghampiri Kyungri. “Terimakasih Bibi” Mina mencium pipi Kyungri. Hal yang sangat ingin ia lakukan pada ibunya, namun ibunya sudah tiada ketika ia berumur 5 tahun dan Kyungri lah yang mengurusnya hingga ia menjadi gadis cantik dengan senyum ramah yang ia miliki.
.
Kwon Mina
403
Hari ini penghuni kamar nomor 403 mengakhiri liburannya dan dengan cepat kilat. kamar yang tak akan pernah kosong saat musim panas itu sudah menghasilkan penghuni baru. Aku membereskan berbagai perabotan yang berceceran di lantai. Oh! Ini terjadi lagi. Bukan hal yang aneh jika aku
menemukan suasana berantakan yang dengan sekali lihat dengan cepat orang akan menyimpulkan bahwa kamar ini sudah di pakai untuk bercinta. Dasar manusia jaman sekarang, bahkan mereka tidak bisa
menahan nafsu yang mereka miliki dengan hanya berada di satu ruangan yang sama.
aku meraih beberapa perabotan yang pecah akibat kelakuan pengunjung penginapan kecil ini. penginapan milik Bibi Kyungri memang sangat di Minati oleh pengunjung lokal, maupun luar negri karena panginapan ini sangat strategis dengan pantai. Bahkan pengunjung dapat langsung menemukan pasir putih ketika menginjakan kaki di halaman penginapan.
Musim panas yang indah. Aku harap seperti itu.
aku membereskan tempat tidur yang merupakan sentuhan terakhir pada kamar ini untuk terlihat rapih. Bibi Kyungri sudah beberapa kali memberitahuku kalau penghuni kamar ini sudah taksabar beristirahat. Huff bisakah ia bersabar sebentar? Dia fikir membereskan kamar berantakan seperti ini mudah??
aku menatap hasil pekerjaanku dengan puas
walau aku tahu setelah ini hasil karyaku akan di rusak oleh penghuni penginapan ini.
“Sempurna. Aku harap penghuni baru setelah ini tidak menyebalkan seperti penghuni yang lain” gumamku pelan sambil mulai beranjak dari kamar tersebut.
Suara ricuh langkah kaki menggema di lorong penginapan membuatku dengan cepat menoleh kearah lorong seraya ingin mengetahui apa yang terjadi disana. Kadang ulah penghuni penginapan ini tidak bisa diberi ampun lagi. Bagaimana ia berlarian di lorong?
belum sempat aku menoleh kearah lorong, seseorang menghampiriku dan menarikku
masuk ke dalam kamar bernomor 403 lagi. Laki-laki berkulit putih dengan postur tubuh tunggi dan tegap. Tunggu?!
“Yaa!” Teriakanku tertahan oleh telapak tangannya yang lebar. Laki-laki yang mengenakan topi hitam dan jaket senada menahan tubuhku dengan tubuhnya dan menutup mulutku dengan tagangan
kanannya. Wajahnya terlihat sangat panik sampai akhirnya suara langkah langkah kaki di luar sana terdengar melewati lorong dan laki-laki itu
mulai menghela nafasnya.
Ya! Bagaimana denganku???
Dengan cepat aku menginjak kaki yang berada di antara kakiku itu. Siapa laki-laki ini?? Dia terlihat mencurigakan!
Laki-laki itu merintih kesakitan dan aku lansung saja menjaga jarak dari laki-laki yang asing bagiku ini.
“Ya!! Siapa kau?!”
“Tunggu aku bisa jelaskan . Aku tidak bermaksud menyakitimu” suaranya terdengar bergetar. Aku memicingkan mataku sambili menerawang laki-laki itu dari atas hingga bawah.
“Ya!! Apa kau buronan? Kau pencuri?” Aku meninggikan nada suaraku sambil sambil menatapnya lekat.
Wajah yang memang tidak terlihat seperti seorang buronan itu terlihat sangat panik. Sambil meletakan jari telunjuknya di depan Bibir ia mendesis pelan.
“Hey. Aku mohon rendahkan suaramu.”
Melihat reaksinya yang sangat panik aku segera menghindarkan diri darinya berencana untuk manggil orang-orang yang ku tebak sedang mencari laki-laki ini.
“Hey!! Dia ada disini!!” Dengan lantang suaraku menggema di lorong namun tangan itu menggapaiku lagi hingga aku berada diam di dalam pelukan
laki-laki itu. Ya!! Apa apaan ini?!
“Kau tentu ingin penginapan ini terus ramai tanpa masalah? Aku hanya ingin berlibur” suara itu terdengar dingin dan entah mengapa aku hanya terdiam terpaku mendengar suara itu.
Laki-laki itu melepaskan ku dari dalam dekapannya. Aku yang hanya terdiam kini
berfikir bahwa yang ia katakan benar. Jika
laki-laki itu adalah buronan dan ia tertangkap sedang berada di penginapan Bibi Kyungri,penginapan ini akan terkena masalah besar. Aku rasa aku harus membiarkannya jika ia memang tak punya niatan jahat dengan penginapan ini, denganku maupun dengan Bibi Kyungri.
“Kau sungguh tidak akan berbuat apa-apa dengan kami,bukan?” Tanyaku dengan sedikit menantang. Menjaga jarak dengan laki-laki itu adalah hal terbaik yang aku lakukan.
Laki-laki itu menghela nafasnya dan mengusap wajah yang terlihat lelah. “Tentu. Kau boleh melapor polisi jika hal itu terjadi”
“Baiklah! Ku penggang janji mu tuan….. “
aku menghentikan kata-kata ku. Bahkan aku tak tau apa yang menjadi jaMinan kata-katanya yang membuatku mungkin percaya. Namanya saja aku tak tahu.
“Baiklah. Lalau begitu kau cepat keluar dan aku ingin istirahat” ucapan enteng itu
membuat
mataku terbelalak. Hey! Kamar ini sudah di pesan oleh orang lain. Yang bernama..Bean? Yang aku yakin sekali bahwa itu bukanlah turis lokal. Bagaimana ia seenaknya ia bertingkah seperti itu??
“Ya!! Sudah ada orang memesan kamar ini! Seenaknya saja ” bantahku padanya.
Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kartu yag tertera lambang penginapan serta nomor kamar yang di gunakan sebagai kunci.
Aku membaca nomor yang tertera. 403. Astaga!! Jadi dia adalah tuan Bean? Apa itu nama samarannya? Dasar buronan!
“Haff baiklah. Aku akan keluar. Selamat beristirahat TUAN BEAN”

Jelas sekali bahwa laki-laki bernama
samaran seperti tokoh luar negri itu memang sedang melakukan penyamaran. Aku memang sudah melakukan kesepakatan dengannya, aku tak akan mengusik liburannya sehingga ia tak akan merugikanku dan Bibi Kyungri namun tidak secepat itu aku akan melepaskan padanganku darinya. Awas saja kalau sampai ia membuat ulah akan ku seret kau ke kantor polisi!
Matahari kini tepat berada di atas kepalaku musim panas ini benar-benar musim panas terbaik, dimana pantai mulai di penuhi oleh pengunjung walau keadaan seterik ini. pengunjung dari kalangan anak-anak maupun lanjut usia masih asik bermain dengan hamparan pasir putih dan ombak yang menggulunng dengan indahnya. Aku berdeham kecil sambil meluruskan otot-ototku yang letih akibat mencuci dan menjemur sepray penginapan milik Bibi Kyungri ini.
Tak sengaja mata-ku menatap sosok yang membuatku sedikit jengkel. Bean? Ya itu mungkin sebutannya yang ia pakai untuk
menyewa kamar di penginapan Bibi Kyungri.
Kali ini ia tak sendiri, ia bersama temannya yang juga memiliki tubuh tinggi namun bermata sayundan sipit. Kedua laki-laki itu dengan lihai memainkan papan ski air nya sembari menerjang ombak. kalau di lihat, Bean memang cukup menarik dari segi penampilan. Lihat saja, dengan tubuh yang terbentuk sempurna, otot, kulit putih, rambut hitam,senyum lebar yang membentuk lesung pipi itu bahkan dapat meluluhkan siapapun yang melihatnya, tak berbeda dengan temannya yang sedikit memiliki kulit lebih gelap dan tubuh yang juga terbentuk. Tunggu…
Aku tersadar dari lamunanku. Untuk apa aku memperhatikan orang itu? Ya!! Kwon Mina! Apa pikiranmu sekacau ini??
“Mina, apa kau sudah menjemur semua sepray?” Suara Bibi Kyungri terdengar dari arah pintu jemuran ini.
“Sudah selesai Bibi”
balasku sambil mengangkat keranjang pakaian yang sudah kosong.
“Lekas kemari, akan aku perkenalkan kau dengan teman barumu”
Aku mengehla nafasku kecil dan berjalan untuk menghampiri Bibi Kyungri untuk dikenalkan oleh dua laki-laki yang akan berkerja denganku nanti.

“Mina, kenalkan ini Chunji dan Byunghun, mereka akan membantumu bekerja disini jadi kau tidak akan kelelahan lagi”
jelas Bibi Kyungri sambil mengibaskan kipas berbulu pink kearah wajah cantiknya. Setelah saling mengenalkan nama, Aku menatap kedua laki-laki yang berada di hadapanku. Laki-laki bernama Chunji ituterus tersenyum padaku dengan senyum manis yang dimilikinya, sedangkan laki-laki bernama byunghoon hanya tersenyum kecil sambil mentap kesekeliling penginapan milik Bibi Kyungri dengan teliti.
“Baiklah, aku rasa seluruh
pengunjung penginapan sedang berada di luar, bagaimana kalau kalian beradaptasi terlebih dahulu? Setelah itu kalian aku beri waktu istirahat dan kembali bekerja pada jam 4 sore. “
Dengan serenak aku dan kedua laki-laki itu menanggukan kepala pada Bibi Kyungri.
“Mina, bantu mereka beradaptasi ya?” Bibi Kyungri menatapku sambil tersenyum dan aku membalasnya dengan sebuah anggukan kecil menandakan aku
siap menjadi pemandu dari kedua laki-laki ini.
Setelah berkeliling penginapan dan menjelaskan apapun yang harus dilakukan oleh kedua laki-laki ini, aku, Chunji dan byunghoon memutuskan untuk duduk di pinggir pantai sebentar sambil meminum cola dingin yang kami beli di mini market sebelah penginapan.
“Mina kau sudah sering bekerja di tempat
kyung Bibi?” Pertanyaan basa-basi yang di
lontarkan Chunji membuat aku
sedikit terkekeh.
“Setiap musim panas aku selalu datang ke tempat ini”
“Kau selalu bekerja sendirian?”
“Tidak juga, biasanya banyak mahasiswa yang juga bekerja bersamaku namun tahun ini mereka tak datang terpaksa aku dan Bibi Kyungri yang merasakan kerepotan”
Kedua laki-laki itu menganggukan kepalanya.
Dari kejauhan aku menangkap sosok dua laki-laki yang menghampiriku dengan tubuh yang basah akibat airlaut.
Aku mendecak sambil menatap laki-laki berambut hitam yang sekarang ada di hadapanku.
“Kau, gadis pembersih kamar. Bisa ambilkan aku handuk di kamar menginapanku?” Sahutnya sambil menatapku. Aku menatapnya lekat-lekat sambil menggigit Bibirku. Ya! Menyebalkan sekali orang ini? Belum pernah ada pengunjung Bibi Kyungri yang menyuruhku seperti ini, aku memang membersihkan kamar penginapan namun aku tak bertugas untuk melayani
pengunjung secara pribadi.
“Aku tidak bisa” jawabku dengan dingin. Chunji dan byunghoon hanya diam menatapku dan tuan Bean ini.
“Mengapa? Bukannya itu memang tugas-mu?” Nada bicaranya semakin terdengar tinggi, membuat emosiku semakin memuncak.
“Kalau kau memang mau mendapatkan service istimewa sekalian saja kau berkunjung ke hottel bintang mewah atau lebih baik kau menyewa orang sebagai
pembantumu untuk di suruh-suruh. Aku tak sudi melayanimu” tururku panjang lebar.
Bean menghela nafasnya kecil dan terlihat senyum licik yang membuat lesung pipi nya semakin dalam. Sial, mau apa orang ini??
Bean mendekatkan wajahnya kepadaku membuatku semakin memundurkan kepalaku “Kau ingat kesepakatan kita? Kau mau menjadi semakin repot dengan adanya kabar bahwa tempat penginapan itu menjadi
tidak aman?” Bisiknya pelan di depan wajahku dengan mata yang menatapku lekat.
Aku mengendus kesal, mau bagaimanapun
aku harus menuruti perkataannya, kalau tidak dia akan mengancam kami semua. Ini sangat berbahaya!!
“Baiklah!! Tunggu disini!! Aku tak mau susah payah mencarimu di pantai seluas ini !! ” aku menatap matanya lekat dengan penuh emosi. Ada apa dengan laki-laki itu? Menyebalkan sekali.
Melihat jam tanganku sudah menunjukan pukul 4 sore, aku segera mengajak Chunji dan byunghoon untuk masuk ke dalam penginapan untuk memulai bekerja, sedangkan aku harus segera kembali laki ke pantai untuk memenuhi permintaan dari tuan Bean sang buronan itu. Ch menyebalkan!!

Ini sudah pukul empat sore namun matahari terik itu masih dengan senantiasa
memancarkan hawa panasnya. Aku yang sudah mengelilingi pantai lima kali sambil membawakan handuk mencari laki-laki yang sangat menjengkelkan itu sudah cukup lelah
dan akhirnya memutuskan untuk duduk
sebentar di batu besar yang terdapat di pinggiran pantau. Sial !! Dia kemana? Sudah ku bilang jangan pergi sebelum aku tiba di tempat itu lagi. Sambil meneguk air minum kemasan yang terpaksa harus ku-beli karena sudah kehausan, akhirnya mataku mulai
menerawang jauh ke arah kedua laki-laki yang duduk di pinggir pantai dengan beberapa wanita mengenakan bikini di sekelilingnya.
Ya!! Kurang ajar sekali mereka membiarkanku berkeliling mencari mereka, sedangkan mereka asik-asiknya bermain dengan para wanita itu. Dengan langkah kesal aku menghampiri Bean. Ia menatapku dengan heran ketika aku tepat berada di hadapannya.
“Mengapa wajahmu kusut seperti itu?” Tanya Bean dengan nada
yang datar. Apa dia tak memikirkan perjuanganku untuk mencarinya? Huft.
“Sudah ku bilang jangan pergi kemana-mana! Aku lelah mencarimu ! Aku harus bekerja sehabis ini atau aku akan di marahi pemilik penginapan itu” aku melempar handuk tepat
di wajahnya tanpa meleset sekalipun.
Mata yang cukup indah itu membesar ketika menatapku dan ia segera berdiri di hadapanku sambil menatapku lekat. Tubuhnya yang tinggi
membuatku harus mendangakan kepala untuk menatap wajahnya. Aku tidak takut padanya! Tapi tunggu… Aku merasakan hal yang aneh. Ya, aku merasakan degupan aneh di dalam dadaku yang tak biasaku jumpai sebelumnya.
“Ya! Maksudmu apa melemparku dengan handuk” ucapnya dengan nada datar namun bertatapan penuh kearahku.
“Aku rasa itu adalah balasan yang setimpal dengan apa yang kau lakukan terhadapku” balasku dengan dingin.
Bean menatapku lekat sampai akhirnya ia tersenyum lebar sambil melihatku. Ya! Apa yang lucu? Aku mengerutkan keningku dan menatapnya dengan aneh.
“Bin-ah!! cepat kabur!! Mereka sedang menuju kearah sini! Sepertinya mereka melihatku! “ laki-laki yang bersama Bean itu terlihat panik sambil melihat kearah Bean.
Seketika itu pula wajah dari laki-laki di
hadapanku ini benar-benar berubah. Bibirnya bergumam sambil berusaha mencari sesuatu di sekitar kami.
Aku menatapnya dengan bingung. “kau kenapa? Sedang mencari apa?” Tanyaku tak mengerti sama sekali ada apa dengan nya.
“Aku harus bersembunyi!!” ucapnya dengan penuh kepanikan sambil melihat ku, dalam matanya berkata bahwa ia menyuruhku mencari solusi untuknya. Aku menatap kearah belakang tubuhnya dimana aku melihat seseorang berpakaian baju hitam-hitam lengkap dengan kacamata sedang menghampiri temannya tersebut.
Aha!! Aku rasa aku tahu mengapa dia terlihat panik seperti itu. Orang orang berpakaian hitam itu sedang mencarinya. Hahaha dasar buronan!
Aku menatap Bean yang tetap dalam posisi memunggungi orang -orang itu.
“orang-orang itu mencarimu, bukan?” tanyaku sambil terkekeh geli melihatnya.
Bean menatapku dengan mata yang terbuka dan Bibirnya tertutup rapat mengisyaratkan aku untuk diam. Akal ku sudah
mulai berjalan dengan lancar. Rasanya
sedikit berbalas dendam dengan mengerjainya aku sudah cukup senang. Aku menyiapkan posisi tubuhku agar terlihat seperti seseorang yang ingin berteriak keras.
“ya! Apa yang mau kau lakukan?” tanyanya. Aku tersenyum licik dan memandangnya dengan ujung mataku.
“aku ingin memanggil mereka agar kesini.. ” ucapku dengan enteng.
“ya!! Aku mohon!!” pintanya sambil menatapku lekat. Wajah
yang sangat memelas itu sungguh membuatku ingin tertawa. Wajah menjengkelkan yang di perlihatkannya selama ini sungguh tak terlihat. Hahaha Bean yang malang !!
Orang-orang itu menatap kearah kami dengan wajah yang seperti mencurigai kami. Aku rasa aku tak akan kuat menahan tertawa saat ini.
“aku yakin sebentar lagi orang orang itu akan menuju kesini” bisik ku pada Bean.
“Ya! Kwon Mina!!”
Aku memandangnya dengan
mata terbuka. Bagaimana ia mengetahui
namaku? Sial!! Apa maksud laki-laki ini?
“Bagaimana kau yahu Namaku?”
“sial. Itu tidak penting.” umpatnya. Ia menghela nafasnya dalam kepanikan, aku menatap orang-orang itu yang sudah bergegas menghampiri kami. Tanpa disangka sama sekali, Bean menarik pinggangku dengan tangan besarnya, membuatku dalam sekejap berada dalam pelukan laki-laki itu. Aku yang sangat shock dengan keadaan ini sungguh tak
bisa melakukan apa-apa lagi. Aku bahkan tak bisa bernafas saat ini. Dengan tiba-tiba juga ia mendekatkan wajahnya terhadpaku dan seketika itu pula aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh Bibirku. Tidak! Apa yang ia lakukan!!?? Umpatku dalam hati namun entah mengapa tubuhku kaku untuk menolak gerakan laki-laki itu terhadapku. Bibirnya tak beranjak sedikitpun dari Bibirku, dengan bodohnya aku menutup mataku bukan karena aku menikmati suasana itu tapi aku merasa ada
sesuatu aneh menyerang tubuhku. Rasa berdebar itu datang lagi. Ya! Kwon Mina yang bodoh! Mau saja kau di permainkan
oleh buronan ini. Tangan yang memeluk
pinggangku itu semakin erat mendekapku. Bean! Aku tak akan mengampunimu.
Setelah beberapa detik kamu tetap dalam posisi seperti ini, suara teman laki-laki di hadapan ku ini berada tepat di sebelah kami. “Mereka sudah pergi” sahutnya.
Tangan Bean yang mendekapku
mulai melemas dan melepaskan pinggangku dari sandraannya.
Aku yang masih terpaku dengan keadaan itu kini bingung harus melakukan apa, entah mengapa kini jantungku berdegup kencang saat menatap laki-laki dihadapanku ini. Astagah ada apa denganku??
Tanpa memperdulikan apapun, aku segera berlari pergi meninggalkan Bean dan yang aku rasakan wajah ini mulai memanas.
Aaaaaa……….
.
“aku bodoh! Menagapa aku tak bisa mengelak sama sekali dari laki-laki itu?” omelku kepada diri sendiri. Sungguh
kejadian tadi sore benar-benar membuat-ku gila. Bean benar-benar membuatku membenci diriku sendiri karena membiarkan dia mempermainkan aku. Lihat saja, bagaimana Bean mempermainkanku sejak ia datang ke penginapan Bibi Kyungri.
Aku menghela nafas sambil duduk pada anak tangga Penginapan Bibi Kyungri. Saat ini sudah pukul 11 malam, Para pengunjung sudah lelap di kamarnya masing-masing dan kami para pekerja sudah dibebaskan tugas mulai dari jam 10 malam.
Deru suara Ombak pada malam hari memang sangat menyenangkan. Memmbuatku merasa lebih tenang walau otakku seringkali mengulang-ngulang kejadian tidak menyenangkan semenjak Bean berada disini.
Tiba-tiba, sosok seseorang yang sungguh menjengkelkan itu berada di hadapanku. Dengan segera aku membuang pandanganku darinya. Sungguh aku tak mengerti apa yang terjadi kepadaku saat ini.
“Mau apa kau kesini?” ucapku, dan ia mulai duduk di sebelahku dengan kantung belanjaan minimarket di tangannya.
“Aku habis membeli minuman dingin di minimarket dan aku menemukanmu saat ingin memasuki penginapan.” Ucapnya dengan enteng. Aku memutar bola mataku. Rasa kesal masih saja menyelimutiku, namun mengapa aku tak bisa memarahinya seperti biasa?
“lantas menggapa kau tidak masuk?”
Ia mengeluarkan dua kaleng minuman dingin, dan di taruhnya salahsatu tepat di sampingku. “Aku ingin meminta maaf padamu soal kejadian tadi sore. Minumlah. Aku tahu kau sangat marah padaku mungkin dengan meminum minuman dingin akan meredakan emosimu” Bibir itu tersimpul memperlihatkan lesung pipi yang cukup dalam dan itulah daya tarik dari laki-laki itu.
Aku mengambil kaleng minuman dingin itu
sambil menatapnya dengan sudut mata-ku. “kau seperti menyogokku dengan sekaleng minuman, eh? Ingat! Aku mengambil minuman ini karena aku memang sedang haus!” Aku segera meneguk minuman yang aku genggam.
Aku mendengar laki-laki itu terkekeh di sebelahku. Entah mengapa perasaan risauku memang sudah membaik sehbais meneguk minuman dingin ini. Ternyata laki-laki itu tak seburuk yang aku pikirkan. Aku kira ia tak-akan meminta maaf kepadaku setelah apa yang ia perbuat.
Aku menoleh kearahnya yang hanya duduk terdiam sambil menatap kosong kearah depan.
“Temanmu?”
“Ravi? Ia sudah pulang ke rumahnya, Rumahnya memang tak jauh dari pantai ini”
“mengapa kau tidak menginap di rumahnya saja?” tanyaku. Aku yang masih sangat
penasaran dengannya mungkin akan bertanya banyak selagi ia mau menjawabnya. Laki-laki ini menyimpan segala keanehan. Mulai dari memakai nama samara, di kejar oleh orang-orang berpakaian seperti bodyguard.
“Ya!! Mengapa kau bertanya begitu banyak??” ia menatapku dengan mata yang dibuat besar sambil bergumam kecil.
“Aku hanya penasaran. Habis identitasmu saja tidak jelas”
Bean hanya tersenyum. Aku tak mengerti apa maksud dari senyumannya itu.
Hening sempat menguasai kami. Bahkan aku cukup bingung untuk memulai percakapan dengannya. Ini aneh.
Aku mengambil sebuah Koran yang tergeletak tak jauh dari tempat ku duduk.
“Aigoo. Saat ini berita yang bermunculan aneh-aneh sekali” aku membuka halaman-perhalaman. Dan berhenti di salah satu berita yang sedang heboh saat ini.
“Anak dari Mentri Korea kabur pada acara
pernikahannya” ulasku sambil membaca judul berita yang mulai heboh di bahas oleh banyak orang, termasuk pengunjung-pengunjung penginapan Bibi Kyungri yang sering sekali bergosip.
Aku membaca berita itu dengan serius tanpa memperdulikan Bean.
“ada yang salah dengan koran ini. Mereka menyuruh untuk mencari anak Mentri itu tapi mereka tak melampirkan foto satupun. Ch, memangnya semua orang tahu wajah anak mentri itu seperti apa? Dasar aneh” sahutku setelah membaca Koran itu. Aku menoleh kearah Bean sedikit. Ia hanya terdiam dan sedikit terlihat tidak nyaman. Apa dengannya?
“Ada apa dengan-mu?” tanyaku bingung. Ia me oleh kearahku sambil tersenyum.
“tidak apa-apa. Menurutmu bagaimana anak Mentri itu?” Bean menggelengkan kepala dan menoleh kearahku.
“Anak Mentri? Sungguh itu berita yang Aneh. Kalau difikir Mengapa anak Mentri itu harus kabur dari pernikahannya ya? Pasti pernikahan itu sudah di rencanakan jauh hari, mengapa ia baru mengelaknya pada saat hari itu tiba?” sahutku. Mencoba
menerawang dan menebak-nebak maksud dari berita itu.
“Mungkin ia sulit mengelak apa yang disuruh orang tuanya” sahut Bean. Aku menoleh ke arahnya dengan sempurna.
“Jadi itu adalah sebuah perjodohan?”
Bean tidak menjawab apa-apa. Bean yang tadinya berwajah ceria dan menyebalkan kini bersikap diam.
“di Jaman modern ini masih saja ada yang namanya Perjodohan? Apa orang-orang kaya seperti itu sering sekali menjodohkan anaknya? Aku tidak mengerti” sahutku lagi.
Suara helaan nafas Bean terdengar dan di susul dengan suaranya yang sedikit menggema. “terkadang mereka hanya memikirkan derajat seseorang. mereka ingin anaknya menikah dengan orang-oramg sederajat walaupun pernikahan itu tanpa adanya cinta”
Tertegun. Itu yang terjadi padaku. Aku tidak menyangka bahwa orang seperti Bean mengutamakan cinta, karena sebelumnya aku berfikir bahwa ia termasuk orang yang hanya mempermainkan cinta.
“Jadi maksudmu anak mentri itu tidak
mencintai pasangannya dan karena itu ia kabur dari pernikahannya?”
Bean menganggukan kepalanya dan kemudian meneguk minuman kaleng di tangannya.”Seperti itulah”
“kira-kira jika anak Mentri itu tertangkap oleh orang tuanya, apakah ia akan tetap disuruh menikah?”
Aku melihat Bean yang menggigit Bibir bawahnya dan meremas kaleng yang sudah kosong di tangannya.
“entahlah. Aku tak tahu. Ya!! Mengapa kau bertanya padaku?” iya menatapku dengan wajah yang di buat kesal.
Aku mengangkat bahuku “habis kau sepertinya tahu banyak tentang hal itu”
Bean hanya mendesis.
“Mina”
Dengan cepat aku menoleh kearah Bean saat ia memanggil namaku, dan hal itu cukup membuatku sedikit kaget.
“hmm?”
“apa kau sedang menyukai seseorang?”
Seketika aku membeku mendengar pertanyaan itu. Apa maksud Bean?
Entah mengapa jantungku mulai berdegup
lebih cepat.
“errr.. Tidak ada” jawabku ragu.
Bean tersenyum kepadaku, melihat itu aku segera mengalihkan pandangan darinya, karena jika aku menatapnya rasa berdebar itu semakin menjadi-jadi.
“Baguslah” ucapnya dalam sekejap wajah Bean sudah berasa di dekat wajahku dan laki-laki itu mencium pipiku.
“gadis yang menarik”
.
“Mina tolong kau bereskan kamar nomor 405” sahut Bibi Kyungri dari ruang resepsionis. Aku segera menganggukan kepala pada Bibi Kyungri dan segera menuju kamar 405.
Penghuni kamar ini telah mengakhiri masa liburannya setelah empat hari menginap, sudah pasti kamar ini sudah mempunyai calon penghuni baru.

‘knock knock knock’

Suara ketukan itu terdengar saat aku hampir saja selesai untuk membereskan kamar 405. Aku menoleh pada pintu yang masih terbuka
i
tu, terlihat Chunji berdiri disana sambil tersenyum kearahku. Laki-laki itu sejak awal memang terlihat sangat ramah padaku, di bandingkan dengan teman yang bersamanya.

“ada apa Chunji?” tanyaku sambil membawa seprai kotor di tanganku.

“aku hanya ingin membantumu” ucapnya sambil tersenyum. Chunji memasuki kamar 405 dan menghampiriku.

“aku sudah selesai. kau mungkin bisa membantu temanmu, aku lihat ia sedang disuruh Bibi Kyungri untuk membersihkan meja resepsionis” ucapku.
Aku menatap Chunji yang terus mendekat kearahku. Mau apa laki-laki ini?

“aku hanya mau kau, Kwon Mina” mendengar ucapan itu aku merasakan sesuatu yang aneh dengan Chunji. Senyuman itu kini terlihat semakin mengerikan dengan tubuhnya yang terus mendekat kearahku.

“ya! Mau apa kau? Jangan mendekat!!” ucapku dengan suara yang sengajaku tinggikan.

“kau yang sedang marah terkihat cantik”

“ya! Lee Chunji!!”
Chunji kini sudah mendesakku sampai aku tak bisa bergerak lagi. Astagah! Apa yang ia mau?

“Lee Chunji ! Kalau kau berani menyentuhku, aku akan berteriak!”
Wajah Chunji sudah semakin mendektaki wajahku. Sunggu laki-laki kurang ajar!

“coba saja”
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, namun tanpa sengaja kakiku yang meronta menyentuh bagian kakinya.

“yaa!!!!!” teriaknya kesakitan. Melihatnya seperti itu, mungkin ini kesempatanku untuk kabur darinya namun ia meraih tangaku dan di genggamnya erat sehingga menimbulkan rasa sakit.

“ya! Lepaskan!”

“kau berani padaku, Kwon Mina? Akan ku balas” wajah yang memerah akibat marah itu terus mendekatiku. Tidak! Aku tak mau di perlakukan seperti ini!

Aku memejamkan mataku karena takut namun tak lama aku merasakan tubuh Chunji menjauh dariku dan terdengar bunyi sebuah pukulan keras.

Aku membuka mataku perlahan dan melihat sosok Bean berada tepat di hadapanku dan Chunji yang tersungkur di kakinya. Mataku membulat menatapnya.

“ini masih pagi. Mengapa kalian membuat keributan?” sahut Bean yang menatap Chunji dengan wajah yang sinis. Chunji menatapnya dengan angkuh.

“Maaf aku membutuhkan Mina” ucap Bean lagi dan dengan segera ia menggapai tanganku. Aku yang masih ‘shock’ dengan keadaan ini hanya bisa terdiam sambil mengikuti langkah Bean yang membawaku tanpa memperdulikan Chunji yang terlihat masih kesal.

Bean menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar 405. Bean menolehkan kepalanya pada Chunji.

“Kalau kau memang seorang Pria, jangan pernah melecehkan seorang wanita”
.
“Kau tidak apa-apa?”
Bean menatapku dengan wajah yang khawatir. Aku tersenyum padanya walau
jantung ini masih merasa belum berdetak normal.

“Bagaimana kau bisa menemukanku?”
Bean mengalihkan padangannya dariku.

“suara kalian itu terdengar sangat berisik, sudah tahu kamarku tak jauh dari kamar itu” jawabnya sambil membuka kaleng minuman yang ada di tangannya.

“minumlah, kau masih shock?” mata bulatnya menatapku dan itu semakin membuat jantungku berdegup kencang, bukan karena kejadian tadi namun karena sosok Bean yang kini semakin membuatku.. Err menyukainya?
aku menganbil kaleng minuman di tangannya dan meneguknya perlahan.

“terimakasih”

“sudahlah tak usah berterimakasih, kalau laki-laki itu masih berprilaku seperti itu terhadapmu, kau panggil saja aku” ucapnya sambil tersenyum.

“baiklah. Terimakasih Bean”
Aku mengalihkan pandanganku dari Bean dan menatap gulungan ombak indah yang berada dihadapanku.
Aku kini merasa aneh dengan diriku sendiri,
aku yang sebelumnya membenci laki-laki di sebelahku ini, kini malah merasa nyaman dengan laki-laki itu. Kwon Mina? Apa aku yakin dengan perasaanmu ini? Itu yang selalu aku tanyakan kepada diriku sendiri.
.
Chunji harus merasakan hukuman atas yang dia perbuat padaku setelah Bibi Kyungri mengetahuinya. Chunji tidak dibolehkan untuk bekerja di penginapan Bibi Kyungri lagi.
Mungkin aku sudah cukup lega mengetahui hal itu.
Aku dan Bean? Hubungan kami sangat membaik. Aku dan dia sungguh tak ada lagi pertengkaran, bahkan kami terbilang cukup dekat. Namun aku masih belum mengetahui siapa dirinya sesungguhnya.
.
“Libur musim panas sudah hampir habis, penginapan sudah tak seramai hari kemarin” ucapku sambil menatap orang-orang yang
sedang bermain di pantai. Aku bersama Bean yang mensejajarkan posisinya disebelahku.
“Bagus untukmu, aku rasa kau sudah begitu lelah menanggapi begitu banyak pengunjung penginapan itu”
Aku menatap Bean yang tersenyum kearahku. Huh, laki-laki itu memang sangat perhatian terhadapku akhir-akhir ini. “Bagaimana denganmu? Kau masih disini cukup lama?”
Bean mengerucutkan Bibirnya dan terlihat berfiki. Sesungguhnya aku tak ingin Bean cepat mengahkhiri liburannya, karena jika Bean pergi, aku rasa ada sesuatu yang hilang dari diriku.
“Aku tak tahu, aku tak ingin berpisah terlalu cepat dengan Pantai ini, aku mencintai pantai ini”
Aku setuju dengan ucapan Bean, Paantai yang indah ini memang mempunyai kesan tersendiri bagi siapapun yang mengunjunginya. Aku bahkan tak bisa lepas dari Pantai ini, karena aku juga mencintai keindahan yang ada disini.
“Dan ada sesuatu yang membuat aku tak bisa pergi dari sini” Bean meneruskan perkataannya dan membuatku menoleh sempurna kearahnya.
“Sesuatu? Seperti apa?”
Bean menghela nafasnya dan menatap butiran pasir yang melekat di kakinnya, walau aku tahu kini tatapannya hanya kosong.
“Hati-ku sudah jatuh cinta pada Pantai ini dan… seseorang yang menghabiskan waktunya bersamaku di pantai ini”
Deg
Nafasku tiba-tiba saja tercekat dan aku menatapnya tanpa berkedip. Wajahku memanas dan Bibir-ku tak bisa terucap kata apapun.
“Aku menyukaimu.. dan hanya ingin kau yang selalu berada di dekat-ku”
Bean menggenggam tanganku dan menatapku dan mengeluarkan senyum indahnya. “Maaf. Aku terlu terus terang padamu.”
Aku masih mematung dan tidak tahu harus
Bean kini mulai menatapku dengan wajah yang kesal dan mengalihkan padangannya dariku sambil bergumam.

“argh, Hongbin! mengapa kau bisa menyukai gadis yang terlalu lama berfikir seperti ini!” umpatnya dariku.
Tunggu! Apa yang dia ucapkan?

“Hongbin?” aku menatapnya dengan serius ketika menyadari ia menyebut dirinya sebagai Hongbin. Jadi itu nama aslinya? Sepertinya aku sering mendengar nama itu.
Bean menatapku dengan bingung. “aku bilang, Bean bukan Hongbin”
Dasar laki-laki aneh!! Mengapa ia tak mau mengaku padaku samasekali?
“Bohong! Namamu Hongbin! Mengaku saja!!” aku mencubit pipinya yang terlihat menggemaskan dimataku. Bean, aku juga menyukaimu.
“ya! Sakit ! Aku bilang bahwa aku menyukaimu dan kau membalasnya dengan mencubitku? Ini tidak adil !!” Bean meraih
pinggangku dan di peluknya erat. Kini aku bisa merasakan nafasnya yang berhembus di dekatku.

“Kwon Mina, aku ingin selalu bersamamu” mata bulatnya menatap mataku. Aku memandangnya sambil tersenyum riang!

“begitu pula denganku”
Aku memeluk Bean dengan sangat erat.
.
“Permisi”
Aku mengangkat kepala ku dan menatap dua Pria yang baru memasuki penginapan Bibi Kyungri.

“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu” ucapku ramah dan tersentun pada kedua Pria itu. Kedua Pria yang berpakaian sangat rapih itu menghampiriku dan mengucapkan salam.

“kami mencari seseorang di sekitar sini, apa anda bisa membantu saya?”
Aku menatap mereka dengam bingung. “tentu jika saya mengenalinya”

“kami mencari Lee Hongbin, Putra tunggal dari Mentri…….”
Aku terdiem sejenak. Hongbin? Bean pernah menyebutkan nama itu. Namun bukankah ada beribu-ribu orang bernama Hongbin di dunia ini?
“Ah aku mendengar berita itu dimana-mana. Bisa aku lihat fotonya?”
Sebelum Pria di depanku memberika foto itu padaku. Sebuah suara menggema di ruangan.

“Mina bagaimana kalau kita pergi membeli eskrim sehabis ini?”
Bean menghampiriku dengan riang namun memberhentikan langkahnya ketika melihat kedua Pria di hadapanku.

Bean terdiam kaku dan kedua Pria itu membungkukan tubuh mereka kepada Bean. Mereka terlihat sangat sopan terhadap Bean. Salahsatu Pria di hadapanku berjalan kearah Bean dan dengan sigap memegangi tubuh Bean. Bean hanya menundukan kepalanya. Tunggu apa maksudnya ini?
“Maaf sempat merepotkan anda, kami sudah menemukan seseorang yang kami cari” Pria yang berada di hadapanku membungkukan
tubuhnya kearahku. Aku masih terkaku. Jadi Bean?

“Bean jelaskan padaku” aku menatap Bean yang masih menundukan kepalanya. Bean menatapku dengan lirih. “aku akan menghubungimu nanti” Kedua Pria tadi dengan segera membawa Bean pergi.
Wajahku memanas dan rasanya airmata ini sudah membendung. Aku menatap tubuh itu yang perlahan menghilang dsri pandamganku.
Bean adalah Lee Hongbin. Laki-laki yang kabur dari pernikahannya sendiri. Pernikahan yang berlangsung atas perjodohan yang dibuat oleh orang tuanya.
Jadi Bean akan menikah?
“kira-kira jika anak Mentri itu tertangkap oleh orang tuanya, apakah ia akan tetap disuruh menikah?”

“entahlah. Aku tak tahu. Ya!! Mengapa kau bertanya padaku?”

Aku menjatuhkan tubuhku dan tanpa sadar aku sudah menangis tanpa bisa menghentikannya.
Apa Bean akan kembali lagi? Aku sama sekali tak bisa memikirkan itu lagi. Rasa takut itu sangat menghantuiku, aku taku jika Bean sungguh meninggalkanku.
“Mina kau kenapa?”
Aku memeluk Bibi Kyungri yang mendekapku erat. Mengapa rasanya sangat menyedihkan?

“Bean akan tetap menikah, Bibi. Aku sudah terlanjur mencintainya. Apa ia sungguh akan meninggalkanku?”

“aku yakin laki-laki itu akan segera menghubungimu dan menjelaskan semuanya”
Bibi Kyungri memelukku erat. Dan aku hanya menangis sambil memeluk Bibi Kyungri.
.
sudah seminggu dan Bean tak menghubungiku sama sekali. Aku masih saja menunggunya. Walau berita atas

pernikahannya akan benar-benar di laksanakan kembali.
Apa yang aku lakukan ini sia-sia? Atau Bean memang sudah melupakanku? Apa kali ini Bean akan sungguh-sungguh menikah?
Aku membereskan kamar seperti biasa, walau bukan musim Liburan, pengunjung penginapan tetap berdatangan.

Aku mengetuk kepalaku sendiri.

“Kwon Mina! Mengapa kau masih memikirkan laki-laki itu !!” ucapku pada dirisendiri saat menyadari otakku masih saja mengingat dengan jelas wujud Bean.
Aku sungguh ingin mencoba melupakannya saat ini.
Suara gaduh itu menggangguku. Terdengar suara gaduh dari lorong penginapan dimana seseorang berlari disana. Argh! Siapa yang membuat keributan disaat suasana hatiku sedang tidak baik? Rasanya aku ingin memarahi seseorang yang menimbukan suara gaduh itu.

Aku segera berjalan keluar kamar penginapan namun tubuhku terdorong
kedalam. Seseorang mendorongku sambil menahan tubuhku.
Seorang laki-laki dengan jas hitam.

“Bean?!” aku hampir saja berteriak namun Bean menahan teriakanku dengan Bibirnya yang menempel pada Bibirku.
Aku membelalakan mataku. Sungguh aku takbisa mendeskripsikan apapun yang aku rasakan saat ini.
Aku bertemu dengan Bean lagi!!
Bean memelukku dan menatapku sambil tersenyum.
“aku tak menyangka kau sangat cengeng, Mina. Sudah berapa kali kau menangis saat aku meninggalkanku kemaren?” suara halus itu terlantun dari Bibir Bean.

“Bean! Aku pikir kau tak akan kembali !” aku tak bisa menahan senyumku saat menatap Bean yang berada di hadapanku.
“seharusnya aku memang tidak akan kembali, namun kau tahu sendiri kalau hatiku masih berada disini, hatiku masih menetap disini”
Aku memandang Bean dsri atas hingga bawah. Jas hitam itu… Apa hari ini adalah
hari pernikajan Bean?

“Bean? Kau kabur dari pernikahanmu lagi?!”
Bean menggarukan kepala nya dan sedikit tersenyum kepadaku.

“aku tak mau menikah” Bean mengerucutkan Bibirnya sambil menatapku dengan lirih.

“lantas?” aku menaikan alisku dan menatapnya.

“argh! Jangan menyuruhku menikah dengan orang lain karena aku hanya ingin menikah denganmu , Kwon Mina”
Bean menarik tanganku dan di genggamnya erat.

“aku tak akan kabur dari pernikahanku lagi jika kau yang menjadi pendampingku”

“err…. Kau” aku memutar bola mataku dan menarik kerah kemejanya dan mencium Bibirnya dengan lembut.
“aku tak akan biarkan siapapun menikah dengan dirimu, karena kau punya ku!”
End

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s