Mark x Eunji : Purple Rose

MARKJI

Purple Rose
Mark Tuan/ Jung Eunji
plot©Shinstarkey | characters. they belong to god and themselves
oneshot |Romance  |PG|Indonesia

Aku terus merundukan kepala. Entahlah pandanganku tak bisa berfokus pada apapun, bahkan aku tak bisa berfikir apa-apa lagi. Rasanya kemarahan memuncak pada diriku namun aku berusaha menahannya. Laki-laki yang duduk di hadapanku juga tak bergeming sama sekali.

“Mark, ayolah sapa calon istrimu” wanita paruh baya itu menyenggol pelan bahu laki-laki bernama Mark yang duduk berhadapan denganku. Laki-laki pendiam yang terlihat tak tertarik dengan pertemuan ini sama sekali.

“Eunji, tidak sopan terus menunduk seperti itu” Ibuku mulai berkicau layaknya tak ada sesuatu yang terjadi di antara aku dan ibuku itu.

Aku menarik nafas panjang dan kemudian mengangkat kepalaku sambil berusaha tersenyum manis pada wanita paruh baya yang berada di sebelah laki-laki itu. Ingat! Aku tersenyum hanya pada wanita itu, bukan pada laki-laki disebelahnya. Aku juga tidak
mau keluargaku di cap sebagai keluarga yang tidak punya sopan santun.

“Seunyum-mu manis sekali, Eunji. Tidak kah kau melihat itu,Mark?” puji wanita itu yang aku sebut sebagai Mrs.Tuan. Aku tak mengenalnya sama sekali bahkan ini adalah pertemuan kami yang pertama kalinya , tapi dari caranya berbicara rasanya ia sudah mengenal keluargaku seperti bagian dari keluarganya.
Sekilas aku menatap laki-laki itu, wajahnya tak merespon apa-apa. Aku rasa ia mempunyai perasaan yang sama denganku, tidak menyetujui dengan semua yang di rencanakan kekuarga kami, namun aku bukan orang bodoh yang akan bertingkah tidak sopan seperti itu di hadapan orang lain.

***

“Sudah aku bilang aku tidak setuju dengan rencana perjodohan itu.”

Aku melemparkan tas tanganku ke arah sofa dan kemudian menghempaskan tubuhku
juga disana.

“Apa kau tidak lihat di surat wasiat kakek? Dia meminta salah satu dari keturunannya untuk menikah dengan keturunan Keluarga Tuan. Lalu siapa yang bisa menuruti keinginan kakek itu selain kau? Cucu keluarga Tuan hanya tersisa laki-laki dan Cucu perempuan di keluarga ini hanya Kau. Lagi pula kau dan Mark memiliki umur yang sama, apa yang harus di permasalahkan lagi?”

Ibuku bertutur panjang lebar. Aku bahkan tidak percaya bahwa ini semua akan terjadi kepadaku. Masa mudaku yang indah akan segera lenyap karena permintaan aneh mendiang kakek-ku.

“Kakek kan sudah meninggal, bagaimana kalau kita lupakan saja soal permintaan kakek itu?” tanyaku-ku dengan pemikiran yang sangat singkat dan kini ibu malah menatapku dengan tatapan seperti seekor gorila mengamuk karena makanannya di curi olehku.
“Jangan berkata seperti itu. Kakek-mu dan Kakek Mark sudah menjalin persahabatan sejak kecil, mereka tak ingin menghilangkan kekerabatan bahkan sampai keduanya meninggal, itu sebabnya kau dan Mark akan segera menikah.”

“Kenapa aku?” Tanyaku lagi walau aku tahu jawabannya pasti sama.

“Karena memang hanya kau yang bisa memenuhi permintaan itu” Jawab ibuku enteng.

“Apa ibu tak tahu aku memiliki kekasih? Bagaimana dengan kekasihku nanti?” tanyaku sambil mencari-cari alasan untuk menghentikan perjodohan ini.

“Akhiri saja hubunganmu. Kau sudah memiliki Mark dengan wajah tampan yang akan menjadi suamimu”

Sungguh menyebalkan. Segampang itukah ibuku berbicara? Semudah itukah aku
menjalin hubungan dengan Mark Tuan yang sangat terlihat angkuh itu?

***

‘Flower Palace’

“Terimakasih sudah berkunjung ke Flower Palace” Aku menundukan tubuhku dengan sopan kepada setiap pengunjung yang datang ke toko Bunga milik keluargaku.
Usaha kecil yang di turunkan oleh mendiang nenek-ku semasa mudanya itu kini menjadi sebuah toko Bunga yang Banyak di kenal orang, bahkan kami kini memikili kebun bunga yang cukup luas. Aku bekerja setiap hari disini, menggantikan ibuku yang dulunya menangani toko ini.

“Hari ini banyak sekali yang membeli bunga. Apa semua orang di bumi ini berubah menjadi orang yang manis hari ini?” Gurauku pada Bomi, pegawai kepercayaan keluarga kami.

“Mungkin orang-orang tertarik membeli
bunga disini karena melihat wajahmu yang cerah itu, Eunji.”
Aku terkekeh kecil karena gurauan Bomi tersebut. “Kau terlalu berlebihan, Bomi. Ah ya, Aku akan pulang lebih awal. Ayahku baru saja kembali dari tugasnya diluar kota. Sepertinya keluargaku akan mengadakan makan malam bersama”

Bomi mengerutkan wajahnya. “Pegawai kesayangan keluargamu ini tidak di undang?”
Aku terkekeh menatap wajahnya “akan aku traktir kau besok bagaimana?”
“Itu ide yang bagus! AH selamat siang, selamat datang di Flower palace” seketika perhatian Bomi teralihkan ke arah pintu utama setelah suara dentingan bel berbunyi saat pintu terbuka. Aku segera membalikan badan menyambut pengunjung yang datang.

“Selamat da…..”

“Kau disini?” Baru pertama kalinya suara laki-laki itu terdengar ditelingaku.
Mark. Laki-laki itu berdiri dihadapanku
dengan wajah yang datar.

“Kau kenal dia?” Bomi berbisik padaku. Aku tak merespon itu, Aku hanya menatap mark dengan wajah yang kesal.
Sudah berminggu-minggu setelah pertemuan terencana kedua keluarga itu dan hari ini aku kembali bertemu laki-laki itu. Aku benci mengingat aku akan segera menikah dengannya.

“Ini Toko bunga milik keluargaku. Sedang apa kau disini?” tanyaku acuh.

“Tentu saja aku ingin membeli bunga dasar bodoh” ucapannya yang enteng itu kini meningkatkan aliran darahku.
“YA!! hati-hati kalau berbicara. Ch aku fikir kau bisu saat acara pertemuan itu, ternyata memang sebaiknya kau tidak berbicara. Tak punya sopan santun!”
Seulas senyum terlintas di bibir laki-laki itu, aku bahkan tak tahu apa maksud senyum itu. Apa dia meremehkanku?
“Ternyata benar kau sangat pemarah. Baiklah, karena pada akhirnya kita bertemu,
ada yang ingin aku bicarakan denganmu”

Aku mengangkat alisku dan menatapnya dengan dahi berkerut.
“Baiklah ikut aku”

Aku tahu kini bomi memandangku dan Mark dengan wajah yang bingung. Aku menatap Bomi dengan senyum dan mengisyaratkan bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan.

Aku membawa mark ke ruangan kerjaku, ruangan pribadi sebagai pemilik toko Bunga ini.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” aku menatapnya sambil melipat kedua tanganku.

“Sepertinya kau tidak keberatan dengan perjodohan kita?”

Aku mengerutkan dahiku lagi. “Siapa yang mengatakan itu? Tentu saja aku sangat keberatan”

“Aku fikir kau sangat senang mendapatkan
laki-laki yang akan menjadi suamimu setampan aku” laki-laki itu terkekeh namun apa yang ia katakan serta wajahnya itu membuatku sangat muak.

“Apa kau bilang? Bahkan bertemu denganmu seperti serangan dari neraka naik ke permukaan bumi dan menyerangku!”

Tunggu, emosiku sangat memuncak saat ini, dan Mark malah terkekeh melihatku, menyebalkan sekali.

“Kau terlalu berlebihan. Menarik sekali” ucapnya di sela-sela tawa kecilnya itu.
Aku mengerutkan alisku, mencoba mencerna apa yang ia katakan “Apa?!”

“Kau menarik Jung Eunji.” ia tersenyum.

Dan aku hanya bisa tertegun melihat senyumnya.

‘Alihkan pandanganmu, Eunji!! Alihkan!!’ tuturku dalam hati.
Dengan segera aku mengalihkan pandanganku dari laki-laki itu.

“Lantas sekarang apa yang harus kita lakukan? Membatalkan semua ini?” ia mulai menatapku dengan serius.

“Hei, Kau mendengarku atau tidak?”

“Aku mendengarmu, Mark Tuan. Aku juga tidak tahu harus melakukan apa. Ini permintaan kakek-ku yang tidak bisa aku hindari dan keluargaku… Argh! Mereka membuatku frustasi!”

Aku meringis kecil dan menggigit bibirku sebagai reflek dari berfikir tentang apa yang harus aku lakukan untuk tidak membiarkan semua ini terjadi.

“Hentikan menggigit bibirmu itu” suara laki-laki itu kembali mengagetkanku ditambah ucapannya yang aneh.

“Apa?” aku menatapnya dengan bingung.
Apa maksud laki-laki itu? Aku memang selalu menggigit bibirku ketika berfikir.

“Sudahlah. Kita lanjutkan saja ini semua. mereka akan dengan cepat menentukan tanggal pernikahan kita.”

Kata ‘Pernikahan Kita’ itu benar-benar menusuk jantungku. Astaga! Semua ini membuatku gila!

“Selain kakek-ku dan kakek-mu yang merencanakan ini semua, disisi lain ibu-ku juga mengharapkan ini. Setidaknya aku membahagiakan ibuku.”

Tatapan mata Mark berubah menjadi serius dan dalam, entah ini bukan seperti Mark yang ada dalam benakku. Aku sedikit tertegun ketika ka membicarakan tentang ibunya.
Mengingat tatapan mata Mrs.Tuan kemarin membuatku sedikit luluh. Senyum dan cara nya memujiku mengesankan bahwa ia menyukaiku. Astaga ini menjadi sangat rumit. Aku tak mencintai laki-laki itu namun
orang-orang di sekitarku seakan mendesakku untuk melakukan ini semua.

“Aku tidak tahu” jawabku sambil mengatur nafasku yang tercekat.

“Nantinya kau boleh menuntut cerai terhadapku, Jung Eunji” laki-laki itu menegaskan lagi.

Otak-ku seakan berputar-putar saat ini.

“Baiklah” dan hanya itu yang keluar dari bibirku.

Semoga ini adalah keputusan yang terbaik.

***

Harum masakan rumah buatan ibuku itu sungguh membuat perutku sangat lapar. Makan malam yang hangat akan berlangsung di rumah minimalis keluargaku ini. Ayah yang hampir setiap bulan menjalankan tugas keluar kota, kini berkesempatan pulang ke rumah, maka dari
itu Ibu menyiapkan semua ini.

Aku menghampiri ibuku yang masih sibuk dengan berbagai makanan yang akan ia hidangkan.
“Ya! Bantu ibu, jangan hanya melihat saja. Kau akan menjadi ibu rumah tangga, sering-seringlah bermain di dapur” sahut ibuku masih sambil mengaduk masakannya dalam panci berukuran besar.
Aku memutar bola mataku dan duduk di meja makan, setidaknya aku membantu menata makanan yang sudah jadi.
“Iya Ibu, tidak lihatkah anak gadismu ini sedang menata makanan-makanan ini?”
Seulas senyum tersimpul di bibir ibuku.
“Tadi kau pulang bersama siapa? Mobil sedan putih itu tak pernah ibu lihat mengantarmu.”
Aku sedikut terhentak. “Itu temanku, bu” dengan cepat aku menjawabnya. Baiklah aku memang berbohong pada ibuku. Mark yang mengantarku pulang, mungkin ini merupakan berita yang baik bagi ibuku, namun aku dan Mark memang sudah memutuskan bahwa perjanjian kami tadi
tidak boleh ada yang mengetahuinya, termasuk pertemuan tidak di sengaja kami tadi siang.

“Laki-laki? Sudah ibu bilang jauhkan semua teman laki-lakimu. Kau sudah punya Mark. Apa kalian sudah bertemu lagi sejak pertemuan itu?”

Aku menggelengkan kepalaku dengan ragu.

“Mrs.Tuan meminta maaf karena sikap Mark saat itu, sesungguhnya Mark adalah laki-laki yang baik.”

Aku menganggukan kepalaku. Sepertinya aku sudah tahu akan hal itu, terlihat begutu saja dari cara laki-laki itu berbicara padaku tadi, walau ia memang sedikit menyebalkan.

“Ibu, mengapa masak banyak sekali? Siapa yang akan menghabiskan ini semua?” Aku menatap ibuku dengan tatapan bingung dan kemudian menatap jejeran makanan yang cukup banyak di meja. Seperti akan ada tamu yang datang. Jangan bilang kalau….
“Keluarga Mark akan datang kesini, ibu lupa mengatakannya padamu. Sebaikanya kau siap-siap, kau harus berdandan yang cantik malam ini”

“APA?”

Berbagai Senyuman merekah ketika keluarga Tuan menginjakkan kaki di kediaman keluargaku. Wanita paruh baya yang memiliki senyum manis itu menghampiriku tanpa lupa meninggalka senyumannya. “Kau sangat terlihat cantik, Eunji” ucap Mrs. Tuan kepadaku.
Sesungguhnya aku benar-benar tidak siap dengan pertemuan keluarga ini. Bagaimana ketika aku harus berhadapan dengan Mark? Bagaimana aku harus memulai sandiwara ini?

Laki-laki itu kini melangkah mendekatiku. walau hanya dengan Kemeja putih dengan jas sederhana dan celana hitam yang ia kenakan mampu menunjukan bahwa ia laki-laki yang berkelas.
Ia tersenyum kepadaku. “hai” ucapnya singkat dan dengan sekejap bunga mawar berwarna ungu hadir di depanku. “Kau yang memilih sendiri bunga ini, bukan?” ia terkekeh dan rona merah muncul di seputar pipiku. Astaga! ia mulai mempermainkanku lagi!
Bunga mawar itu ia beli di toko bunga milikku! Ia mengatakan bahwa itu untuk cinta pertamanya yang akan ia temui. Mawar ungu melambangkam cinta pada pandangan pertama dan itu ternyata untukku? Mark pasti bergurau!
“Jangan bergurau, Mark! Aku tidak suka itu” bisikku dengan kesal.
Ia hanya melayangkan senyumnya padaku. Senyum yang entah mengapa dapat membuat nafasku tercekat.

Di ruang makan yang di sulap ibuku menjadi ruangan hangat dengan peralatan makan yang tertata rapih bagaikan restoran berbintang. Mark tidak lagi duduk di hadapanku seperti kemarin, ia kini duduk di sampingku
membuat seluruh pasang mata menatap kami dengan heran namun dilengkapi senyuman kemenangan. Bahkan aku tahu apa yang sedang mereka fikirkan.
“Kelihatannya kalian sudah mengenal lebih jauh? Kalian sangat cocok” Ayah menatapku dan Mark dengan wajah yang penasaran. Aku menarik nafasku, sungguh tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada ayah.
Aku menatap Mark dan melihat laki-laki itu tersenyum pada ayahku dan dengan sekejap laki-laki itu menggenggam tanganku yang tergeletak takberdaya di atas meja.
“Aku rasa aku mulai jatuh cinta pada Eunji” ucapnya sambil menatapku dengan sorot mata penuh. Aku merasa tercekat lagi sekarang.

“Benarkah? Ibu sudah menduganya, Eunji adalah gadis yang cantik mana mungkin kau tidak jatuh cinta padanya” kini Mrs.Tuan menatap kami dengan wajah bangga serta terpancar aura kemenangan.

Seketika semuanya terkekeh dan menatapku. Aku tersenyum malu dan mengibaskan tanganku “Aku tak secantik itu, Mrs.Tuan” elak-ku terhadap pujian yang diberikan wanita ramah itu. Sepertinya Mark benar, ibunya sangat menyukaiku dan aku juga merasa tidak tega jika menghancurkan semua impiannya untuk melihat anak laki-lakinya menikah denganku.

Setelah makan malam, pada akhirnya semua membicarakan tentang rencana pernikahanku dengan Mark, menentukan hari , tanggal dan berbagai persiapan yang harus di lakukan.

Aku sama sekali tak bisa berfikir apa-apa.

***

From: 010×××××××

Calon istriku, apa kau sudah tidur?

_

To: 010×××××××

Ya!! Darimana kau mendapatkan nomorku?
_
From: 010×××××××

Asal kau tahu, aku memiliki nomormu sebelum kita berdua bertemu di restoran itu, namun aku tak pernah mencoba untuk menghubungimu.

To: 010×××××××

Alasan! kk

From: 010×××××××

Boleh aku menelepon-mu?

Belum sempat aku membalas pesan dari Mark, ponselku sudah bergetar dan nomor yang mulai tak asing itu muncul di layar ponselku. Aku segera mengangkatnya.

“aku belum menjawab kalau kau boleh menelepon-ku!” ucapku segera sebelum laki-laki itu mulai berbicara.
Suara terkekeh sekarang terdengar dariujung sana. “walau seperti itu, namun kau tetap mengangkatnya, bukan?”

“errr dasar menyebalkan, mengapa kau selalu mempermainkanku?” ucapku kesal.

“Aku tidak mempermainkanmu, Eunji. Aku rasa aku hanya mulai mengenalmu hahaha” aku hanya terdiam mendengarkan suara halus itu yang masih terkekeh. Sesuatu yang aneh menyerang tubuhku, rasanya seperti ada gejolak aneh dalam perutku.

“Eunji? Kau masih disana? Mengapa terdiam?”

Suara itu kembali menyadarkanku. Aku teesenyum tipis menyadari bahwa aku mulai merasa bodoh karena laki-laki itu.

“Aku disini, Mark” ucapku pelan.

“Kau tahu? Sesungguhnya aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang belum aku sampaikan saat bertemu dengan-mu tadi”
“katakan saja. Jangan membuatku penasaran, Mark. Aku benci itu” ucapku.
“Rasanya membuatmu sangat penasaran cukup membuatku senang”
“Argh! Lupakan! aku membencimu! Aku akan menutup telepon!” Kini aku mulai geram, aku tidak suka ia bermain-main denganku.
“Dasar pemarah”
Ia terdiam sejenak, begitu pula denganku sampai akhirnya suaranya memecahkan keheningan di antara kami berdua.
“Aku hanya ingin mengatakan… Kau sangat cantik tadi, Eunji”

.

.

Oh Mark! Apa ini bagian dari sandiwaramu?

***

Hari yang di tunggu-tunggu semua orang akhirnya tiba. Nuansa putih yang bertabur bunga memamg banar-benar membuat siapa saja tersenyum bahagia. Termasuk aku yang berdiri di tengah-tengah aula besar yang berisikan keluarga serta teman-teman terdekatku dan juga Mark.

Hari yang tak pernah terbayangkan olehku dimana aku mengenakan gaun pengantin yang benar-benar terlihat cantik. Ibu dan calon Ibu mertuaku tak pernah berhenti memuji-ku saat mengenakan gaun ini.

Bahagia? Tentu saja! Siapa yang tak bahagia saat menjalani pernikahan. Namun tiba-tiba aku teringat akan perjanjian-ku dan Mark. Apa kebahagiaan ini hanya sebatas sandiwara di mata Mark? Laki-laki itulah yang pertama kali merancang rencana pernikahan kami agar berjalan sesuai ketentuan dari keluarga kami. Pernikahan tanpa dasar cinta.

Tiba-tiba saja dada-ku terasa sakit. Pikiran itu serasa menusukku. Tidak kah menyakitkan ketika aku tahu bahwa kebahagiaan ini adalah sebuah sandiwara antara aku dan Mark?

Aku menggenggam tangan Mark dengan kuat saat kami bersama-sama mengucapkan janji suci pernikahan. Mark menatapku dengan seulas senyum. Tentu saja senyum itu benar-benar membuatku kehabisa nafas.

Semua ini benar-benar terasa nyata namun tak terbayangkan sama sekali olehku. Mark menggenggam tanganku dan menyisipkan sebuah cincin berkliau di jari manisku–Ia kembali tersenyum kepadaku.

Senyum Mark membuat rasa sakit di dadaku hilang dan Aku tak bisa menahan senyum bahagiaku. Sudahlah, aku tak ingin memikirkan tentang sandiwara ataupun perjanjian yang aku buat dengan Mark. Aku telah menjadi pengantin yang sangat bahagia saat ini.

Aku menyisipkan sebuah cincin dengan model serupa di jari manis Mark.

“Silahkan kedua mempelai saling berciuman sebagai suami istri”

Jantungku berdetak kencang menatap wajah itu. Jemari Mark menyentuh kulit wajahku dan entah mengapa hal itu justru menciptakan gejolak aneh dalam diriku. Aku mulai tersipu dan tersenyum menatapnya.

“Aku baru saja menyadari bahwa aku mengagumi mata-mu ketika kau tersenyum, Eunji”

Oh Mark, aku mohon jangan membuatku lumpuh di hadapan banyak orang….

Dan bibir Mark perlahan menyentuh bibirku. Bibir yang hangat yang menciumku dengan lembut. Aku menyambutnya dengan senyuman disela-sela ciuman kami dan melingkarkan kedua tanganku di leher Mark. Suara riuh tepuk tangan terdengar dan itu membuat kebahagiaanku tersmenerus meningkat.

Entahlah, ini adalah hal yang sangat membuatku bahagia. Menikah dengan Mark tidak seburuk yang aku bayangkan. Tapi apa Mark juga merasakan bahagia seperti yang aku rasakan?

***

“Yeay! Selamat untukmu, Eunji !! Aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini !!” Ucap Naeun. Kini Chorong dan Naeun memelukku dengan erat, mereka teman kuliahku.

“Darimana kau mendapat suami setampan itu, uh? Menyebalkan sekali!! Jika ada temannya yang juga tampan, kau harus mengenalkannya denganku!” Chorong mulai bergumam.

Aku terkekeh sambil menatapnya “ya! Kakekku yang memilihnya untuk menikah denganku. Bilang saja pada Mark sendiri jika ingin di kenalkan pada teman-temannya,” Aku melirik ke arah Mark yang sedang berbicara dengan teman-temannya dengan gembira. Mark menoleh kearahku dan mata kami bertemu–ia tersenyum kepadaku.

“Tidak kah kau lihat bagaimana ia tersenyum padamu? Aku rasa walau kau dijodohkan, ia sudah mempunyai perasaan yang berbeda terhadapmu” Suara Chorong terdengar sangat antusias.

“Tidak mungkin secepat itu” dan aku hanya tersenyum tipis.

Chorong dan Naeun berpamitan pulang dan Kerumunan laki-laki yang mengerubungi Mark sudah menghilang, kini Mark berjalan ke arah ku.

“Kau lelah?” Tanya Mark aku hanya membalasnya dengan gelengan kepala dan tersenyum tipis.

“Kau tahu? Aku rasa Jinyoung menyukai pegawai toko bunga milikmu” Mark terkekeh sambil menatap temannya yang sedang mengobrol dengan Bomi di sudut ruangan.

“Mereka terlihat lucu” aku ikut tersenyum menatap keduanya.

“Bagaimana dengan kita? Apa kita terlihat lucu jika bersama?” Mark kini menatapku dengan seulas senyum jahil nya dan kemudian menggapai tubuhku dan memeluknya.

“Ya!! Menyebalkan!” Sahutku sambil memukul pundaknya. Aku sungguh tidak mengerti dengan laki-laki ini. Mark sama sekali bukan orang yang mudah untuk di tebak. Aku tak tahu apa yang ia lakukan hanya sebatas permainan atau sungguhan. Rasanya ini sedikit menbuatku cemas. Ya! Ada apa denganku? Mengapa aku mengharapkan laki-laki ini?!

“Permisi, maaf mengganggu kalian” suara wanita yang terdengar lembut membuatku dan Mark sama sama menoleh kearahnya.

“Ah, Sunmi Noona” aku menoleh kearah Mark dan menatap laki-laki itu tersenyum kearah wanita yang berhadapan dengan kami.

Wanita itu bertubuh tinggi, berkulit putih dengan tubuh yang sangat ramping. “Selamat atas pernikahan-mu, Mark” wanita itu menjabat tangan Mark dan tersenyum manis, kemudian ia menoleh kepadaku.

“Ah, ini Sunmi noona, ia seniorku.” Ucap Mark–memperkenalkan Wanita di depannya. Tatapan mata laki-laki itu menunjukan kebanggan saat menatap wanita itu, membuatku berfikir sesuatu.

Sunmi Eonni mengulurkan tangannya kenpadaku dan menjabat tanganku sambil tersenyum “Senang berkenalan dengan-mu Eunji” sahutnya.

“Senang bertemu dengan-mu juga Eonni”

“Baiklah, aku harus berpamitan. Sampai bertemu lagi Mark, Eunji” Wanita itu melangkah meninggalkan kami namun Sorot mata Mark tak lepas dari wanita itu sampai sosoknya menghilang.

***

“Hah! Aku rasa tubuhku akan remuk” aku membaringkn tubuhku di atas tempat tidur besar yang terdapat disebuah kamar hotel berbintang yang sudah di siapkan orangtua-ku dan orangtua Mark untuk malam pertama kami. Tunggu sebentar, malam pertama?

Aku menatap Mark yang masih sibuk melepas sepatu dan kaus kakinya. “Apa? Mengapa kau melihatku seperti itu?” Tanya Mark saat menyadari sepasang mataku menatap lekat ke arahnya. Astaga, laki-laki itu benar-benar tampan. Apakah ini sebuah keberuntungan untukku–mendapatkan suami tampan seperti Mark? Hanya satu kekurangan disini. Mark tidak mencintaiku, dan aku tidak mengerti perasaanku terhadapnya.

Aku menggelengkan kepalaku dan memejamkan mataku karena rasa lelah yang menggerogoti tubuhku saat ini. Tanpa ku-sadari Mark kini duduk dipinggir tempat tidur dan kemudian membaringkan tubuhnya di sebelahku.

“Mark, aku boleh bertanya sesuatu?” Aku menoleh kearah Mark yang sedang memejamkan matanya.

“Tentu saja, istriku” jawabnya sambil menyunggingkan senyum manisnya.

“Kau dan Sunmi Eonni……”

Belum sempat aku melanjutkan pertanyaanku, Mark sudah menjawabnya “Dia seniorku. Ya, kami memang sempat menjalin hubungan yang sangat dekat, tapi sekarang sudah berakhir.”

“Kau mencintainya?” Tanyaku ragu-ragu, bahkan aku tidak tahu mengapa aku menanyakan hal ini pada Mark.

“Dulu mungkin iya.”

Mendengar jawaban Mark rasanya sesuatu telah menghantam tubuku. Entahlah, rasanya iri mendengar wanita itu berhasil membuat Mark jatuh cinta dan dapat merasakan cinta dari Mark.

Aku hanya terdiam tanpa bertanya lagi. Aku mengalihkan wajahku kesisi lain.

Aku bisa merasakan laki-laki itu tersenyum saat menatapku sekarang. Jemari Mark terkait di antara jemariku dan laki-laki itu menggenggam tanganku.

“Mengapa? Kau cemburu?”

Iya aku cemburu, Mark. Karena kau tidak mencintaiku seperti kau mencintai Sunmi Eonni dulu.

Astaga apa yang terjadi denganku? Apa aku mulai merasakan perasaan ini terhadap Mark? Apa aku sudah mulai mencintai laki -laki ini?

Aku hanya takut Mark tidak merasakan apa yang aku rasakan, karena ini hanya sebuah permainan.

“Tidak perlu cemburu, kau kan istriku” ucapnya seakan ia bisa membaca pikiranku dan dengan sekejap lengan mark melingkar di tubuhku dan memelukku erat. Nafasku terhenti beberapa saat dan jantungku sungguh berdetak cepat saat ini. Aku menatap mark yang memejamkan matanya tanpa melepaskan pelukannya padaku.

Hampir saja aku terhanyut dalam suasana ini namun aku menyadari bahwa ini semua salah. Mark hanya berpura-pura denganku, bukan?

“Ya!! Hentikan! Kau menyakiti ku!” Aku mendorong tangan Mark agar menjauh dariku.

Mark menatapku dengan wajah yang bingung. “Ada apa denganmu? Apa aku berbuat sesuatu yang salah?”

Aku segera bangkit dari tempatku tanpa menatapnya sama sekali. Mengapa dadaku sakit? Ayolah! Aku harus sadar dengan keadaan yang nyata!

“Eunji?” Suara itu ternger pelan dan tangan yang hangat menggapai pergelangan tanganku.

“Lupakan Mark. Kau ingat perjanjian kita? Hanya untuk membahagiakan orangtua kita,bukan? Kau tidak……”

Kau tidak mencintaku

Aku menghentikan ucapanku. Bodoh! Aku tidak boleh mengemis cinta pada laki-laki ini “Sudahlah aku lelah.”

Aku menarik tanganku dari genggamannya dan segera berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Dan malam itu kami lewati tanpa ada sepatah kata sedikitpun.

***

“Apa kalian menyukai Apartement ini?” Mrs.Tuan dan ibu benar-benar sudah menyiapkan segala yang aku dan mark perlukan.

“Ibu apa ini tidak terlalu berlebihan” aku menatap ibuku yang tersenyum puas melihat ruangan apartement yang sudah tertata rapih. Apartement yang akan menjadi tempat tinggalku dan Mark.

“kami sudah memikirkan ini semua dari jauh hari. Anggap saja ini adalah hadiah pernikahan dari kami” ucap Mrs.Tuan menjelaskan.

Aku menatap Mark yang tak merespon apapun. Sungguh, laki-laki itu bertingkah aneh lagi seperti saat pertamakali bertemu denganku. Semenjak pertengkaran kami beberapa waktu yang lalu ia tak banyak berbicara. Hal ini sungguh membuatku semakin cemas, semakin laki-laki itu terdiam, rasanya aku semakin ingin bersamanya dan mengenalnya lebih jauh.

“Sebaikanya ibu istirahat saja dirumah. Sudah aku bilang bahwa aku dan Eunji bisa menata ruangan ini tanpa bantuan yang lain.” Mark menatap ibunya dengan tatapan Khawatir. Apa Mrs.Tuan sedang sakit?

“Mark benar. Mengapa kalian harus repot-repot melakukan ini? Mark sebaiknya kau mengantar mereka pulang” aku menatap Mark dan ia menganggukan kepalanya.

**

Bunyi suara pintu Apartement membuatku menoleh kearahnya dan menemukan Mark yag masuk dengan wajah yang sangat muram. Aku memang tidak berani bertanya apa-apa kepadanya sejak malam itu, bahkan aku tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan kami.

Mark duduk tepat di sebelahku, mengisi bagian kosong pada sofa besar yang terletak di ruang TV Apartement kami. Ia menghela nafasnya dan menyenderkan kepalanya pada batalan besar yang mengganjal punggungnya. Aku ragu-ragu untuk menatapnya.

“Apa kau masih marah padaku?” Suara Mark terdengar pelan namun dapat membuat jantungku berdetak cepat.

Aku menggelengkan kepalaku “Tidak seharusnya aku marah padamu, Mark”

Ia masih memejamkan mata. Aku tahu sesuatu telah terjadi padanya. Ia menghela nafasnya lagi namun sekarang terdengar lebih berat. “Kau tahu, Eunji? Ibuku sakit.”

Mendengar apa yang di ucapkan Mark membuat dadaku sesak dan aku tak bisa berkata apa-apa. Bayangan Mrs.Tuan berputar di otakku.

“Kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Mungkin kau menganggap-ku laki-laki yang angkuh,tidak sopan. Tapi pada saat itulah aku baru saja mengetahui bahwa ibuku sakit dan aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk bisa tersenyum didepan banyak orang” Suaranya kini terdengar semakin bergertar.

Mark terdiam sambil menutupi matanya dengan salah satu tangannya. Ia mengatur nafasnya dan mencoba untuk tidak terlihat lemah. Astaga, Mark! Kau tak perlu berusaha untuk terlihat kuat di depanku! Siapa bilang laki-laki tak boleh menangis,uh?

Aku mengulurkan tanganku untuk menggapai tangan Mark yang terkulai lemas di atas sofa. Aku menggenggam tangannya dengan kuat.

Ada aku disini, Mark..

“Aku dan Ayahku juga tahu bahwa waktunya akan semakin dekat dan tubuh Ibu akan semakin melemah. Demi Tuhan, aku tak mau kehilanhan ibuku, Eunji” ia menggenggam tanganku semakin erat dan tubuhnya kembali bergetar.

Aku tak bisa membendung airmataku sendiri. Mengetahui hal ini dan melihat Mark menangis membuat aku juga ikut tersayat.

Aku menarik tangan Mark dan memeluk tubuh laki-laki itu yang semakin terisak namun masih tetap berusaha menyembunyikannya dariku.

“Menangislah” ucapku dan membiarkan mark menyandarkan kepalanya di bahuku.

Ini memang hal yang berat yang harus ia hadapi, termasuk hal yang berat yang harus aku hadapi juga. Mrs. Tuan adalah sosok yang baik, yang akan melakukan apapun yang terbaik untuk keluarganya, wanita yang hangat dan penuh dengan kasih sayang, bahkan aku merasakan kasih sayangnya terhadapku.

Laki-laki itu memeluk tubuhku semakin erat sampai akhirnya ia bisa mengendalikan tangisnya sendiri. “Aku hanya ingin membuat Ibuku bahagia, Eunji.” Gumamnya pelan tanpa melepas pelukannya padaku.

“Aku mengerti dan itu yang harus aku lakukan juga”

***

Aku dan Mark memulai kehidupan rumah tangga kami dengan sangat baik. Mark memang Pria yang sangat baik dan bertanggung jawab dalam segala hal. Keseharian kami juga tak luput dari senyuman bahagia. Mulai dari menjalani keseharian sebagai penerus perusahaan keluarga Tuan dan toko bunga milik keluarga Jung, keduanya kami lewati dengan sangat kompak. Semua itu kami lakukan untuk membuat Mrs. Tuan bahagia melihat pernikahan putranya, namun tak hanya Mrs.Tuan yang bahagia, aku juga sangat merasa bahagia menjadi istri Mark.

3 bulan berlalu sejak pernikahan kami dan saat itu pula kondisi Mrs.Tuan semakin memburuk sampai akhirnya Mrs.Tuan meninggalkan kita semua.

Rintik-rintik hujan kecil menghiasi langit mendung, persis seperti kondisi keluargaku dan Mark. Aku menatap Mark yang masih menyesap teh hangat yang aku buatkan setelah kami sampai di Apartement. Mark terlihat jauh lebih tegar dibandingkan sebelumnya namun kesedihan memang tak bisa terhapus begitu saja dari wajahnya.

“Kau baik-baik saja, Mark?” Tanyaku sambil mengusap pelan bahunya. Ia tersenyum tipis dan menatapku. “Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir” ia memeluk tubuhku erat. Oh Astaga, aku kini dapat merasakan diriku yang terasa nyaman berada di dekat Mark. Aku Mencintai Mark.

“Eunji?”

Aku menoleh kearah Mark yang menatapku lekat. Mark tersenyum kearahku. “Terimakasih telah membuat ibuku bahagia”

Aku membalasnya dengan sebuah senyuman. “Sudah seharusnya aku melakukan itu. Aku menantu kesayangannya bukan?” Jawabku sambil terkekeh.

“Kau memang menantu dan istri yang sangat baik, Eunji” ucap Mark menambahkan pujian untukku. Seketika senyum di wajah Mark meredup membuatku sedikit merasa cemas.

“Sekarang, kau bisa menuntutku cerai, seperti kesepakatan kita. Terimakasih kau sudah membantuku, Eunji”

Aku menatap Mark tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Jangan ingatkan aku dengan hal itu, Mark. Tubuh ini rasanya kaku dan hatiku merasa tersayat. Semua ini mengingatkanku pada kenyataan yang ada.

Apa kau sungguh ingin berpisah denganku? Apa kau tidak merasakan apa yang aku rasakan?

Aku mencintaimu, Mark.

***

“Selamat pagi !!” Ucapku saat menatap Mark yang duduk di meja makan masih dengan wajahnya yang terkantuk.

“Wanginya enak sekali, Apa yang kau masak,hm?” Ia menyunggingkan senyumnya. Senyum yang sampai sekarang berhasil membuatku kehabisan nafas.

“Roti dan Ayam panggang, makanlah” aku duduk di hadapannya dan menatap wajah Mark yang bahagia saat mengunyah makanan yang telah aku siapkan.

Bagaimana aku bisa menghilangkan moment bahagia seperti ini dalam hidupku jika aku berpisah dengan Mark?

“Mark, boleh aku bertanya?”

“Tentu saja” ia menganggukan kepalanya dan menatapku dengan wajah bertanya tanpa menghentikan kegiatan mengunyahnya.

Pertanyaan yang sejak lama ingin aku tanyakan, namun tak pernah ada keberanian untuk menanyakin ini pada Mark.

“Apa kau mencintaiku?” Tanyaku dengan suara pelan sambil menundukan kepalaku.

Aku tahu kini Mark terdiam dan meletakkan garpu yang sedang ia gunakan ke sisi piring sarapannya. Apa itu artinya ia tidak mencintaiku? Bahkan ia tak berkata apa-apa. Ini sangat menyakitkan.

“Aku belum bisa berkata apa-apa” ucapnya pelan dan saat itu juga ia mengangkat tubuhnya, pergi meninggalkan sarapan miliknya dan meninggalkan aku disini.

***

“Ya! Eunji !! Mengapa kau terlihat sangat murung? Apakah kau sedang bertengkar dengan Mark? ‘Pertengkaran Tempat Tidur’? Kkkk” Bomi menyenggol lenganku dan terkekeh saat aku termenung sambil menatap barisan bunga warna-warni di toko kami.

“Errhh apa maksudmu, eh? Jangan berfikir aneh-aneh! Aku tak apa-apa Bomi.” Jawabku mengelak. Sungguh, memikirkan ini membuat perasaanku semakin kacau.

“Bagaimana hubungan pernikahanmu? Sepertinya kalian sangat cocok” Bomi menatapku sambil tersenyum menunggu jawabanku.

“Entahlah, mungkin kami akan bercerai.” Aku menundukan kepalaku sambil memainkan sebuah kertas yang tergeletak dimeja kasir.

“Tidak mungkin! Selama ini kalian baik-baik saja! Mark juga terlihat sangat mencintaimu” Bomi menatapku dengan mata yang terbuka lebar. Bomi pasti sangat terkejut.

Aku menghela nafasku dan menatap bomi dengan tatapan sedu “Pernikahan kami hanya sebuah perjanjian Bomi, Tidak lebih”

“Kau pasti bergurau,Eunji ! ” Bomi menatapku semakin tak percaya.

Aku hanya mengangkat bahuku dan menyenderkan tubuhku di kursi.

“Kau mencintai Mark?” Tanya Bomi dan kini menatapku dengan serius. Aku menatap tanpa memberi jawaban. Menyadari aku benar-benar mencintai Mark membuatku semakin buruk.

“Iya. Tapi dia tidak mencintaiku,Bomi”

“Apa kau yakin?”

“Dia bahkan tak menjawabnya ketika aku bertanya” jawabku pasrah.

“Aku pikir sebaiknya kau tidak terlalu cepat mengambil keputusan”

Aku menatap Bomi dengan bingung. “Maksudmu?”

Tiba-tiba saja posel bomi berdering membuat percakapan kami terhenti. Setalah beberapa saat berbicara di telepon, akhirnya Bomi mengakhirinya.

“Eunji, ada masalah pada daerah kebun bunga Mawar ungu, sepertinya ada hama yang merusak tanaman itu, semuanya mati. Bagaimana kalau kita mengeceknya?” Bomi menatapku dengan serius sambil menaruh ponselnya di kantung.

“Benarkah?!” Sahutku panik.

Bomi menganggukan kepalanya. Segeralah kami menuju perkebunan bunga milik kelurgaku. Astaga! Cobaan apalagi yang menimpaku?

Aku dan Bomi berjalan tergesah-gesah menuju kebun Mawar Ungu. Tiba-tiba saja langkahku terhenti ketika aku melihat rangkaian bunga mawar ungu membentuk sebuah tulisan di hadapanku.

‘Please stay with me, Eunji’

Aku terdiam terpaku ketika menyadari seseorang berdiri di tengah-tengah kebun mawar ungu sambil menggenggam sebuah buket dengan bunga serupa.

Mark itu kah kau?

Laki-laki itu menatapku dengan senyuman yang merekah. Kini aku tak bisa lagi menahan haru ketika melihat Mark disana.

“Hai istriku. Maaf menbuat kacau kebun bunga milikmu” ia tersenyum lagi dan berjalan menghampiriku. Aku masih saja terpaku dan tak tahu apa yang terjadi saat ini.

“Ada yang belum sempat aku ucapkan kepadamu setelah kita menikah” ucap Mark.

Jemari Mark yang hangat menyentuh pipiku. “Aku menyadari bahwa aku sangat mencintaimu, Eunji. Bahkan aku tidak perduli dengan perjanjian yang kita buat” iya mengusap pipiku membuat rasa hangat itu menjalar terus ke hatiku. “Bunga mawar ungu, ungkapan cinta pada pandangan pertama,bukan? Dan begitulah denganku saat pertamakali bertemu denganmu” lanjutnya lagi.

“Kau bodoh, Mark! Kau bodoh! Aku benci padamu” Ucapku sambil memukul dadanya. “Aku pikir kau tidak mencintaiku!” Aku memeluk Mark erat. Aku benar-benar tidak mau berpisah dengannya. Aku ingin menghabiskan waktuku dengan Mark.

“Kau tidak akan menceraikan ku, bukan?” Ia menatapku dan terkekeh.

“Errrr menyebalkan! Tidak dan tidak akan pernah!” Aku penggapai wajah Mark dan menariknya mendekatiku sampai aku dapat mencium bibirnya dengan lembut. Mark menyambutku dengan senyuman dan memeluk pinggangku erat.

“Aku mencintaimu, Mark” bisikku pelan.

“Tetaplah menjadi istriku, Eunji”

“Tentu saja”

.

.

.

“Ya! Kau akan membayar semua bunga yang kau gunakan, bukan? Kalau tidak, toko bungaku akan bangkrut karenamu! ” Aku menatap Mark dengan wajah kesal, tidak sadar aku menggigit bibirku.

“Ya! Ini kan untukmu juga, untuk apa aku membayarnya? Hahaha”

“Mengebalkan!!”

“Ya! Hentiman menggigit bibirmu?!”

“Memangnya kenapa?”

“Kau membuatku ingin menciummu!”

“Coba saja kalau berani?!”

Aku merekahkan senyumku sambil menatap Mark. Ia menggapai wajahku dan menciumku dengan manis.

END

Iklan

8 pemikiran pada “Mark x Eunji : Purple Rose

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s